Malam itu, saya mengantar bunda ke klinik kesehatan. Antreannya cukup panjang. Sewaktu saya menunggu antrean, saya melihat segerombolan ibu-ibu sedang mendiskusikan Covid-19. Ramai sekali pembahasannya, mereka saling menimpali. 

Yang menarik dari diskusi itu, ada yang nyeletuk, “Aku nggak percaya sama sekali dengan petugas kesehatan. Masa tetanggaku punya sakit bawaan sesak napas ketika dibawa ke rumah sakit langsung dipositifkan Corona. Ini akal-akalan petugas kesehatan saja. Dengan makin banyaknya orang positif Corona, maka bantuan dari pemerintah untuk rumah sakit senilai 100 juta akan mudah cair.”

Itulah kabar yang mereka percaya, dan hampir di setiap tempat yang saya kunjungi, diskusi seperti itu muncul lagi-dan-lagi. Seakan kabar itu sudah dipercaya oleh masyarakat secara umum. Seperti dalam teknik propaganda Nazi, bahwa kebohongan (baca: hoaks) yang diulang terus-menerus dan sistematis, pada akhirnya akan dipercaya sebagai suatu kebenaran.

Hoaks "Corona Ladang Bisnis" yang beredar secara masif dan dipercaya oleh sebagian besar warga Indonesia adalah pemicu utama atas ketidakpercayaan masyarakat kepada tenaga medis, sehingga dampak lanjutannya, orang tidak lagi percaya dengan bahayanya Covid-19. 

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: Adakah cara yang efektif dalam menangkal hoaks agar orang tidak mudah ‘memakan’ hoaks dan ‘termakan’ oleh hoaks?

Solusi yang saya tawarkan, bagaimana jika di dalam pendidikan diajarkan saja kepada murid cara berlogika yang benar. Seperti yang kita tahu, kita tidak pernah diajarkan untuk bisa menilai mana logika yang benar dan mana logika yang salah. 

Lantas patokan berlogikanya bagaimana? Logical Fallacy bisa kita jadikan patokan dalam berlogika yang benar.

Logical Fallacy

Fallacy adalah penggunaan penalaran yang cacat atau salah, atau "langkah yang salah" dalam membangun argumen. Dapat disimpulkan, Logical Fallacy ialah konsep dalam berargumentasi yang umumnya justru menyebabkan kesalahan dalam penalaran karena jenis dari penyajiannya yang menipu.

Biasanya kita mengenal istilah “penyajian yang menipu” ini dengan sebutan misinformasi (informasi yang salah, tapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi itu benar), dan disinformasi (informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menipu). Dua hal ini yang menyebabkan tersebarnya hoaks di masyarakat sangat cepat.

Untuk lebih mudah dipahami, di bawah ini saya ambil beberapa contoh Logical Fallacy yang saya kaitkan dengan beberapa kasus informasi sesat pikir yang pernah beredar di masyarakat.

Post Hoc Ergo Propter Hoc

Contoh kasusnya, Jerinx, drummer band Superman Is Dead (SID), percaya bahwa corona adalah hasil konspirasi elite global. Alasan dia, karena terlalu banyak kebetulan hingga membentuk suatu pola (konspirasi).

“Kalau kita nyari sejarahnya Rockefeller, Bill Gates, mereka sudah sangat sering membicarakan hal ini (wabah), salah satunya ada event 2.0.1, mereka mensimulasikan bencana ini terjadi persis yang terjadi sekarang, itu bisa dicek di semua platform informasi," kata Jerinx di salah satu media massa.

Tentu maksud Jerinx adalah mengorelasikan antara simulasi bencana itu dengan kejadian pandemi Corona, khususnya yang terjadi di Cina. Jerinx menganggap bahwa  simulasi itu bukan kebetulan semata, tetapi merupakan keterkaitan yang sangat erat satu sama lain.

Apa yang disampaikan oleh Jerinx, jika kita mengacu ke aturan Logical Fallacy, jawaban Jerinx sebenarnya mengarah ke sesat pikir yang masuk kategori Post Hoc Ergo Propter Hoc atau dalam bahasa jawa “Ilmu gotak-gatuk.” Ialah mencocokkan suatu fenomena tertentu dengan kejadian lainnya tanpa disertai bukti sains.

Jika kita kembali ke contoh, wabah corona terjadi setelah sebelumnya pernah diadakan simulasi wabah, tidak secara otomatis bisa disimpulkan bahwa wabah corona sudah direncanakan sejak awal. Jerinx tidak memberikan bukti ilmiah, hanya mencocok-cocokkan satu kasus ke kasus yang lain.

