1 tahun lalu · 318 view · 3 menit baca · Filsafat 75095_38573.jpg

Pembagian Lain dari Lafaz Mufrad

(Ngaji Mantik Bag. 12)

Sebelumnya sudah diterangkan bahwa lafaz mufrad terbelah kedalam tiga bagian, yaitu kalimat, ism dan adat. Pembagian ini ditilik berdasarkan petunjuk yang dikandungnya, atau berdasarkan kelayakannya untuk diinformasikan (shalahiyyatuhu li al-Ikhbar bih).

Kalimat menunjukan makna dan terikat dengan waktu. Ism juga menunjukan makna tapi tidak terikat dengan waktu. Sedangkan adat, atau huruf, tidak menunjukan makna apa-apa kecuali jika dirangkai dengan kalimat yang lain.

Kalimat dan ism bisa diinformasikan secara berdiri sendiri. Sedangkan adat tak bisa diinformasikan kecuali jika dirangkai dengan kalimat yang lain. 

Pada tulisan ini kali ini kita membahas tentang pembagian lain dari lafaz mufrad, yakni pembagian berdasarkan mafhumnya, atau hubungannya dengan lafaz mufrad yang lain.

Berdasarkan mafhum dan hubungannya dengan lafaz yang lain, lafaz mufrad terbagi dua: ada taraduf dan ada tabayun. Bagaimana penjelasannya? Mari kita simak uraian sebagai berikut:

Tarâduf

Pengertiannya: “ittihad al-Lafzhain aw aktsar fi ma’na wahid” (menyatunya dua lafaz atau lebih dalam satu makna). Singkatnya, taraduf itu ialah persamaan kata dari sudut maknanya. Seperti kata insan dan basyar, yang keduanya berarti manusia. Atau kata asad dan laits, yang keduanya bermakna singa. Dan contoh-contoh lainnya.

Para ahli ilmu mantik biasanya mengilustrasikan dua lafaz yang mutaradif ini seperti dua orang yang menaiki satu kendaraan. Dua lafaz yang berbeda itu seperti dua orang tadi. Sedangkan makna yang dikandungnya diilustrasikan seperti kendaraan yang satu.

Namun, penting dicatat bahwa yang menjadi tolak ukur apakah suatu lafaz itu masuk kategori taraduf atau tidak adalah mafhumnya, bukan mashadaq-nya (dua istilah ini akan dibahas secara terpisah pada tulisan mendatang).

Atas dasar itu, jika ada suatu lafaz yang mashadaq-nya sama, tapi mafhum-nya berbeda, maka kedua lafaz itu tidak bisa dikatakan mutaradif. Misalnya kata Insan dengan nathiq. Kedua lafaz tersebut berlaku untuk mashadaq yang sama, yakni siapa saja yang dinamai manusia dan mampu berpikir. Tapi karena mafhum keduanya berbeda, maka ia tidak bisa disebut mutaradif.

Tabâyun

Pengertiannya: “ikhtilaf al-Lafzhaini fi al-Ma’na wa al-Mafhum” (Perbedaan dua lafaz dalam aspek makna dan mafhumnya). Ini kebalikan dari yang sebelumnya. Jika dua lafaz sebelumnya memiliki kesatuan makna, maka yang kedua ini berbeda dalam soal makna. Contohnya banyak: Cinta dan benci. Galau dan bahagia. Emas dan perak. Langit dan bumi. Dan lain sebagainya.

Berdasarkan perbedaaan makna yang dikandungnya, tabayun ini kemudian dibagi lagi menjadi tiga, yaitu tamâtsul, takhâluf, dan taqâbul. Penjelasan beserta contoh-contohnya sebagai berikut:

[1] Tamâtsul

Dua lafaz dikatakan tamatsul jika makna salah satu lafaznya menyerupai makna lafaz yang lain dan keduanya terikat dalam satu hakikat yang sama. Misalnya antara Ariel dengan Dude Herlino. Dua orang ini berbeda, tapi keduanya terikat dengan makna dan hakikat yang sama sebagai manusia. Atau seperti manusia dan kuda. Keduanya berbeda, tapi hakikat keduanya sama, yaitu sebagai hewan.

[2] Takhâluf

Dua lafaz dikatakan takhaluf jika makna lafaz yang satu berbeda dengan makna lafaz yang lain. Contohnya seperti kuda dan gajah. Kedunya bisa dikatakan tamatsul dalam hakikatnya sebagai hewan. Tapi, ditilik dari sudut identitasnya, keduanya jelas berbeda. Karena itu, keduanya disebut takhaluf.

[3] Taqâbul

Dua lafaz dikatakan taqabul ketika makna keduanya berbeda sama sekali sehingga tak mungkin terhimpun dalam satu waktu dan tempat. Seperti putih dan hitam. Gerak dan diam. Cinta dan Benci. Dan lain sebagainya.

Taqabul ini kemudian dibagi lagi menjadi empat, yaitu taqabul al-Naqidhain, taqabul al-Diddhain, taqabul al-Milkah wa al-‘Adam, dan taqabul al-Mutadhayifain. Penjelasannya sebagai berikut:

  • Taqabul al-Naqidhain: Dua lafaz yang saling bertentangan yang menutup adanya kemungkinan ketiga. Seperti manusia dan bukan manusia. Hidup dan tidak hidup. Cinta dan tidak cinta. Galau dan tidak galau. Dan contoh-contoh serupa lainnya.
  • Taqabul al-Diddhain: Dua lafaz yang berlawanan, tidak mungkin terhimpun, tapi masih membuka ruang adanya kemungkinan ketiga. Contohnya seperti hitam dan putih. Pintar dan bodoh. Cantik dan jelek. Dan lain sebagainya.
  • Taqabul al-Milkah wa al-‘Adam: Dua lafaz yang berbeda, yang dasar perbedaannya itu ialah keadaan dan ketiadaan. Contohnya seperti kebutaan dan penglihatan. Atau pendengaran dan ketulian. Dan lain sebagainya.
  • Taqabul al-Mutadhayifain: Dua lafaz yang berbeda, yang salah satunya tidak mungkin bisa dibayangkan kecuali dengan mengetahui yang lainnya. Contohnya seperti kebapaan (al-Ubuwwah) dan keanakkan (al-Bunuwwah). Atau seperti sebab (al-‘Illat) dan akibat (al-Ma’lul). Dan lain sebagainya.

Kesimpulannya, ditilik dari hubungannya dengan lafaz lain, lafaz mufrad dibagi dua, yaitu taraduf dan tabayun. Tabayun dibagi kedalam tiga macam, yaitu tamatsul, takhaluf dan taqabul. Yang taqabul ini lalu dibagi lagi menjadi empat, yaitu taqabul al-Naqidhain, taqabul al-Diddhain, taqabul al-Milkah wa al-‘Adam, dan terakhir taqabul al-Mutadhayifain.

Artikel Terkait