66188_68555.jpg
beritaharian.sg
Cerpen · 6 menit baca

Pembunuh Tikus

Sudah sejak lama rumahku menjadi sarang tikus. Bila dihitung, hal itu terjadi sejak lima tahun yang lalu—tepatnya semenjak Kek Warsito, kakekku, meninggal dunia karena penyakit stroke. 

Rumah warisan mendiang Kek Warsito memang terbilang tua. Lantai yang terbuat dari tegel sudah banyak yang rusak. Dindingnya retak. Cat putihnya mulai luntur dikikis air hujan yang masuk melalui celah-celah genting yang pecah di bagian sudut timur rumah.

Tikus-tikus itu selalu meresahkan keluarga kami. Mereka acap kali mencuri makanan di dapur. Bapak pernah memergoki empat ekor tikus sedang menggerogoti tempe bungkilnya di atas meja makan—sesudah berhasil mengerat tudung saji hingga meninggalkan lubang yang menganga. 

Begitu tahu, mereka kalang kabut. Berlarian ke setiap sudut-sudut rumah. Itulah sebabnya kenapa bapak sangat membenci tikus. Tikus menjelma menjadi musuh bapak yang nyata.

Selain itu, tikus juga sering makan tanaman padi di sawah bapak. Tikus dapat menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi karena serangan tikus hampir terjadi di setiap musim tanam. Tikus mampu merusak padi pada berbagai tahap pertumbuhan. Bahkan, tikus juga menyerang tempat penyimpanan padi, sehingga dapat menimbulkan kerugian yang tinggi bagi para petani seperti bapak.

Tikus-tikus itu biasanya bersembunyi di bawah dipan tua warisan kakek. Dipan itu terletak di dapur, bagian belakang rumah. Bapak meletakannya di sana karena dipan sudah tak terpakai. Kayunya sudah banyak yang lapuk lantaran dimakan rayap. Jika diduduki, terdengar bunyi, “Kreeekk.”

Setiap bakda magrib, bapak selalu menunggu tikus-tikus itu keluar dari balik dipan. Biasanya, bapak sambil membawa sebilah buluh di tangan kanannya. Buluh itu digunakan untuk membunuh tikus.

Aku selalu menemani bapak berjuang membasmi binatang pengerat itu. Biasanya, aku yang menunjukkan posisi tikus itu saat keluar dari balik dipan. Lalu, bapak dengan cekatan memukulnya.

Bapak seperti sudah mengetahui strategi licik si tikus. Tikus itu selalu mencari makananan di dapur-membawanya-menyembunyikannya-lalu memakannya di bawah dipan tua itu. Selalu saja begitu. 

Sialnya, bapak selalu gagal membunuhnya. Kegesitan tikus lebih unggul daripada kecekatan bilah buluh menghantamnya. Apabila gagal, bapak selalu bilang, “Sialan!”

Merasa tak mempan dengan bilah buluh, suatu waktu bapak memasang perangkap tikus di seluruh sudut ruangan yang sering dilalui oleh tikus, terutama di balik dipan tua milik Kek Warsito.

“Membunuh tikus memang harus sabar. Binatang pengerat itu memang gesit larinya. Kita tak mungkin bisa mengejarnya. Maka, bapak memasang perangkap ini,” jelas bapak sembari menaruh satu perangkap di bawah dipan.

“Itu perangkapnya dikasih tongkol ya, Pak?”

“Ini untuk memikat si tikus supaya mendekati perangkap. Kita tak perlu memberinya tongkol utuh, cukup kepalanya saja.”

“Bapak, kok, dapat tongkol?”

“Oh, iya. Tadi bapak membelinya di warung Mbok Parti, utara rumah kita. Malam ini kita makan agak enak ya. Sudah lama sekali kita tak makan ikan,” bapak terlihat bahagia sekali.

Demi membunuh tikus, bapak rela membeli tongkol. Sungguh makanan yang jarang kami makan selama tiga bulan ini. Terakhir kali makan tongkol, pada bulan Juli yang lalu—tepatnya saat hasil panen tanaman padi bapak melimpah.

“Iya, Pak,” pungkasku.

***

Sudah seminggu sejak pemasangan perangkap, aku tak pernah menemui tikus keluyuran di rumah. Kupikir, bapak telah berhasil membunuh tikus-tikus itu. Sore ini, bapak duduk di atas dipan tua. Ia membawa secangkir kopi dan sebatang cerutu. Aku duduk di sampingnya. Sore yang menyenangkan. Menikmati senja sambil bercengkerama bersama bapak tanpa diusik tikus.

“Mana si keparat itu?” bapak menanyakan keberadaan si tikus. Ia duduk bersila di atas dipan. Buluh diletakan di samping kanannya. “Tanganku sudah gatal untuk memukulnya.”

“Tak tahu, Pak. Hari sudah menjelang magrib, tapi aku tak menemui tikus-tikus itu keluruyan,” aku menggeleng-gelengkan kepala.

“Kemungkinan besar mereka sudah mati. Baguslah. Aku sudah bosan hidup satu atap bersama tikus-tikus keparat itu,” tukas bapak sambil mengisap cerutunya. Ia menikmati malam. Senikmat hidup tanpa diganggu binatang pengerat.

“Suruh makmu buat nasi urap!” suruh bapak.

“Iya, Pak,” jawabku sambil beranjak dari tempat. Seperti biasa, ketika tubuhku diangkat dari dipan terdengar bunyi. “Kreeekk.”

Aku pun menemui mak yang sedang menyetrika baju di kamar. Menyuruhnya memasak urap untuk menu malam ini. Sepertinya, bapak akan merayakan keberhasilannya membunuh tikus dengan nasi urap campur tongkol—tradisi yang sering dilakukan oleh Kek Warsito.

