Senin, 29 Januari 2018, berlangsung acara pengumuman pemenang lomba esai Cerita tentang Kertas kerja sama Qureta dan APP Sinar Mas. Lomba ini menuai antusiasme yang tinggi dari masyarakat. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya jumlah tulisan yang masuk, mencapai 700 esai.

Dalam sambutannya, Direktur APP Sinar Mas, Suhendra Wiriadinata, memandang antusiasme yang tinggi sebagai kabar baik sekaligus mengejutkan untuk industri kertas. Melihat jumlah yang cukup banyak itu, maka tujuan umum dari kegiatan ini sudah terpenuhi.

“Tujuan lomba ini untuk menggali persepsi masyarakat terkait industri kertas di era digital, juga untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang industri kertas yang berkelanjutan. Kita tahu, industri kertas adalah ekspor unggulan Indonesia, karenanya berkontribusi besar terhadap perekonomian negara. Masyarakat perlu mengetahui ini secara luas," ungkap Suhendra. 

Lomba penulisan esai ini merupakan kegiatan lanjutan dari rangkaian program kerja sama APP Sinar Mas dan Qureta. Sebelumnya telah diadakan workshop, fieldtrip, dan kelas menulis di tiga kota besar yang mendekati kawasan industri kertas milik APP Sinar Mas, yakni Pekanbaru, Surabaya, dan Jambi. 

Adapun tujuan program tersebut adalah untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat tentang esksistensi dan proses kerja industri kertas. Masyarakat juga perlu tahu bagaimana industri kertas itu dikelola secara berkelanjutan, dari hulu ke hilir.

"Untuk itu kegiatan workshop perlu diteruskan dan diperluas ke kota-kota lain yang potensial, seperti di Palembang," tambahnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Luthfi Assyaukanie, CEO Qureta. Ia menjelaskan pentingnya mereplikasi kegiatan serupa di banyak kota di Indonesia.

"Selain memberi pemahaman dan informasi tentang industri ini, kita juga perlu mengajak anak-anak muda di seluruh Indonesia agar melek literasi dan terdorong untuk terus menulis. Qureta telah memiliki platform user generated content, yang sejauh ini cukup optimal untuk mewujudkan tujuan tersebut," terang Luthfi.

Purwadi Soeprihanto, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), pun mengharapkan hal serupa. Ia berharap program seperti ini terus dilanjutkan.

Ia juga mengungkapkan, selama menjadi pembicara untuk tiga workshop tersebut, banyak inspirasi yang diperolehnya, terutama melalui dinamika diskusi di ruang kelas. 

“Menjadi tugas kita bersama untuk mengedukasi publik demi melakukan perubahan. Banyak isu-isu di seputar industri kertas yang mengemuka selama workshop, yang tidak terinformasikan dengan baik, sehingga yang timbul adalah persepsi-persepsi yang tidak terlalu tepat."

Karena itu, harapnya, semoga kegiatan yang sama bisa dilakukan di kota-kota lain, meskipun tak terdapat kawasan industri kertas milik APP di sana. Karena publik di provinsi lain pun perlu mendapatkan pemahaman yang baik terkait industri kertas ini.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Aryan Warga Dalam, memandang kegiatan workshop dan lomba menulis esai ini bisa membawa pengaruh positif untuk industri kertas. Menurutnya, menulis bukanlah pekerjaan yang mudah.

"Menulis satu surat saja bisa sangat sulit bagi kalangan tertentu. Padahal tulisan bisa berpengaruh kuat dalam penyebaran informasi. Untuk itu, pelatihan dan lomba esai ini penting bagi sektor industri kertas. Semakin banyak tulisan yang mengangkat tema ini, maka penyebaran informasi terkait industri kertas bisa masif dan tentunya berguna bagi masyarakat luas."

Setelah beberapa sambutan, tiba saatnya pengumuman para pemenang lomba esai Cerita tentang Kertas. Penjelasan terkait mekanisme penjurian disampaikan Daru Priyambodo, Redaktur Senior Tempo, mewakili dua juri lainnya, Emmy Kuswandari (Manajer Komunikasi Global APP Sinar Mas) dan Luthfi Assyaukanie (Qureta).