Appeal to Authority

Misalnya, video perbincangan Luna Maya dengan seorang dokter hewan (ahli virus), Moh Indro Cahyono, yang terjadi kisaran pertengahan April, cukup membuat heboh. Dikatakan bahwa virus Corona tidak seganas yang dibicarakan para media massa dan juga tidak mematikan. Lalu ada beberapa orang mengamini statement tersebut dengan mengatakan:

 “Tuh, kan, benar, kalau Corona itu tidak mematikan. Ini dokter ahli virus yang ngomong, masa salah?”

Ini logika yang salah. Masuk katagori Appeal to Authority; ialah menilai sesuatu itu benar dan salah hanya dengan melihat dari subjek yang mengatakan.

Kita tahu dalam wilayah sains, argumen bisa dikatakan benar ketika sudah ada bukti, dalam hal ini research yang dilakukan di lab. Artinya, kebenaran atau kesalahan suatu argumen bukan dilihat dari keahliannya, melainkan dari bukti sains (scientific evidence) yang menyertainya.

Strawman Fallacy

Contoh kasusnya, seorang mantan Menteri Kesehatan tahun 2004, Siti Fadilah Supari bicara blak-blakan tentang virus corona di YouTube Deddy Corbuzier. Dia mengungkap keanehan pada Bill Gates yang mempersiapkan vaksin.

Dan saat beliau dikonfirmasi oleh Deddy, “Ibu mencurigai (vaksin) ini buatan dia (Bill Gates)?”, ia menjawab," “Saya tidak mencurigai tapi semua orang bisa berpikir sendiri. Kalau semua orang dia support, at least harus menghomati yang support.”

Ungkapan ibu Siti Fadilah masuk kategori sesat pikir, kategori Strawmen Fallacy. Ialah sebuah pengalihan perhatian yang disengaja dengan maksud mencoba untuk meninggalkan argumen asli.

Pengalihan perhatian yang dilakukan ibu Siti Fadilah tidak otomatis membuktikan kebenaran atas adanya konspirasi corona. Dalam artian, ada kesan beliau ingin orang-orang percaya bahwa corona adalah buatan Bill Gates.

Tetapi ketika dikonfirmasi kepada beliau soal benar-tidaknya tuduhan itu, beliau justru mengalihkan ke isu charity (amal) yang sering dikerjakan oleh Bill Gates. Seakan-akan beliau ingin mengatakan dua hal yang berbeda itu saling berkaitan.

Tawaran

Saya yakin pemerintah lebih paham mencari solusi yang pas dalam memerangi hoaks. Tapi jika pemerintah hendak memerangi hoaks lewat pendidikan, ada baiknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ikut dilibatkan, mengingat perlu kiranya menambahkan bahan ajar bagi murid untuk memberikan pengetahuan cara berlogika yang benar dalam mengolah informasi menjadi sebuah kesimpulan yang tidak mengarah kepada hoaks.

Supaya murid tidak mudah lagi tertipu oleh setiap informasi yang beredar di masyarakat. Sehingga pelajaran Logical Fallacy akan lebih bagus jika dimasukkan ke dalam kurikulum bahan ajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun universitas, baik negeri ataupun swasta.

Tak kalah pentingnya ialah peran dari guru juga sangat dibutuhkan. Hal yang bisa dilakukan oleh guru ketika di sekolah ialah mengambil contoh beberapa informasi yang datang dari masyarakat untuk dikritisi bersama-sama melalui panduan Logical Fallacy, sekaligus meminta murid untuk menebak kira-kira informasi yang beredar itu masuk kategori Logical Fallacy yang mana.

Sehingga harapannya, murid makin terbiasa mengkritisi setiap informasi yang datang kepadanya, serta tidak mudah lagi ‘memakan’ hoaks dan ‘termakan’ oleh hoaks.

***

“Tapi, kan, tidak semua pendapat itu dianggap sebagai hoaks? Pendapat drh. Moh Indro Cahyono misalnya yang mengatakan bahwa virus Corona tidak mematikan. Itu, kan, masih dalam wilayah perdebatan keilmuan!”

Benar sekali, itu masih wilayah keilmuan. Namun dengan adanya orang memahami Logical Fallacy, setidaknya Logical Fallacy akan mengarahkan kita dalam menarik kesimpulan pada setiap informasi yang beredar. Sehingga kesimpulan itu tidak akan mengarah kepada kesimpulan yang salah.