Setelah setengah jam menanak nasi, mak menghidangkannya di atas meja beserta urap dan empat ikan tongkol. Malam ini menjadi malam terindah bagi keluarga kami. Kami merayakan keberhasilan bapak membunuh tikus dengan nasi urap dan tongkol. Bapak makan dengan porsi paling besar. Ia nampak seperti pahlawan yang dijamu raja di sebuah istana.

“Kek Warsito pernah berpesan pada bapak, kita harus merayakan keberhasilan, karena itu sebagai wujud syukur. Seperti halnya ketika bapak berhasil membunuh tikus-tikus itu,” ujar bapak, sambil menaruh kopi di atas meja makan.

Seusai makan, bapak masih berbicara kepadaku sambil mengisap cerutu. Rasa-rasanya tak ada habisnya ia berbicara. “Bapak pikir, Kek Warsito pun tak sanggup membunuh tikus. Hanya bapak saja yang sanggup,” sombong bapak.

Aku hanya menganggukkan kepala, tak berani menyela.

Semakin malam, bapak mulai berbicara mengenai Kek Warsito, sementara mak sudah tidur. Kami duduk di teras rumah; suasana yang pas ketika seorang bapak bercakap dengan anaknya. Kami merasa damai. Bapak mengeluarkan cerutunya sebelum membuka bibirnya.

“Rumah kita ini sakral. Tak pernah dimasuki oleh binatang pengganggu, selain tikus. Dulu, Kek Warsito selalu mendoakan rumah ini supaya penghuninya tenteram.”

“Pak, apa yang sering dilakukan Kek Warsito dulu selain makan nasi urap campur tongkol?” rasa penasaran mulai menyelimuti benak. Serasa tergiur dengan seluk-beluk kakek.

“Tak banyak, sih. Hanya saja, Kek Waristo dulu pernah memelihara ular jali. Kala itu, kakek sedang memanen padi di sawah. Setelah selesai, kakek pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan pulang, tanpa sengaja, kakek menemukan ular jali di bawah pohon sukun. Kelihatannya, ular itu seperti habis berkelahi dengan binatang lain. Tubuhnya berdarah. Ada banyak luka di sekujur tubuhnya. Karena iba, Kek Warsito membawanya pulang.

Beberapa hari tinggal di rumah, ular itu lambat laun semakin pulih. Ia biasa melata ke setiap penjuru rumah, dan terkadang sering membuat makmu menjerit, karena takut. Ular itu tak berbahaya, kok. Kek Warsito memperlakukannya dengan baik. Jadi, tak seliar yang dulu.”

“Kok, sekarang ularnya gak ada, Pak?”

“Ular jali itu sudah tak ada. Sejak sepeninggalan kakek, ular itu tiba-tiba menghilang di rumah ini. Entah ke mana, bapak tak tahu.”

“Yah, padahal aku ingin melihatnya,” celetukku, sedikit menyesali kepergian ular itu.

Saat ini, tak ada yang terbesit apa pun di benakku, selain bau ikan tongkol yang menyeruak ke hidung. “Oh, iya. Bapak, kok, beli empat tongkol? Satunya untuk siapa?”

“Itu untuk... ” belum sempat menjelaskan, mak memanggil bapak untuk masuk ke dalam kamar. Besok, bapak harus bangun pagi untuk mengairi padi-padinya. Aku pun mengikuti bapak; berjalan menuju ke kamarku di bagian barat, tak jauh dari kamar bapak dan mak.

“Tidurlah, Nak! Jangan begadang, besok masuk sekolah,” pesan bapak.

“Iya, Pak,” jawabku sebelum menutup pintu kamar.

***

Jam dua belas malam, aku terbangun dari tidur. Perutku kekenyangan. Ada isyarat untuk segera buang air besar. Aku beranjak dari tempat tidur. Sementara itu, kulihat bapak dan mak masih terlelap. Sepertinya, nasi urap campur tongkol telah membuainya. Membuatnya tidur senyaman sekarang.

“Sialan! Kenapa harus kebelet di tengah malam begini?” gumamku.

Suasana di luar kamar terasa dingin. Angin masuk dari jendela. Bapak lupa menutupnya. Angin itu masuk melalui pori-poriku. Membuat tubuhku menggigil. Di setengah perjalanan menuju kakus, aku melihat perangkap tikus masih ada. Kepala tongkol membusuk dimakan semut. Aneh.

Aku mengecek perangkap tikus di sudut-sudut yang lain. Hasilnya juga sama. Perangkap masih utuh, begitu pula dengan kepala tongkol yang telah membusuk. Aku jadi berpikir, kalau perangkap ini masih utuh, harusnya tikus-tikus itu masih keluyuran. Kenyataannya, tikus itu telah hilang seperti ditelan oleh bumi. Lantas, ke mana perginya tikus-tikus itu?

Malam yang dingin membuatku berpikir panjang. Berandai-andai tentang tikus. Apa mungkin tikus itu tiba-tiba kabur dari rumah tanpa sebab yang jelas? Atau tikus telah tidur. Bukan. Tikus termasuk binatang nokturnal yang aktif pada malam hari. Kalaupun aku tak mendapati tikus keluyuran di waktu bakda magrib, harusnya aku mendapatinya sekarang. Pada waktu penghuni rumah telah lelap.

Di malam yang senyap ini, aku terdiam di dapur. Kulihat, satu ikan tongkol di atas meja makan telah sirna. Tiba-tiba, aku mendengar desis binatang di bawah dipan. Ada mata yang menyala terang. Sesekali lidahnya menjulur. Tubuhnya panjang, sepanjang 2 meter. Pelan-pelan, ia berjalan melata. Malam ini, aku mulai tersadar, ternyata bukan bapak yang membunuh tikus.