Sistem belajar jarak jauh yang diterapkan selama masa pandemi banyak membuat anak anak maupun orang tua stress tidak terkira. Stress dari berbagai sisi tidak hanya masalah anak yang harus punya perlengkapan untuk menunjang proses belajarnya, mulai dari computer, kamera, sampai dengan fasilitas wifi supaya lancar belajarnya.

Infrastruktur bagi masyarakat kelas bawah tentu bikin sakit kepala, bagaimana tidak? buat makan sehari-hari saja mungkin sudah susah, ini ditambah pula harus menyediakan lap top maupun pulsa.

Awalnya memang ramai diberitakan bahwa ada pulsa gratis dibagi-bagi demi kepentingan belajar, tetapi apakah efektif buat belajar atau akhirnya berakhir di layar game saya tidak tahu.

Buat keluarga kelas menengah seperti saya juga ikut sakit kepala, selain fasilitas wifi yang harus berebut dan akhirnya harus menambah fasilitas,  juga karena di group whatsapp orangtua, ramai rekan-rekan memprotes biaya uang sekolah yang tanpa keringanan. Padahal semua fasilitas di sekolah tidak digunakan, alias dipindahkan ke rumah.

Sampai ada yang berkomentar listrik juga pakai yang di rumah bukan yang di sekolah. Air minum juga pakai air di rumah kok, “Waladahlah sampai sebegitunya pak…”kok ya jadi sinis ya?

Tidak bisa dipungkiri kejadian ini memang bukan yang diingini oleh semua pihak, sekolah memang tidak disiapkan untuk pembelajaran jarak jauh kalau tidak ada pandemi. Kita semua “dipaksa” untuk beradaptasi dengan keadaan yang baru ini. Jadi ya harus diterima suka atau tidak suka.

Kedepannya siapa tahu orangtua mungkin akan lebih senang menyekolahkan anaknya dari rumah saja, irit ongkos, tidak perlu beli tas sekolah juga tidak perlu khawatir karena anak ada dalam pengawasan dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Orangtua akan lebih punya waktu lebih banyak dengan anak, karena semua dilakukan di rumah. Tetapi saya memiliki kekhawatiran lain.

Misal bagaimana dengan pergaulannya nanti? Kita kan mahluk sosial, perlu berinteraksi dengan orang lain. Perlu membaca mimik lawan bicara kita sehingga peka akan rasa dan bisa berempati. Terbayang oleh saya, anak sulung saya yang masuk SMA tidak mengenal semua teman sekelasnya, karena selama ini hanya bertatap muka melalui zoom.

Wajah-wajah yang hanya ditemui melalu ruang kelas sebesar layar lap top, terkotak kotak dan kadang tanpa ekspresi. Apa rasanya punya teman sekelas tetapi tidak bisa saling ngobrol layaknya jaman saya SMA.

Semua hanya basa basi dan menjadi terbiasa mengenakan topeng layaknya postingan di sosial media guna menarik likes dan followers. Pengakuan di dunia maya menjadi penting dari sisi jumlah orang  yang memberikan tanda hati, atau pengikut yang sebetulnya bila ditelaah bisa saja pedagang online yang berseliwaran tidak jelas dengan dagangan seadanya.

Bagaimana anak bisa tumbuh dan memilliki karakter kuat untuk mempertahankan argumentasi bila pengajaran sistemnya masih bersifat satu arah, di mana guru menguasai 90% waktu untuk berbicara dan murid minim diajak berdiskusi?

Membahas kasus sehingga menggelitik akal sehat untuk berpikir dan bertanya atau setidaknya bersuara bila tidak setuju akan satu hal. Atau bekerja kelompok berdiskusi dan menyajikan argumentasi. Mempertahankan pendapat dengan memberikan sudut pandang berbeda dari mata mereka sebagai anak di masa kini.

Bagaimana pula dengan kejujuran siswa bila ulangan atau tes yang diberikan berupa ujian tertulis layaknya di kelas tatap muka biasa? Padahal gurunya tidak memiliki sudut pandang yang cukup luas untuk mengawasi semua muridnya melalui layar komputer yang ada. Belum lagi ditambah anak sekarang yang jauh lebih kreatif dengan mengalihkan kamera lap top ke arah langit langit.

Keadaan ini mungkin sifatnya sementara, karena sudah pasti pandemi akan berakhir dengan sempurna juga suatu saat nanti. Harapannya di tahun 2022 semua mulai berangsur pulih. Akan tetapi bagaimana untuk yang sudah terjadi?

Sebagai orangtua bekerja, kekhawatiran saya semakin menjadi, karena tidak hanya kondisi kantor yang juga tertatih ditambah ketidakpuasan akan system pendidikan yang ada karena saya rasakan tidak mampu segera beradaptasi.

Apakah ini sesuatu yang memang patut untuk dipikirkan atau tidak ya? Saya kok tidak melihat di media masa ramai dibicarakan bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan kita di masa pandemi ini. Lebih nyaring suaranya malah berita mengenai PPKM dan perekonomian. Pro dan kontra antara membatasi pergerakan orang daripada membahas bagaimana dan apa yang harus dilakukan di rumah.

Bisa jadi urusan ekonomi memang lebih penting, seperti kata candaan “uang bukan segalanya tapi tanpa uang mau mati rasanya”, sehingga urusan anak sekolah dan permasalahannya bisa diselesaikan nanti.

Wallahualam, semoga saja banyak orangtua di luar sana yang juga punya concern yang sama dan berkreasi untuk membangun karakter anak masing masing lewat contoh perilaku yang bisa dilakukan di rumah. Bukankah itu hakekat menjadi orang tua? Mendidik anaknya sendiri dan menjadi partner bagi guru sekolah dalam memberikan yang terbaik buat anak anak demi bekal masa depannya nanti.