Merebaknya wabah virus Covid-19 membuat banyak perubahan aktivitas di seluruh dunia. Wabah Coronavirus Disease-2019 (COVID-19) menyebabkan jatuhnya korban jiwa yang hingga kini belum terlihat titik redanya. Korban positif terjangkit pun masih cukup banyak.

Guna meminimalisir merebaknya wabah, proses PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) banyak diterapkan di berbagai wilayah. Pekerjaan atau aktivitas kita kemudian harus dikerjakan di rumah. Pun juga demikian dengan pelaksanaan ritual ibadah salat yang melibatkan banyak orang.

Salah satu Bentuk ibadah yang juga mendapat sorotan publik adalah pelaksanaan haji. Ibadah yang berskala global ini tentu saja tidak mungkin dilakukan, mengingat setiap Negara masih menerapkan isolasi mandiri. 

Keadaan ini juga membuat Kementerian Agama Republik Indonesia perlu menutup sementara akses pelaksanaan haji tahun ini. Kebijakan ini dikeluarkan melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) No.494/2020 tentang pembatalan keberangkatan jemaah haji tahun 1441 H atau 2020 M.

Kementerian Agama (Kemenag) pun mengaku telah melakukan komunikasi intensif dengan Kementerian Haji Arab Saudi. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan keselamatan jiwa para calon jamaah haji Indonesia karena masih merebaknya wabah virus Covid-19.

Mendengar kabar ini, para calon jemaah haji tentu terpukul. Terlebih mereka yang sudah bertahun-tahun lamanya menabung untuk dapat berangkat di tahun ini. Belum dihitung pula mereka yang mungkin sudah menjual tanah dan beberapa unit usahanya dalam proses pembiayaan haji plus. Kepastian untuk berangkat tahun berikutnya pun belum bisa dikantongi.

Dengan mempertimbangkan akibat berlanjut yang tidak diinginkan, tentu keputusan membatalkan pelaksanaan berhaji ini adalah opsi tepat dari dua pilihan pahit yang ada. Kalaupun bisa dibilang, setidaknya sedikit lebih getir. 

Syair Syaikh Hamzah Fansuri

Menghadapi kenyataan pembatalan di atas, teringat salah satu syair yang digubah oleh salah satu Ulama Nusantara sekitar abad 17. Ulama tersebut bernama Hamzah Fansuri (w. 1560). 

Hamzah Fansuri hidup pada masa pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam sekitar tahun 1588M-1604M. Adapun kata Fansur di belakang namanya merupakan nama daerah dimana ia berasal, Fansur (nama lain dari Barus, kini sekitar Tapanuli Tengah, Sumut).

Hamzah Fansuri dikenal banyak menggubah sajak-sajak yang bertemakan sufistik. Dalam bahasa lain, sufistik adalah bagian ajaran Islam yang dalam prakteknya senantiasa mengutamakan pembersihan hati atau jiwa.  Keidentikan syair dengan formula dakwah sufistiknya terbukti handal dalam menyampaikan inti dakwah.

Naguib Alatas, dalam The Mysticcism of Hamzah Fansuri menerangkan, Hamzah Fansuri adalah Pujangga Melayu terbesar dalam abad 17. Ia adalah Penyair Sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu.

Kekaguman Naquib pada sosok Hamzah Fasuri sampai menyebutnya sebagai "Jalaluddin Rumi"-nya Kepulauan Nusantara. Ia meyakini Hamzah Fansuri adalah pencipta bentuk pantun pertama dalam bahasa Melayu.

Jika dicermati, seluruh sajaknya seperti sebuah rangkaian perjalanan dalam proses menemukan Tuhan yang sejati. Yakni Tuhan yang tidak terbatas pada Zat tujuan seseorang berdoa, tapi juga tempat berdialog untuk mampu membahasakan makna terdalam bagi seorang pecinta ulung.

Dari sekian banyak syair yang digubahnya, terdapat salah satu syair yang mengingatkan kita perihal makna pelaksanaan haji.  Sajak yang dimaksud berbunyi:

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka'bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Abdul Hadi WM. dalam Hamzah Fansuri: Penyari Sufi Aceh memberi penjelasan, bahwa sajak di atas adalah salah satu sajak terkenal Hamzah Fansuri yang mengabarkan luasnya daerah yang pernah ia kunjungi. Satu di antara tempat dimaksud adalah Makkah.

Terlihat sekali syair tersebut ingin menggambarkan betapa jauhnya Hamzah Fansuri mencari Tuhannya. Ia telah melewati serangkaian tempat yang berbeda. Namun dari sekian macam daerah yang ia kunjungi, Hamzah Fansuri kemudian menyadari bahwa tempat terbaik dalam dunia yang sejati adalah hatinya sendiri. 

Sederhananya, Kakbah adalah poros manusia di jagat bumi, sedangkan hati manusia ibarat Kakbah dalam “jagat yg lebih kecil" (tubuhnya). Setiap tubuh, adalah rumah bagi hatinya, dan setiap hati adalah rumah bagi ruhaninya. Perputaran Kakbah mungkin mampu menjadikan poros dunia tetap stabil.

Dalam catatan lain, Abdul Hadi WM juga menafsiri, sajak ini sebenarnya ingin menunjukkan bahwa Tuhan tidak jauh dari diri. Ia sejatinya bersemayam dalam hati. Meskipun demikian, untuk mencapainya manusia tetap harus melakukan perjalanan jauh. 

Perjalanan jauh tentu saja akan membuat siapapun bersusah payah. Kesusahpayahan ini adalah bukti rasa pengorbanan utuh seseorang. Sebagaimana Ibadah haji dengan segala rangkaiannya adalah juga bagian penting dalam proses 'perjalananan jauh dan melelahkan' itu.

Namun ada yang lebih penting dibanding sekadar perjalanan, yakni memahami tujuan dari sebuah perjalanan. Memahami tujuan, akan mampu mengembalikan diri kita kepada asbab kenapa perjalanan itu harus dilakukan. Yang pada akhirnya, senantiasa muncul spirit yang sama meski dengan keadaan yang berbeda.

Karenanya, jika kesempatan menuju Kakbah belum mampu kita ulangi atau tunaikan tahun ini. Kiranya sajak Syaikh Hamzah Fansuri di atas dapat menjadi penenang jiwa yang solutif. 

Bahwa barangsiapa yang belum mampu menemui Kakbah secara langsung (baik karena halangan wabah seperti saat ini ataupun keterbatasan biaya), ia masih dapat mengunjungi "Ka'bah" dalam dirinya.

Ia masih dapat mengumandangkan kalimat Talbiyyah penuh khidmat dalam setiap deru langkah aktivitasnya. Menyucikan asma-Nya dalam perilaku sehari-hari. Ber-sa'i (berlari-lari ringan/bersegera) dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan yang diembannya.

Ia juga masih bisa melakukan Tahallul (mencukur habis) pikiran-pikiran negatif yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Sampai ber-wuquf (Tinggal tidak melakukan aktivitas) dari segala perilaku yang  pada lembah dosa. Tanpa jeda.

Semoga perjalanan ibadah 'haji' ini menjadi mabrur.