1 tahun lalu · 350 view · 4 min baca · Filsafat 70491_96945.jpg

Pembagian Kulliy Berdasarkan Keterkaitannya dengan Esensi

Ngaji Mantik Bag. 17

Berdasarkan keterkaitannya dengan esensi (mahiyyah), lafaz kulliy dibagi dua: ada dzatiy, dan ada ‘aradhiy. Ada kulliy yang bersifat esensial, dan ada kulliy yang bersifat aksidental. Apa itu dzatiy? Dan apa itu ‘aradhi? Tulisan ini akan menjelaskan dua istilah tersebut beserta contoh-contohnya.

[1] Kulliy Dzatiy

Pengertiannya: ma la yakunu kharijan ‘an mahiyati ma tahtahu min afradihi (suatu lafaz universal yang tidak keluar dari esensi individu yang berada di bawahnya). Dengan pengertian lain, kulliy dzatiy adalah lafaz kulliy yang masuk dalam esensi individu yang tercakup oleh lafaz tersebut.

Jika ia menjelaskan esensi utuhnya (tamam al-Mahiyah), maka ia termasuk na’u (species). Contohnya seperti kata insan yang diberlakukan bagi individu-individu di bawahnya. Kata insan menjelaskan esensi utuh dari Socrates, Plato, Aristoteles dan nama-nama manusia lain yang tercakup oleh kata tersebut.

Tapi jika ia menjelaskan sebagian dari esensi sesuatu, maka ada dua kemungkinan. Bisa jadi lafaz tersebut menyatukan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Bisa jadi juga lafaz itu membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain. Yang pertama disebut jins (genus), dan yang kedua disebut fashl (difference).

Contoh jins seperti kata hewan yang diberlakukan bagi kata insan. Kata hewan hanya menjelaskan sebagian dari esensi kata insan. Karena insan pada dasarnya bukan hanya hewan, tapi ia adalah hewan + berpikir (hayawan nathiq).

Contoh fashl seperti kata nathiq (berpikir) yang diberlakukan untuk kata insan. Kata tersebut menjelaskan sebagian dari esensi kata insan, sekaligus membedakan insan dari hewan-hewan yang lain.

Jins dan fashl pada dasarnya sama-sama menjelaskan sebagian dari esensi sesuatu. Bedanya, jika jins menyatukan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang sejenis dengan sesuatu itu—seperti kata hewan yang menyatukan insan dengan hewan-hewan yang lain—maka fashl berfungsi untuk membedakan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain—seperti halnya kata nathiq yang membedakan insan dari makhluk yang lain.

Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa yang masuk dalam kategori kulliy dzatiy, dari kulliyat al-Khamsah, hanya ada tiga, yaitu jins, fashl dan nau’. Nau’ menjelaskan esensi utuh sesuatu. Sedangkan jins dan fashl hanya menjelaskan sebagian dari esensi sesuatu.

[2] Kulliy ‘Aradhiy

Pengertiannya: ma yakunu kharijan an mahiyati ma tahtahu min afradihi (suatu lafaz universal yang berada di luar esensi individu yang berada di bawahnya). Ini kebalikan dari yang pertama. Jika yang pertama masuk dan membentuk esensi sesuatu, maka yang kedua ini berada di luar esensi sesuatu.

Yang berada di luar ini ada dua kemungkinan: Bisa jadi ia merupakan kekhususan yang dimiliki oleh sesuatu—sekalipun bukan esensinya. Bisa jadi juga sesuatu yang berada di luar esensi itu dimiliki juga oleh sesuatu yang lain sehingga tidak menjadi kekhususan, seperti halnya yang pertama itu.

Contoh yang pertama seperti kata dhahik (yang tertawa) untuk kata insan. Contoh yang kedua seperti kata masyi (yang berjalan) untuk kata insan. Tertawa hanya dimiliki oleh manusia, tapi ia tidak menjadi bagian dari esensi manusia. Sedangkan berjalan bukan hanya dimiliki oleh manusia, tapi juga dimiliki oleh makhluk hidup yang lainnya.

