Pelaku utama dalam kasus ini adalah mahasiswa yang berparas antik, bertutur karismatik, dan bermarga senior. Mereka biasanya sudah tidak punya waktu lama untuk menyelesaikan skripsi. Taruhannya, dikeluarkan dari kampus, atau dipaksa menyelesaikan skripsi dengan segera.

Dosen biasa menyebut dengan istilah mahasiswa sakatarul maut. Yaitu mahasiswa yang nasibnya antara hidup dan mati. Namun, keputusan hidup atau matinya murni ditentukan oleh diri sendiri.

Situasi yang cukup mencekam itu hanya bisa terjadi ketika waktu untuk menjamah skripsi justru teralihkan untuk hal lain. Atau malah diabaikan begitu saja.

Bukan tidak pernah mereka dihadapkan pada pertanyaan perihal kapan mereka lulus. Namun, sering kali pertanyaan-pertanyaan sejenis yang sangat menusuk pankreas itu akan dijawab dengan kalimat yang begitu filosofis.

Itu tentu dilakukan demi untuk menunjang kewibawaannya. Pertanyaan yang seharusnya bisa selesai dengan jawaban sederhana justru malah ditanggapi dengan jawaban yang mengundang pertanyaan baru.

Contoh, pertanyaan kapan lulus yang sebenarnya cukup direspons dengan “doain, ya!”, justru malah ditanggapi dengan bilang bahwa tidak penting untuk lulus tepat waktu, yang terpenting adalah lulus tepat pada waktunya.

Lha, terus kapan waktu yang tepat?

Bahasa yang digunakan memang terdengar logis. Bagaimana tidak, tingkat kepintaran seseorang berbanding lurus dengan seberapa sering ia belajar materi yang sama secara berulang-ulang.

Padahal, kalau kuliah tak kunjung selesai, ada risiko-risiko yang harus ditanggung. Mulai dari semakin kencangnya gairah rasan-rasan tetangga, hingga semakin banyaknya biaya yang masih harus dikeluarkan.

Perkara rasan-rasan tetangga tentu masih relatif mudah untuk diantisipasi. Caranya dengan tidak peduli, menutup telinga, dan mengunci jendela rapat-rapat. Namun, resiko kedua inilah yang kerap kali membuat mahasiswa yang cinta skripsi, memilih jalan untuk move on dan meninggalkan percintaan toxic mereka.

Salah satu alasan yang cukup menakutkan bagi mahasiswa yang tidak segera lulus adalah tentang susahnya mencari pekerjaan. Isu pengangguran rupanya tidak hanya renyah di mata politisi. Namun, mahasiswa yang tak kunjung lulus pun sering memakai isu ini untuk digoreng dan dikecapi, kemudian disajikan dengan sajian yang menggugah hati.

Selain memang menjadi alasan nyata bagi seorang mahasiswa yang bersikukuh untuk lulus tepat pada waktunya, tujuan lain dari mengangkat isu pengangguran ini tentu juga untuk memenangkan perdebatan.

Tidak ada toleransi sedikit pun terhadap kekalahan dalam perdebatan bagi mahasiswa super senior yang telah lama mengenyam bangku kuliah.

Selain alasan yang bersifat personal, hal lain yang menjadi sebab tak kunjung selesainya skripsi justru datang dari orang luar. Ia adalah dosen pembimbing, yang juga memiliki peran penting dalam penyusunan skripsi seorang mahasiswa.

Dosen pembimbing yang pasif cenderung membiarkan dan tidak peduli dengan skripsi mahasiswanya. Sehingga tidak jarang mahasiswa yang memiliki kesempatan untuk memilih sendiri dosen pembimbing akan menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.

Namun, peran dosen tentu tidak sesignifikan mahasiswa sebagai peneliti dan penulis skripsi. Menyalahkan dosen sebagai penyebab tak kunjung selesainya skripsi, sama halnya dengan menuding orang yang menonton Youtube di Warnet sebagai penyebab intenet lemot.

Tiap orang memiliki fase yang berbeda untuk menuju satu tujuan yang diinginkan. Langkah demi langkah pasti dilalui. Apabila satu langkah membutuhkan waktu yang lama untuk selesai, maka langkah-langkah berikutnya akan menjadi tertunda.

Bagaimana mungkin kita bisa melangkah hingga jauh ke ujung, jika satu langkah yang ada di depan mata saja tak kunjung tuntas. Contohnya adalah perkara skripsi ini.

Skripsi bukanlah jalan untuk mencapai masa depan yang baik. Masa depan cerah juga tidak ditentukan oleh bagus tidaknya skripsi. Skripsi hanya sebagai satu langkah yang perlu dilewati dalam proses berjalan menuju tangga masa depan ideal menurut masing-masing orang.

Jadi, kebutuhan ego untuk menyelesaikan skripsi dengan sempurna hendaknya sesegera mungkin ditanggalkan beserta kemalasan dan keengganan untuk lulus cepat. Skripsi yang bagus bukan menjadi ukuran sukses tidaknya Anda menjadi mahasiswa.

Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Itulah kalimat yang sering diungkapkan para dosen untuk menyemangati mahasiswanya. Meskipun demikian, kalimat penyemangat itu rupanya masih memiliki celah untuk dicuil sebagai pembelaan terhadap skripsi mahasiswa yang tak kunjung selesai.

Jika semua skripsi yang selesai adalah skripsi yang baik, maka mahasiswa tidak akan peduli seberapa lama waktu yang mereka pakai untuk menyelesaikan tugas akhir tersebut. Toh juga nanti bakalan selesai, dan juga akan dapat predikat skripsi yang baik (setidaknya oleh dosen).

Kalau begitu, semua skripsi adalah baik. Tidak ada skripsi yang tidak baik, mengingat bahwa semua skripsi yang selesai adalah baik. Sedangkan skripsi yang tidak selesai tentu tidak disebut sebagai sebuah skripsi.

Jadi, kalau skripsi Anda juga tak kunjung selesai, alasan mana yang sering Anda pakai supaya tidak menyayat pamor Anda sebagai mahasiswa?