2 tahun lalu · 166 view · 2 menit baca · Puisi 94599.jpg
http://www.repelita.com/

Pembangunan Gendeng Kendeng

Ku lihat, segerombolan preman mengepung gubuk Petani tua

Preman kelas teri, berjubah Kiai, berdasi, hingga yang berdaki

Datang dengan ilmu, mencoba menyadarkan si bodoh tentang pembangunan

Dengan kesucian menguliahi, menceramahi tentang sesuatu hasil yang pasti

Indonesia…

Negeri kaya dengan pemimpin yang biasa saja

Jeritan rakyat pun menggema tiada berharga

Ku lihat, malam minggu Si Gubernur pesta vodka darah Petani

Menari menginjak-injak lembaran kertas bertulis ikrar pelantikan

Si miskin, menjual hasil panen untuk membeli tiket ke Jakarta

Mengirit, menahan lapar, menenggak seteguk airmata derita

 Badannya dingin, sepanjang malam dipeluk lantai LBH Jakarta

Jauh-jauh berpuasa tawa, demi bertamu ke rumah Pejabat berbau tengik

Tengik, karena hatinya basi dimakan lumut rakus kekuasaan

Oh Kendeng…

Hegemoni tak hanya kuasai si awam, Penyair pun mabuk khayalan

Andai embun pagi di pucuk dedaunan pohon jati berbicara

Andai tembok istana yang sombong dapat membuka nuraninya

Andai desa-desa berhenti menampakkan pemandangan padi menguning pada sore hari

Andai sejuta kata kutukan tentang Si Kepala Batu bercerita sebaliknya

Pastilah si Panglima Pelindung Rakyat tahu mesti membela siapa

Pemimpinku, Kau ku pilih bukan untuk jadi budak kapitalis

Kau ku pilih bukan untuk menjadi selir drakula perekonomian

Mesti berapa belas, puluh, ribu, juta Mbok Patmi lagi yang akan mati?

Manusia tidak harus menunggu jatuh dulu, baru sadar

Pemimpin tidak harus menunggu terguling dulu, baru mendengar

Ku lihat, demokrasi tak ubahnya desahan para Pelacur kota

Gembira gemebyar sebentar penuh gelora dera

Puas sesaat dicampakkan dengan gagah oleh aktornya

Saat tikus-tikus wajah manis memasuki parlemen

Saat program-program menjadi ajang bancaan korupsi

Saat pencitraan Pemimpin menjadi topeng penipuan

Saat derita masyarakat menjadi objek jualan kampanye

Saat korban diundang di TV menjadi saksi penguat kehebohan tak bermakna

Saat agamawan dibayar mahal untuk mengkondisikan kefakiran jamaah

Saat Pengamat dibungkam dengan sederet penghargaan

Saat Akademisi diam mampus diancam dicopot dari jabatan Dosen dan Guru Besar

Saat Mahasiswa usai diajak makan Presiden menjadi bisu

Saat Kepala Daerah ramai-ramai menyewa ‘’Dukun Pencitraan’’ agar terlihat sok merakyat

Saat kata-kata yang keluar dari mulut tak berpendidikan ini membual

Saat Anda yang tak ku kenal membaca puisi tidak jelas ini

Saat Anda mulai menghakimi apa yang ku bicarakan

Saat itulah kaki ibu-ibu kendeng beku, membatu dalam kerasnya dekapan semen

Aku tak tahu mengapa, ibu-ibu selalu mengingatkanku pada pertiwi

Ibu yang tidur tertekuk, membayangkan Pemimpinnya yang keenakan sarapan semen

Indonesia yang ku kenal, tak pernah menyelenggarakan pembangunan berbasis kenyataan

Investasi yang digadang-gadang, hanya melayani elit serigala Pemangsa minoritas

Katanya Negara menyejahterakan seluruh Rakyat, kok bohong?

Katanya DPR wakil rakyat, kok pura-pura tak melihat?

Katanya Ulama pewaris para Nabi, kok tidak menjadi Pembebas kaum terlindas?

Katanya mahasiswa agen perubahan, kok malah sibuk tawuran?

Katanya Presiden lahir dari Rakyat, kok gak ikut-ikutan dan mencoba hianat?

Ah, kedaulatan Rakyat yang kau bicarakan ternyata semu

Dari dulu pembangunanmu selalu menyingkirkan si Lemah

Ada yang dibangun, ada yang diruntuhkan

Ada yang untung, ada yang buntung

Ada yang lestari, ada yang mati

Ada yang makan untuk hayati, ada yang muntah karena polusi

Ada yang bebas berkeliaran, ada yang terpasung semen

Ada yang berjas necis, ada yang kumel berdebu kelabu

Ada yang makan mewah diberanda istana, ada yang makan nasi bungkus ditumpukan kardus

Ada yang sibuk bagi-bagi sepeda, ada yang panen nestapa

Ada duka, tapi malah digoreng Penguasa untuk mendulang suara

Bila anda sehat, tapi dilukai

Bila anda sakit, tapi tak diobati

Bila anda punya aspirasi, malah dicueki

Bila Anda punya tanah indah, malah dibor dan dilubangi

Bila sawah subur, malah dijadikan tempat kubur

Bila berteriak, malah dicap anjing menyalak

Bila jauh-jauh ke Ibukota untuk audiensi, malah ora digagasi

Bila pembangunan ujung-ujungnya membunuh pelan-pelan

Dan Anda datang jauh-jauh berniat urun rembuk, tapi malah diperlakukan Jancuk

Maka hanya ada satu kata, LAWAN!