Egalitarian
2 bulan lalu · 343 view · 7 menit baca · Cerpen 60514_62005.jpg

Pembaca Buku yang Jatuh Cinta

Aku akan percaya bahwa kau benar-benar cinta, ketika kau menuliskan sebuah kisah cinta sebagai bentuk kecintaanmu padaku.

Perkataan tersebut senantiasa berkelebatan dalam kepala Langit dan telah menaklukkan egoismenya. Ia adalah lelaki tangguh yang angkuh. Jatuh cinta dianggapnya sebagai perkara omong kosong. Itu dulu, sebelum ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Mata di sebuah toko buku.

Waktu itu, tanpa sengaja ia menjatuhkan buku dari rak. Kemudian mengenai kaki Mata. Sontak ia meminta maaf dan mendapati tatapan Mata yang menyejukkan. Tatapan yang menyeruak ke dalam hatinya.

“Maaf, aku tak sengaja,” katanya pada Mata sambil membungkuk mengambil buku itu.

“Tidak apa-apa,” balas Mata dengan senyum manis tersungging pada bibirnya.

Beberapa detik mereka saling berpandangan, lalu saling melempar senyum. Langit terpesona, tanpa sadar benteng kokohnya roboh. Ada sesuatu yang aneh sedang menjalar di hatinya. Ia memang telah lama memimpikan bertemu perempuan cantik di toko buku dan kali ini ada di depan matanya.

“Kamu, suka baca novel juga?” tanya Mata yang menyadarkan Langit dari keterpesonaannya.

“Iya, aku suka, tetapi bergantung siapa penulisnya.”

“Oh. Kamu suka buah pena Jostein Gaarder juga rupanya,” ucapnya sambil melirik buku di gengaman Langit.

“Iya. Aku suka tulisan-tulisan yang berwarna filsafat,” balas Langit dengan memamerkan buku tersebut.

“Kamu pasti tertular juga dengan gagasannya untuk selalu mempertanyakan sesuatu dan berpikir secara tajam dan mendalam.”

“Iya. Semestinya begitu kan? Agar akal yang diberikan Allah bisa kita manfaatkan dengan maksimal. Oh iya, aku Langit. Kamu siapa?”

“Panggil saja aku, Mata.”

Karena memiliki hobi dan bacaan yang sama, ada banyak hal yang mereka perbincangkan. Sebelum berpisah, mereka bertukar kontak agar bisa menjalin komunikasi. Untuk berdiskusi buku atau sekadar basa-basi.

***

Seperti biasa, fajar menampakkan kegagahan cahayanya. Lalu menerobos jendela kamar Langit. Karena silau yang menerpa wajah dan matanya, Langit pun terbangun. Ia meraih ponselnya. Ada pesan masuk, rupanya dari Mata. Ia diajak berkunjung ke sebuah toko buku yang sedang diskon besar-besaran. Langit membalasnya dengan mengatakan akan segera menyusul. Ia pun buru-buru membereskan kamar dan wajah kusutnya.

Usai merapikan kamar, menampankan diri, dan mengisi perut. Ia pun segera beranjak ke toko buku. Sesampai di sana, ia terkesiap melihat perempuan yang mengenakan gaun merah darah. Perempuan itu adalah Mata yang sedang asyik memilah buku. Ia pun mendekatinya.

 Sembari mengamati tumpukan buku, mereka berbincang-bincang. Sesekali senyum dan candaan menyertai perbincangan mereka. Mereka terlihat lebih akrab, semenjak pertemuan pertama bulan September tahun lalu. Kini bulan Januari, sudah cukup lama perkenalan tidak sengaja mereka terjadi. Setiap harinya, selalu ada hal menarik yang mereka obrolkan. Sehingga tanpa direkayasa, mereka memiliki ketertarikan satu sama lain. Meski belum ada yang mengutarakan, barangkali karena malu atau karena merasa tidak perlu. Entahlah!

Berjam-jam di toko buku itu, ada banyak buku yang mereka minati dan beli. Mulai dari karya penulis luar seperti Jostein Gaarder, Leo Tolstoy, Milan Kundera, Oscar Wilde, George Orwell, Paulo Coelho, dan Haruki Murakami. Beberapa karya penulis Indonesia juga mereka beli – karya Pramoedya Ananta Toer, Eka Kurniawan, Fahd Djibran, Okky Madasari, dan Yusi Avianto Pareanom.

Kemudian, sebelum pulang ke rumah, Langit mengajak Mata jalan-jalan ke suatu tempat. Tadinya Mata agak ragu. