Saat ini tren kehidupan masyarakat diperkotaan semakin lama semakin kompleks, seiring kemajuan zaman dan teknologi. Dampaknya adalah meningkatnya pola hidup stress yang begitu mudah melanda, bukan saja pada kaum tua,dewasa,muda bahkan anak-anak.

Pola kehidupan perkotaan yang memiliki banyak tantangan membutuhkan suatu wadah atau tempat yang dapat mereka percaya dalam mengemukakan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya, atau setidaknya satu tempat dimana mereka bisa berkumpul dan saling berbagi gagasan.

Perkembangan zaman telah membawa manusia dalam tuntutan kebutuhan baru yang harus terpenuhi, seiring perkembangan kota yang sangat pesat, sehingga para penggiat usaha melihat kopi sebagai peluang bisnis yang cukup baik untuk ditawarkan kepada konsumen (Ryanty, 2007).

Berbagai macam bidang usaha saat ini, juga sedang mengalami perkembangan, warung kopi merupakan salah satunya. Bermunculan di kota besar seperti Kota Medan. Warung kopi bermunculan di gang kecil dan pinggir jalan. Mulai dari lorong hingga ketempat yang lebih strategis mengikuti sebaran masyarakat.

Warung kopi menjadi sesuatu usaha yang dilakukan dalam berbagai usaha baik perorangan maupun kelompok sehingga berdampak kepada interaksi simbolik pada ruang dan tempat dalam melakukan sebuah diskusi, bisnis, atau hanya sekedar melepas kepenatan dalam rutinitas.

Dari sudut pandang budaya, warung kopi sebagian besar berfungsi sebagai pusat interaksi sosial yang menyediakan sebuah tempat untuk berkumpul, berbicara, menulis, membaca, menghibur satu sama lain, atau melewatkan waktu, baik secara individu atau dalam kelompok kecil anggota sosial tersebut.

Dari sudut pandang arsitektur, banyak design inovatif yang diperkenalkan melalui pembangunan warung kopi baru, yang umumnya menjadi salah satu daya tarik pertama, namun yang selanjutnya menentukan kesinambungan hidup warung kopi tersebut adalah penerimaan sosial dari masyarakat disekitarnya, dan karena masyarakat adalah sekumpulan pribadi yang selalu berubah secara dinamis.

Warung kopi menjadi wilayah tempat berbincang dengan relasi dan teman sehingga semua pembahasan menjadi lebih terasa lebih rileks dan hangat. Kini banyak orang yang memilih mengadakan rapat dengan relasi bisnis ditempat ini, mungkin dengan alasan karena tidak terlalu formal dan cukup representatif sehingga suasana keakraban akan lebih terasa jika dibanding dengan rapat di kantor.

Keberadaan warung kopi di Kota Medan tumbuh bagai jamur di musim hujan dengan berbagai merek, seperti; Kedai Kopi Ule Kareng, Kedai Kopi Omerta, Kedai Pos Kupi dan Kedai Minum Kopi.

Tidak hanya itu saja, rumah makan atau restoran juga menyediakan minuman kopi sebagai pelengkap dan rasa nikmat untuk sekadar nongkrong. Hadirnya warung kopi menjawab kebutuhan akan sebuah ruang yang bisa digunakan untuk bertemu kawan berdiskusi atau memperbincangkan berbagai hal dengan cukup ditemani secangkir minuman favorit dalam suasana yang nyaman dalam setiap perbincangan (Winahyu, 2007).

Dari sisi peluang usaha, konsolidasi menghasilkan lebih sedikit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang memiliki lebih banyak pasar. Sejumlah warung kopi telah masuk dalam konsolidasi pasar yang cepat. Di kota Medan, pasokan dunia dengan jenis kopi arabika dan robusta memberi kesempatan untuk anak-anak muda untuk bisa berkontribusi dalam bisnis.

Artinya, usaha kopi di sektor hilir yang berada di warung kopi di Kawasan Padang Bulan, Kota Medan saat ini cenderung bertumbuh dan berkembang secara beragam. Industri hilir kopi dapat diusahakan sebagai usaha menengah maupun kecil, disesuaikan dengan kemampuan memulai usaha skala kecil memungkinkan pengusaha pemula untuk mulai menekuni bisnis ini. Industri kopi dalam bentuk warung kopi saat ini banyak dimulai oleh peminum kopi yang kemudian tertarik menjalankan hobi tersebut menjadi bisnis.

Banyak pecinta kopi yang menjadikan hobi minum kopinya menjadi usaha untuk menambah penghasilan, atau bahkan kemudian sumber utama penghasilan. Beberapa tahun lalu, sebagian besar masyarakat mengkonsumsi kopi hanya pada warung kopi sederhana, namun seiring perubahan zaman, warung kopi berkembang menjadi warung kopi modern.

Warung kopi dikawasan Padang Bulan kota Medan, dewasa ini telah mengubah cara masyarakat dalam minum kopi dari sekadar rutinitas harian dalam rumah tangga dan menjamu tamu, menjadi bisnis modern yang tumbuh marak.

Hal ini pula yang terjadi dikawasan Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru Kota Medan yang banyak tumbuh warung kopi. Disamping kawasan tersebut merupakan kawasan anak kos yang marak melanjutkan pendidikan ke universitas. warung kopi banyak digunakan mahasiswa untuk mengerjakan tugas kuliah dan mengerjakan skripsi.

Tentu saja tumbuh suburnya warung kopi di Kota Medan utamanya di kawasan Padang Bulan menjadi peluang usaha untuk anak muda dalam hal penyeduhan dan pemasaran kopi. Apalagi tren anak milenial yang aktivitasnya suka nongkrong dengan fasilitas Wi-fi membuat warung kopi selalu ramai oleh anak muda.

Tim Pegabdian Kepada Masyarakat USU

Sumber Daya Manusia yang turun ke masyarakat merupakan staff pengajar di Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara, yaitu Fernanda Putra Adela sebagai ketua, Arief Marizki Purba, Tonny P Situmorang, Adil Arifin dan Fajar Utama Ritonga sebagai Anggota dengan Judul Pengabdian Pemberdayaan Anak Muda Kota Medan dalam Pelatihan Penyeduhan dan Pemasaran Kopi.

Tim pelaksana memiliki wawasan pengetahuan serta terlatih melakukan suatu kegitaan pendampingan masyarakat dengan memiliki masing-masing keahlian spesial terutamanya dalam pelatihan dan pemasaran Kopi. Sementara itu, Tim Pengabdian USU merupakan staf pengajar di lingkungan departemen Ilmu Politik dan Ilmu Komunikasi USU yang saat ini sedang giat-giatnya mengamati perkembangan kopi dan gaya hidup anak-anak Milenial.

Solusi dari program Pengabdian Kepada Masyarakat tentang “Pemberdayaan Anak Muda Kota Medan Dalam Penyeduhan dan Pemasaran Kopi adalah:

1. Kelompok mitra lebih terampil dan paham mengenai menyeduh dan memasarkan kopi sehingga hal tersebut menjadi keunggulan.

2. Kelompok Mitra lebih memahami jenis varietas kopi agar bisa menjelaskan kepada konsumen dan pelanggan terkait sejarah dan potensi kopi nusantara yaitu saat ini, terdapat 17 kopi Indonesia yang telah terdaftar sebagai Indikasi Geografis (IG), yaitu: Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Sumatera Simalungun, Kopi Robusta Lampung, Kopi Arabika Java Preanger, Kopi Arabika Java Sindoro-Sumbing, Kopi Arabika Ijen Raung, Kopi Arabika Kintamani, Kopi Arabika Enrekang Kalosi, Kopi Robusta Empat Lawang, Peluang Usaha IKM Kopi, Kopi Robusta Pinogu Gorontalo, Kopi Arabika Mandailing, Kopi Arabika Toraja, Kopi Arabika Flores Bajawa, nKopi Leberika Tungkal Jambi, Kopi Robusta Semendo, Kopi Liberika Rangsang Meranti dan Kopi Arabika SumateraKoerintji

3. Kelompok mitra juga memiliki pemahaman yang kuat tentang kopi dan pemasarannya melalui komunikasi massa, internet dan potensinya dalam proses kehidupan tren anak-anak milenial.

4. Kedepannya Mitra Pemberdayaan Anak Muda Kota Medan Dalam Penyeduhan dan Pemasaran Kopi bisa membantu anak-anak muda masuk dan tertarik dalam dunia usaha.

5. Pengabidan Kepada Masyarakat terkait pemberdayaan Anak Muda Kota Medan Dalam Penyeduhan dan Pemasaran Kopi kedepannya bisa membantu melahirkan pengusaha yang muda, tangguh dan mandiri.

6. Kedepannya Pemberdayaan Anak Muda Kota Medan Dalam Penyeduhan dan Pemasaran Kopi bisa merangsang masyarakat untuk menikmati secangkir kopi yang bercita rasa tinggi yang membutuhkan beberapa proses cukup panjang dan upaya mempertahankan kualitas kopi tersebut, dimulai sejak proses pemanenan di kebun dan dilanjutkan proses pasca panen sampai dihasilkan biji kopi kering (greenbean).

  •  

DAFTAR PUSTAKA

Derwentyana, Ryanty dan Cherry Dharmawan, 2007, Desain Interior Kedai Kopi dan Gaya Hidup Masyarakat di Indonesia (Studi Komparatif Gaya Hidup Antara Konsumen Kedai Kopi Tradisional dan Kedai Kopi Modern), Jakarta : Majalah Ilmiah UNIKOM.

Rahardjo, 2012, Panduan Budi Daya dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta, Jakarta: Penerbit Swadaya.

Winahyu, Windu Mukti, 2008, Perencanaan Strategi Pemasaran Dalam Peluncuran Produk Baru Dengan Merek “EXO COFFEE” pada PT. Jamu Puspo Internusa, Jakarta: Journal of Business Strategy and Excecution Vol. I