Mentari sudah menampakkan sinarnya. Saatnya Fauzan dan Darundio pergi ke sekolah. Pagi ini tidak seperti biasanya, sangat melelahkan. Semalaman mereka berdialektika mengenai buku 1984 karya George Orwell. Perdebatan yang sangat seru, kira-kira seperti ini.

“Gila banget nih buku! Gila-gila! Kacau, keren abis anjayani!” ucap Darundio dengan semangat.

“Parah mennn… Ini menggambarkan banget sekarang gak sih?” tanya Fauzan antusias.

“Hooh cuk, semoga aspek yang fundamental, seperti pendidikan jangan sampai kena deh.”

Fauzan dan Darundio selalu bersama, mulai dari berangkat sekolah, belajar, hingga makan di kantin. Kini, mereka sudah berada di dalam kelas.

Pak Guru datang dan memberi salam, “Selamat pagi, Anak-anak!”

Semua murid serentak menjawab salam.

“Oke, anak-anak kita sekarang akan mempelajari animalia. Sebelum masuk ke inti pelajaran, ada yang tahu ikan paus itu termasuk keluarga apa?” tanya Pak Guru.

Salah seorang murid langsung menjawab, “Paus keluarganya di Eropa, Pak!”

“Hush! Beda itu, kita sekarang belajar IPA”

Darundio ingat, kemarin ia membaca literatur bahwa paus itu termasuk keluarga mamalia.

“Mamalia, Pak!” jawab Darundio percaya diri.

“Ha? Kok mamalia sih? Sudah jelas namanya ikannnn, ikannn paus,” bantah Pak Guru.

“Tapi, paus kan punya kelen…..” jawab Darundio lagi.

Pak Guru langsung menyambar secepat merancang UU, “Stop-stop. Kamu baca literatur hoaks kali ya?”

“Tidak Pak. Ini terper….”

Belum selesai Darundio menjawab, Pak Guru langsung memotong pembicaraannya.

“Ssstttt! Kamu jangan sampai salah baca lagi ya, jangan diulangi lagi. Kalau saya bilang hoaks ya hoaks!” sanggah Pak Guru dengan penegasan di setiap kalimatnya.

“Baik, Pak.” jawab Darundio kecewa.

“Oke, kita masuk ke pelajaran yaa.” Pak Guru memulai pelajarannya.

Bel demokrasi berbunyi, pertanda waktu istirahat. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Darundio dan Fauzan memilih pergi ke kantin. Mereka duduk berhadapan.

“Lu percaya gak sih sama gua, kalo paus itu mamalia?” tanya Darundio dengan tatapan harap. Berharap Fauzan percaya atas perkataannya.

“Hmmm… Gimana ya....” Fauzan bingung harus menjawab apa. Darundio adalah sahabatnya, di samping itu Pak Guru adalah Gurunya.

Mendengar jawaban Fauzan yang sepertinya belum sependapat dengan dirinya, Darundio menghela nafas dan membenarkan posisi duduknya lalu berkata “Pak Guru dan kita sama, Zan. Sama-sama manusia, sudah seharusnya kita saling mengingatkan agar selalu sehat akal pikiran kita, terlebih kebebasan berpendapat menjadi pilar penting terhadap mimbar akademik. Gua belum selesai ngomong Zan, Pak Guru motong pembicaraan gue terus.”

“Iya, Yo. Tapi masa Pak Guru salah, kalo gitu kita juga bakalan salah dong?” tanya Fauzan.

“Hei sadar Zan, konsep mempertahankan akademis sedangkan kebijakan mempertahankan popularitas.” jawab Darundio.

“Lantas apa hubungannya sama pak guru?” tanya Fauzan masih sedikit bingung.

“Positive thinking mungkin aja karena lupa, tapi takutnya karena satu kesalahan ia akan melegitimasi hal-hal lain, maka dari itu kita sebagai pelajar yang kritis harus mengingatkan” jelas Darundio.

“Yaa, mungkin Pak Guru emang lupa kali, Yo.”

“Lu inget sama buku 1984 yang kemarin kita baca?”

Fauzan menimang-nimang memikirkan hubungan buku 1984 dengan kejadian di kelas. “Inget-inget! Wah.. gw baru ngerti Yo...”

“Alhamduillah…” ucap syukur Darundio.

“Padahal George Orwell menuliskan buku 1984 itu untuk peringatan bukan untuk petunjuk manual, mungkin beliau sudah baca buku itu dan mungkin juga tadi Pak Guru nguji kita supaya kritis, siapa tahu dikasih nilai A kalau kita ke ruang guru karena memperingatinya?” ucap Fauzan berapi-api penuh semangat.

Darundio tertawa, “Bisa aja lu, yuk kita peringatin Pak Guru biar gak ada otoritarianisme di aspek pendidikan.” jawab Darundio ikut bersemangat.