Jakarta - Saya "mendengar dan melihat langsung" dari siaran Kompastv. Rabu (7/7/2021) sekitar pukul 17.25 Wib. "Jangan sampai negara kita disebut sebagai 'Failed Nation' akibat ketidakmampuan negara selamatkan rakyatnya," "ungkap Ibas" dalam cuitannya di kompastv.

Dalam penelusuran berita sebelumnya (6/7/2021). Bahwa Wakil ketua umum "Waketum Partai Demokrat" Edhi Baskoro Yudhoyono atau lebih dikenal "Ibas" "mempertanyakan kapan Indonesia bebas dari ganasnya pandemi 'Virus Corona' ". Selain menjadi Waketum Partai Demokrat "Ibas" menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, ini tidak ingin Indonesia sampai disebut 'Bangsa Gagal' atau 'Failed Nation' ".
*** 
Lanjutan informasi yang disampaikan oleh "Ibas" tidak ingin bangsa Indonesia menjadi "Failed nation" atau negara yang gagal dalam menangani pandemi Covid-19. Masalah Covid-19 ini semakin 'mengganas' keluarga, sahabat dan di lingkungan kita yang terpapar bahkan meninggal dunia". Menjadi kekhawatiran, karena lonjakan dan kasus virus corona makin hari kian meningkat.

Komentar serius juga yang disampaikan oleh "Ibas", "mengapa?" Setelah di vaksinasi masih banyak yang terpapar Covid-19. 'Harapannya' agar pemerintah jangan ragu menghadirkan vaksinasi yang mumpuni". Pertanyaan dan mengingatkan pemerintah "beda tipis" namun yang dikemukakan oleh "Ibas" lebih kritis dan mengajak pemerintah agar lebih cepat dalam penanganan Covid-19 dan mencari solusi "harus" berdampak signifikan yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Selanjutnya "debat keras" yang disampaikan oleh Beny K Harman (Sebagai Anggota DPR Indonesia Fraksi Partai Demokat) dengan Ali Mochtar Ngabalin (Sebagai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) dan menjabat juga di Kementerian Kelautan dan Perikanan). "Keduanya saling membantah seolah-olah tidak ada yang dipermasalahkan, dalam situasi seperti ini seharusnya tetap optimis dalam menyikapi situasi "emergency Covid-19".

Penilaian Beny K Harman "pemerintah tidak berdaya dalam penanganan Covid-19, masih banyak yang terpapar, penyediaan tabung oksigen dan obat-obatan 'Virus Corona' masih sulit didapatkan serta pelayanan 'Rumah Sakit' yang masih kurang". Justru pemerintah Indonesia membantu atau support negara India pada periode bulan lalu yang sedang krisis "tabung oksigen" terhadap masyarakat India tersebut. Ini menjadi perdebabatan yang belum ada akhirnya, sehingga selalu ada pertentangan atau perlawanan "persepsi kata-kata dan pikiran" oleh masyarakat Indonesia.

Apa yang disampaikan oleh "Beny K Harman" ditanggapi oleh "Ngabalin" statmentnya "negara yang besar pasti memikirkan rakyat Indonesia dalam penanggulangan Covid-19. Membangun 'International spirit' bahwa bantuan ke negara India diketahui juga oleh DRR. Hal ini, dianggap bagian dari komitmen 'multiralisme' dengan kegiatan tentang 'public private partnership' untuk kementerian perindustrian internasional. Sehingga menciptakan 'community' solidaritas dan gotong royong".
*** 
Sesungguhnya hak-haknya DPR untuk terus bersuara dan partai politik juga ikut berteriak "paling tidak" ikut serta memotivasikan agar terus bekerja keras karena hitungannya bukan hanya untuk sehari atau dua hari kedepan, namun untuk masa akan datang terutama dalam mengatasi pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai, yang saat ini diperketat dalam memberlakukan "PPKM Darurat".