Dalam istilah ilmu mantik, yang pertama disebut khasshah (property), atau ‘aradh khassh, dan yang kedua disebut ‘aradh ‘am (accident). Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa yang masuk dalam kategori kulliy aradhiy, dari kulliyat al-Khamsah, hanya ada dua, yaitu khasshah, dan ‘aradh ‘am.

Perbedaan antara Dzatiy dengan ‘Aradhiy

Perbedaan antara keduanya bisa dilihat melalui tiga poin sebagai berikut:

Pertama, kulliy dzatiy tidak dipertanyakan keberadaannya. Mengapa? Karena ia menjadi bagian dari esensi sesuatu. Jika Anda mengatakan bahwa manusia itu adalah hewan yang berpikir, maka Anda tidak perlu bertanya apa yang menjadikan dia hewan, dan apa yang menjadikan dia berpikir.

Mengapa? Karena manusia tidak mungkin dikatakan sebagai manusia kecuali jika dia itu termasuk jenis hewan, dan dalam saat yang sama ia juga termasuk hewan yang mampu berpikir. Jika dua kata tersebut dihilangkan, maka tentu, ketika itu, ia tidak lagi menjadi manusia.

Berbeda halnya dengan ‘aradhiy yang keberadaannya bisa dipertanyakan. Ketika Anda mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk hidup yang bisa tertawa, tentu Anda bisa bertanya: “Mengapa ia bisa tertawa?” Dan “apa yang membuat dia tertawa” karena tertawa bukan merupakan esensi manusia. Dia menjadi kekhususan yang dimiliki oleh manusia. Tapi bukan esensi manusia.

Kedua, kulliy dzatiy dijadikan dasar untuk memahami sesuatu sehingga kita tidak mungkin memahami sesuatu kecuali dengan adanya kulliy dzatiy itu. Sedangkan kulliy ‘aradhiy tidak demikian. Ia boleh ada, juga bisa tidak ada. Mengapa? Karena yang kedua ini berada di luar esensi sehingga pemahaman kita tidak bergantung pada lafaz kulliy tersebut.

Contohnya seperti kata berpikir dan tertawa tadi. Kita tidak mungkin memahami manusia kecuali jika kita memahami hakikat hewan dan hakikat berpikir. Tapi kita bisa saja memahami hakikat manusia sekalipun, misalnya, kita tidak tahu apakah dia itu bisa tertawa atau tidak. Apakah dia itu bisa menulis atau tidak. Apakah dia itu bisa memasak atau tidak, dan begitu seterusnya.

Ketiga, kulliy dzatiy lebih dahulu dipahami ketimbang kulliy ‘aradhiy. Alasannya sangat logis: karena sebelum kita mengetahui hal-hal yang berada di luar esensi sesuatu, maka kita perlu terlebih dahulu memahami apa saja yang mencerminkan esensi sesuatu yang ingin kita ketahui itu.

Sebelum Anda menjawab pertanyaan apakah manusia itu bisa tertawa atau tidak, Anda harus tahu terlebih dahulu apa esensi utama yang dimiliki oleh manusia. Karena dengan mengetahui esensi itulah kita akan bisa memahami hal-hal yang berada di luar esensinya.

Kesimpulannya, berdasarkan hubungan atau keterkaitannya dengan esensi individu di bawahnya, kulliy dibagi dua: ada kulliy dzatiy, dan ada kulliy ‘aradhiy. Yang pertama bersifat esensial, dan yang kedua bersifat aksidental.

Yang pertama masuk dalam esensi sesuatu, sedangkan yang kedua berada di luar esensi sesuatu. Yang pertama mencakup jins, fashl, dan nau’. Sedangkan yang kedua mencakup khasshah dan ‘aradh ‘am.

Artikel Terkait