Istilah drama berasal dari kata bangsa Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi dan sebagainya (Hasanudian. 2015: 2). Drama merupakan salah satu jenis dari genre sastra. Sebagai suatu genre sastra, drama mempunyai kekhususan dibanding dengan genre puisi ataupun fiksi. 

Hal ini dikarenakan puisi penekanannya pada suatu hasil cipta intuisi imajinasi penyairnya. Di pihak novel, pembaca berhadapan dengan satu dunia rekaan yang dibentuk berdasarkan proses imajinatif, kemudian dipaparkan secara naratif oleh pengarangnya. Sedangkan untuk drama, menekankan pada bentuk karya yang bereaksi langsung secara konkret. 

Mengapa demikian? 

Hal ini dikarenakan, tujuan drama ditulis oleh pengarang tidak hanya berhenti sampai pada tahap pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajinatif oleh pembacanya saja, namun harus diteruskan untuk dapat dipertontonkan dalam suatu penampilan gerak dan perilaku konkret yang dapat disaksikan.

Ferdinan Brunetiere dan Balthazar Verhagen, mendefinisikan  drama sebagai suatu  kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan perilaku. Sedangkan menurut Moulton, drama merupakan hidup yang dilukiskan dengan gerak yang mana dengan menyaksikan kehidupan manusia yang diekspresikan secara langsung (Hasanudian. 2015: 1). 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa drama merupakan suatu hasil seni sastra yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku atau dialog yang dipentaskan.

Drama dalam Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, terkhusus pada satuan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak asing lagi mendengarkan istilah drama. Karena memang sudah tertuliskan pada silabus ataupun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata pelajaran Bahasa Indonesia di setiap satuan pendidikan. 

Namun, walaupun seharusnya mata pelajaran ini diberikan, tidak semua satuan pendidikan di daerah-daerah pelosok Indonesia dapat mengajarkan kepada siswanya. 

Banyak hal memang mengapa satuan pendidikan seperti itu, misalnya saja adanya keterbatasan informasi sehingga informasi yang diarahkan pemerintah tentang indikator-indikator apa saja yang harus dicapai dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak sampai pada daerah tersebut, sehingga materi pelajaran drama tidak dapat direalisasikan secara menyeluruh. 

Sangat disayangkan, apabila pembelajaran drama ini tidak dapat direalisasikan, karena dalam pembelajaran drama banyak sekali potensi-potensi siswa yang terkait dengan pikiran, perasaan, ide ataupun potensi yang lain tidak dapat diolah dan dikembangkan, karena tidak ada suatu wadah khusus untuk kegiatan-kegiatan pengembangan potensi-potensi tersebut.

Pembelajaran ilmu sastra, terutama drama di satuan pendidikan sampai saat ini belum terelasikan dengan baik. Hal ini dikarenakan tidak semua satuan pendidikan memberikan kajian tentang pembelajaran drama itu sendiri. 

Selain pada hal tersebut, walaupun materi tentang drama sudah direalisasikan di dalam satuan pendidikan, nampaknya hanya berfokus pada kajian teori tentang drama tanpa adanya praktik langsung dari setiap siswa.

Dalam pembelajaran hanya mengkaji siapa nama dramawan yang membuat naskah, apa isi drama, dan pelajaran apa saja yang bisa diambil pada naskah drama yang dikaji. Tentu hal ini tidak bisa dijadikan suatu terobosan agar siswa bisa aktif dalam pembelajaran dan potensi-potensi yang dimiliki tidak dapat dikembangkan. 

Dalam pendidikan sekarang yang diharapkan bukan hanya pada  tingkat kognitif saja, melainkan afektif dan psikomotorik juga harus dilakukan secara seimbang. Menurut penulis, apabila pertunjukan drama dapat dipraktikkan secara langsung, maka akan timbul rasa percaya diri pada siswa sehingga apa yang dirasakan dan dipikirkan dapat terealisasikan melalui pertunjukan drama. Untuk itu, perlu adanya sumber daya yang benar-benar mampu dalam segi teori drama maupun praktik dalam pertunjukan drama.

Kemampuan menguasai teori dan praktek sangat membantu guru dalam proses pembelajaran, sehingga siswa mampu dalam mengimplementasikan atau menerapkan teori-teori yang diperolehnya dalam pembelajaran yang kemudian terealisasikan dalam suatu pertunjukan drama. 

Namun, lagi-lagi jarang sekali ada guru yang paham akan teori dan praktik sekaligus. Padahal teori tanpa berkolaborasi dengan praktik seperti layaknya kopi tanpa air. Mungkin saja hal ini dipengaruhi oleh kurang minatnya para guru terhadap pertunjukan drama, oleh karena itu mereka hanya fokus pada teori saja.

Jika guru sebagai pendidik tidak berminat, lalu bagaimana dengan siswa?

Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan minat siswa dalam bidang pertunjukan drama adalah dengan meningkatkan terlebih dahulu pada guru pengajarnya, sehingga lambat laun efeknya akan dirasakan oleh siswa. Kemudian bisa juga dengan mengajak para siswa untuk menonton pertunjukan drama secara langsung maupun melalui media online seperti YouTube, Instagram dan sebagainya. 

Setelah kegiatan ini berlangsung, guru bisa mendatangkan pelatih drama untuk membantu siswa dalam berlatih memerankan tokoh-tokoh dalam naskah drama. Hal ini akan jauh lebih baik lagi, apabila dibentuk suatu wadah bagi siswa yang ingin menggeluti bidang seni drama sebagai ektrakurikuler yang dilakukan setelah jam pembelajaran selesai.