Tata Bahasa

Pekan ini, istilah pembantu kembali mencuat dalam perbincangan kita, terutama setelah salah seorang selebritas (bukan artis, ya) tanah air menggunakan istilah itu untuk merujuk pada Pekerja Rumah Tangga yang bekerja di rumahnya. Pemunculan kembali istilah ini patut disayangkan sebab pemerintah telah memensiunkan penggunaannya sejak lama. Di ranah domestik, pemerintah sudah melarang penggunaan istilah “Pembantu Rumah Tangga” sejak 2015 karena, “…istilah tersebut dianggap menempatkan seseorang dalam kelas sosial tertentu yang hak-haknya diabaikan”. Menaker M Hanif Dhakiri yang menyatakan itu. Klik di sini

Istilah pembantu juga sudah tidak digunakan di banyak universitas. Istilah Pembantu pada Pembantu Rektor atau Pembantu Dekan diganti menjadi Wakil: Wakil Rektor, Wakil Dekan. Penggantian istilah ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja (OTK).

Kita pun sebaiknya berhenti menggunakan istilah pembantu lantaran ia mengalami peyorasi, yakni perubahan makna pada kata/istilah menjadi negatif, tidak baik, merendahkan. Istilah pembantu sama peyoratifnya dengan banci/bencong, pelacur, bangsat, dst.

Di Indonesia, istilah yang ‘resmi’ digunakan adalah Pekerja Rumah Tangga (PRT), bukan pembantu, pembokat, apalagi babu. Penggunaan kata pekerja dinilai lebih tepat karena para PRT bekerja sesuai dengan spesifikasi kemampuan dan jenis pekerjaan yang diberikan. Sebagai pekerja, para PRT memiliki hak yang sama dengan pekerja di jenis pekerjaan yang lain. Kita bahkan sudah punya hari Pekerja Rumah Tangga Internasional yang dirayakan setiap 16 Juni di seluruh dunia. Sudah, ya. Berhenti menyebut PRT dengan istilah pembantu.

Tunggu dulu, istilah pembantu berasal dari kata dasar bantu yang bermakna positif, jadi kenapa bentuk turunannya justru bermakna negatif?

Begini penjelasannya…


Semasiologi

Bahasa adalah alat bantu komunikasi manusia, sebagai alat, ia tentu terus mengalami perubahan/penyesuaian agar tetap bisa digunakan. Dalam khasanah kebahasaan, kajian tentang perubahan makna pada kata masuk dalam bab semasiologi, yakni metode semantik yang berkaitan dengan penjelasan makna kata atau frasa (KBBI V). Kajian semasiologi mulai ramai dilakukan sejak awal abad ke-19 yang bermula dari Jerman kemudian melebar ke Prancis lalu menyebar luas ke lebih banyak negara, termasuk Indonesia. Kajian ini fokus pada sebab terjadinya perubahan makna, termasuk kaitannya pada ‘nasib’ kata dalam perbendaharaan kosa kata para penggunanya; apakah ia masih digunakan atau sudah mati dan dilupakan.

Nah, dalam bahasa Indonesia, perubahan makna pada kata atau frasa sudah menjadi keniscayaan sebab nyatanya, waktu dan cara penggunaan sebuah kata dapat mengubah makna pada kata tersebut. Dulu, orang bisa mudah saja menggunakan kata bangsat tanpa perlu khawatir bahwa kata itu dapat menyinggung perasaan orang karena bangsat sejatinya adalah nama jenis binatang (kepinding; kutu busuk), tetapi sekarang, kata bangsat telah mengalami perubahan makna. Kamus Besar Bahasa Indonesia seri kelima misalnya, mengartikan bangsat (dalam ragam cakap) sebagai “orang yang bertabiat jahat, terutama yang suka mencuri, mencopet, dan sebagainya”.

Bahasa Indonesia mengantongi banyak jenis perubahan makna, tak hanya peyorasi, bahasa kita juga mengenal jenis perubahan ameliorasi, asosiasi, sinestesia, meluas, dan menyempit. Berikut penjelasan beserta contoh-contohnya:


Peyorasi

Peyorasi adalah perubahan makna pada kata yang menjadikannya buruk atau berkonotasi negatif. Kata-kata dalam jenis ini awalnya bernasib baik; mereka digunakan sebagaimana mestinya. Nasibnya berubah menjadi sial saat pemaknaannya lebih sering ditujukan untuk maksud merendahkan atau bahkan merisak. Istilah “pembantu” adalah salah satu contoh kata yang bernasib sial itu.


Ameliorasi

Berbeda dengan peyorasi yang mengubah makna kata menjadi lebih buruk, ameliorasi justru menjadikan kata yang semula bermakna buruk menjadi lebih baik. Kata-kata itu telah hijrah menuju pemaknaan yang lebih baik. Salah satu contohnya adalah kata sahaya, awalnya kata ini bermakna budak atau abdi, tetapi sekarang, kata ini lebih kerap digunakan dalam makna saya. Contoh: Tidak salahkah kau mencintai sahaya sepertiku, Ani?

Selain mengubah makna dengan tetap mempertahankan kata aslinya, ameliorasi juga kerap mengganti kata dasar demi menghilangkan makna buruk pada kata atau frasa. Contoh: kata mati atau mampus diganti menjadi meninggal dunia, wafat, atau mangkat; berak menjadi buang air besar; penjara menjadi lembaga pemasyarakatan; aku bosan denganmu, pokoknya harus putus! menjadi Kamu terlalu baik untukku, eh.


Asosiasi

Perubahan makna pada kata akibat persamaan sifat antara makna lama dan makna baru, contoh: Kasih saja dia amplop biar lancar semua urusan.

Paham, kan, maksud amplop pada contoh kalimat di atas?


Sinestesia

Perubahan makna pada kata atau frasa akibat tanggapan indera, contoh: Janji-janjimu kecut, Ceramahmu beracun, alismu pedas tak karuan, dst.

Tentu, janji atau ceramah –apalagi alis—tak dapat dikecap sehingga tak mungkin diketahui rasanya, tetapi kata-kata tersebut dimaknai demikian sebagai gambaran indera yang menangkapnya.


Meluas

Perubahan makna yang membuat cakupannya lebih luas, tak lagi terbatas pada makna dasarnya. Kata Bapak misalnya, semula hanya bermakna bapak dalam keluarga, kepala rumah tangga; tetapi sekarang kata itu biasa digunakan untuk merujuk orang-orang yang dihormati. Demikian pula dengan kata ibu, saudara¸ dst.

Sampai sini, apakah saudara sudah paham?


Menyempit  

Perubahan pada jenis ini adalah kebalikan dari perluasan makna. Kata atau frasa ternyata juga mengalami penyempitan makna. Kata sarjana misalnya, awalnya ia bermakna “orang yang pandai”, tetapi sekarang, kata tersebut lebih kerap digunakan untuk merujuk pada orang-orang yang telah menyelesaikan pendidikan strata satu (S1); kita tak pernah benar-benar bertanya apakah orang yang sudah digelari sarjana pasti orang yang pandai.


***

Berbagai bentuk perubahan makna pada kata atau frasa di atas adalah bukti bahwa bahasa bukan barang mati. Ia terus tumbuh bersama para penggunanya. Baik buruknya makna sebuah kata tidak selalu ditentukan oleh teori-teori semasiologi, tetapi juga intensi dari penggunanya. Anda bisa saja menggunakan kata yang sebenarnya bermakna baik, namun jika maksud Anda buruk, kata tersebut bisa berubah makna menjadi buruk pula. 

Karenanya, selalu berhati-hati memilih diksi agar tak menyesal di kemudian hari sambil sibuk bikin video klarifikasi. Basi!

#PatroliTataBahasa