52119_78866.jpg
Olahraga · 3 menit baca

Pembelaan dan Kritik untuk KPopers atas Voting Lagu World Cup

Siapa yang paling paham sepak bola? Siapa yang pengetahuan sepak bola "ngelontok" sampai ubun-ubun? Siapa yang berhak untuk voting lagu World Cup 2018? Siapa yang tidak berhak untuk berbicara tentang sepak bola? Apakah sepak bola menjadi sangat eksklusif saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi perbincangan yang hangat dibicarakan setiap pelaksanaan gelaran akbar sepak bola. Tidak perlu menunggu empat tahun, ajang sekelas Piala AFF yang digelar tiap dua tahunan sudah mampu menghadirkan demam bagi para insan berakal ini.

Setiap orang seakan-akan terinduksi untuk menjadi manusia paling mafhum mengenai permainan dua puluh dua orang ini. Dari laboratorium hingga bioskop, dari angkringan hingga hotel bintang 5, dari kantor hingga jalanan, perbincangan tentang sepakbola menjadi lapak yang laris untuk digelar. Bak gula yang dicari semut, tempat-tempat nonton bareng menjadi arena yang sangat diminati akhir-akhir ini. 

Sejatinya tak ada yang salah dengan fenomena ini. Demam bola merupakan keindahan lain dari gelaran akbar sepak bola. Apa makna keindahan universal sepak bola jika yang memahami keindahan tersebut hanya segelintir orang?

Bersyukurlah dengan banyaknya “mualaf” yang memilih masuk menjadi penggemar baru sepak bola. Bukankah regenerasi memang diperlukan, termasuk dalam tataran penggemar sepak bola?

Hal yang sangat wajar dan dapat dimaklumi apabila Anda memiliki beberapa teman yang semula tak pernah berbicara tentang sepak bola, lalu berubah menjadi pundit handal dalam menganalisis taktik dan strategi permainan.

Mengambil sedikit petuah dari Arman Dhani bahwa kutukan terbesar menjadi manusia ialah kebutuhan untuk bereksistensi. Sebagai manusia yang tak bisa terlepas dari kutukan ini, maka sudah seharusnya kita saling memaklumi kondisi ini.

Terlepas dari demam bola yang sedang terjadi, pembahasan tentang sepak bola kini sudah berkembang sangat jauh. Perdebatan usang mengenai taktik, strategi, dan pemain-sentris kini berubah jauh hingga anthem, maskot, dan serba-serbi di luar pertandingan.

Beberapa hari yang lalu, akun resmi twitter Piala Dunia 2018 membuat sebuah voting untuk pemilihan lagu yang akan diputar dalam final Piala Dunia 2018. Voting ini seharusnya berjalan lancar sebagaimana seharusnya.

Adanya 2 lagu dari Negeri Ginseng menjadi pemicu konflik intelektual tersebut. Dua lagu dari Negeri Ginseng tersebut tak ayal menjadi sebuah magnet besar bagi para KPopers.

Lagu-lagu dari oppa tercinta akhirnya melejit jauh meninggalkan dua lagu lainnya. Pro-kontra pun terjadi. Banyak yang membela, namun juga banyak yang mencaci tindakan berlebihan dari para KPopers.

Sebagai seorang yang tak paham dengan sepak bola, bahkan membutuhkan waktu 15 tahun untuk memahami aturan offside, izinkan saya untuk mengajukan beberapa argumen dalam menghadapi masalah ini.

Beberapa tahun terakhir, UEFA, induk tertinggi sepak bola Eropa, mengeluarkan sebuah kampanye dengan slogan berjudul Equal Game. Kalimat yang cukup sederhana dalam membungkus kampanye ini ialah “Everyone should be able to enjoy football. No matter who you are, where you’re from or how you play. That’s Equal Game”.

Tak peduli ras apa, tak peduli bahasa apa, tak peduli tinggal di daerah mana, kalian berhak bermain dan berbicara sepak bola. Semua entitas, ras, dan suku berhak untuk berbicara menggunakan bahasa sepak bola. 

Alasannya cukup sederhana karena sepak bola adalah bahasa universal. Merujuk pada sejarah sepak bola di Nusantara, sepak bola bukan saja permainan biasa. Sepak bola adalah cara dari rakyat Indonesia untuk berdiri sejajar dengan para pendatang dari benua biru. Sepak bola adalah cara rakyat untuk meruntuhkan dinding tebal pembatas kasta.

Dinding itu yang kini malah dibangun kembali oleh para “sesepuh penggemar sepak bola”. Membangun dinding tebal antara “sesepuh penggemar sepak bola” dan “junior penggemar sepak bola” adalah bentuk senioritas dan tindakan ahistoris yang memalukan.

Bukankah sebagian besar dari kita juga pernah menjadi “junior”? Maka, saat ini, biarkan semua orang untuk berbicara tentang sepak bola. Biarkan sepak bola dibicarakan dalam ranah warung hingga kafe, dalam ranah penggemar Nirvana hingga BTS, dari ranah korporat hingga buruh. Football for equality.

Terlepas dari sepak bola milik semuanya, kritik tetap perlu disematkan bagi para penggemar KPopers.

Menggemari adalah hal yang wajar, ikut serta voting juga hal yang wajar, namun cara ilegal dengan membuat akun fiktif guna memenangkan idola adalah hal yang bodoh. Biarkan voting berbicara, tanpa perlu ada manipulasi akun fiktif. Pembuatan akun fiktif adalah bentuk ketidakpercayaan diri terhadap idola kalian.

Perkembangan dunia sudah cukup pesat. Industri sudah berkembang menuju Industri 4.0. Perkembangan ini turut mengubah wajah sepak bola yang tidak hanya dikenal melalui taktik dan strategi, namun anthem hingga statistik.

Berlagak senior adalah bentuk kekerdilan diri, sehingga biarkan sepak bola menjadi bahasa universal bagi kita semua. Biarkan teriakan goal dapat diterima dari belahan bumi mana pun. Jika sepak bola untuk semua, mengapa kita membangun sekat?