Daru Priyambodo bercerita bahwa selama beberapa kali menjadi juri untuk berbagai lomba kepenulisan, ada hal menarik yang didapatinya dari lomba kali ini, yakni antusiasme yang tinggi dari publik.

Semula ia menduga bahwa tema tentang kertas tidak akan memancing minat para penulis. Namun, dengan terbitnya 700 tulisan yang diikutsertakan dalam lomba ini, dugaannya ternyata meleset.

Daru juga menjelaskan tentang dinamika penjurian yang cukup menguras energi para juri. Meski juri hanya menyeleksi 25 naskah yang merupakan pilihan editor, namun esai-esai tersebut memiliki kualitas yang sama baiknya dan karenanya proses penjurian tidak begitu mudah. 

Setelah melewati proses penilaian yang ketat, akhirnya juri menetapkan para pemenang. Berikut ini adalah daftar pemenang juara 1, 2, dan 3 serta delapan finalis pilihan juri: 

 Dan delapan finalis lainnya adalah:

M Musa Al Hasyim - Dunia Imajinasi Itu Bernama “Kertas”

Faustinus Handi - Benarkah "Paperless" Lebih Hijau?

Miftah Risal - Argumen Memasabodohkan Paperless Society

Riandy Aryani - Ganja, Penebus Dosa Mahasiswa terhadap Kerusakan Hutan

Keszya Graciella - Gara-Gara Paperless Society, Industri Kertas Meredup

Lelly Andriasanti - Hilangkan Kecanduan Gadget pada Balita dengan Kertas

Zanial Fahmi Firdaus - Hidup tanpa Kertas, Bijakkah?

M Yusuf - Pulp dan Kertas, Produksi yang tak Pernah Usai

Ongky Arista UA sebagai juara I lomba ini menerangkan bahwa setiap kali menulis, tak ada yang ia harapkan selain tulisannya bisa bermanfaat bagi orang lain. Ia mengaku belajar menulis secara otodidak dengan memanfaatkan Facebook sebagai mediumnya. Hingga Facebook miliknya telah mencapai 700 halaman berisi ide-ide yang ia tulis sejak tahun 2014. 

Ongky menjelaskan, tulisan yang ia sertakan dalam lomba adalah kritik sosial atas fenomena selama ini, bahwa kertas yang hadir di tengah kita hanya dipandang sebagai ladang untuk menulis.

"Ada makna yang lebih esensial dari keberadaan kertas, yaitu mengingatkan kita agar tidak mudah berbuat salah."

Gagasan Ongky tersebut mengkritisi masyarakat yang kini telah bergantung pada teknologi, yang menurutnya banyak menolelir kesalahan-kesalahan. Teknologi edit pada setiap perangkat cerdas, laptop ataupun smartphone, membuat kita sering mengabaikan kesalahan-kesalahan dalam menulis. 

Karena itu, tulisan-tulisan yang terbit di media daring, sering kali memuat berbagai kesalahan, kesalahan ketik atau typo, misalnya, yang itu tidak banyak terjadi pada tulisan-tulisan yang dimuat di media cetak. 

“Sesuatu yang kita mulai dengan kertas secara langsung, membutuhkan konsentrasi yang tinggi, butuh kajian mental, dan satu lagi, kita tidak mudah berbuat salah." 

Maka, pesan yang ingin ia sampaikan dalam tulisannya:  

"Seperti judul tulisan saya, Paperless Society, Dunia yang Kelebihan Maaf, hendaknya kita tidak mudah melakukan kesalahan meskipun ada maaf di setiap akhir dari kesalahan itu. Maka lewat tulisan ini, saya menjadi sadar bahwa keberlanjutan dari upaya-upaya yang dilakukan APP ini merupakan keberlanjutan dan tuntutan agar kita semua berhati-hati untuk tidak mudah membuat kesalahan," pungkas Ongky. 

Qureta dan APP Sinar Mas mengucapkan selamat kepada para pemenang dan finalis. Teruslah menulis dan menginspirasi.