"Beny dan Ngabalin" bagian dari menaggapi apa yang menjadi kritikan "Ibas" dalam tanggapan tersebut "diatas" memang kedua saling memaksa menunjuk "manuver" kemenangan untuk memberikan pertanyaan dan jawaban. Apa yang dikomunikasikan seakan-akan selalu benar dengan tidak mempedulikan satu sama lain "artinya" keduanya seharusnya mencari "solution" dari setiap "problem" dalam hal ini, tentunya apa yang menjadi pengamatan "Beny K Harman" dan apa yang menjadi jawaban dari "Ali Mochtar Ngabalin". Pasti berbeda pandangan.

"Lantas" mengapa kritikan bisa terjadi, hal yang wajar juga sebab dengan "analisa fenomena" terhadap situasi Covid-19. Belum menemukan  solusi yang tepat untuk "menyingkirkan dan melenyapkan Virus corona" lonjakan Covid-19 makin menggila, kian hari banyak yang terpapar bahkan meninggal dunia, Covid-19 makin merajarela dan pengamatan lain bahwa mulai dari "akhir bulan Juni sampai awal Juli situasi sangat mencekam" dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang meninggal dunia.

"Hal ini saya menyaksikan sendiri" melalui pantauan media sosial "whatsapp group" setiap hari ada saja yang meninggal dunia baik itu sahabat dekat, orang tua sahabat, dan keluargnya sahabat. Situasi lainnya saat saya keluar rumah pasti ada saja melihat di setiap "gang rumah atau perumahahan warga sekitar" terpasang "bendera kuning" yang menandakan ada kabar berduka. "Innalilahi wainnailahi rojiun". Virus corona "tidak pandang bulu" siapapun bisa terpapar  baik dari usia, bagi yang tidak menjalankan protkol kesehatan, dan memang sudah ada riwayat penyakit bawaan.

Kegelisaan masyarakat menjadi "pertanyaan besar dan selalu bertanya-tanya juga"? apa yang dikemukakan "Beny K Harman" mengapa belum ada perubahan yang cepat dalam penanganan Covid-19.

Seperti kita ketahui bersama "pemerintah" sudah melakukan semaksimal mungkin baik dari penerapan protokol kesehatan '3M sampai dengan 5M, menerapkan 3T menetapkan kebijakan PSBB, PPKM mikro, sampai dengan penerapan PPKM Darurat. Namun, hal apa yang perlu di "evaluation dan improvement" apakah dari peraturan, pemerintah, masyarakat, atau lainnya tentunya ini menjadi keputusan pemerintah untuk mencari solusi atau jalan keluar yang membawa perubaban.

Jika pertanyaan "Ibas" dan kritikan "Beny" tertuju kepada pemerintah, justru "menunjuk jari kepada diri sendiri" karena sebagai "Anggota DPR RI" bagian dari pemerintahan yang ikut berkontribusi menetapkan kebijakan dan "solution mitigation" serta mencari jalan alternatif untuk penanganan dan penanggulanvan Covid-19. Namun pemerintah pusat harus menyadari juga, hal apa saja yang perlu diberikan "respon secara tepat dan akurat" agar semua elemen masyarakat dan pemerintah lainnya bisa berkolaborasi dalam mencegah Virus corona.

"Kelebihan dan kekurangan dari setiap kritikan" pasti menjadi sebuah "rilekasi, koreksi, dan infropeksi" terutama terhadap pemerintah maupun yang memberikan kritikan tersebut. "Artinya" ketidakpuasan bagi yang mengkrtik karena belum bisa dirasakan yang maksimal, sehingga menjadi dorongan cepat dalam tindakan dari setiap penanganan dan penanggulangan Covid-19. Siapapun boleh mengkritik, siapapun boleh berpendapat, siapapun wajib memberikan ide yang positif terhadap permasalahan yang dihadapi.

Nah, pada intinya kita mengetahui, dari hal tersebut diatas menjadi kekuatan bersama dalam meniliai kegiatan dalam penanganan Covid-19. Yang mana saat ini masih terus berjuang dan "mencari strategy" yang ampuh dalam mengusir Virus corona, bebas, aman, nyaman, dan sehat menjadi impian masyarakat Indonesia. 

Penulis : Noto Susanto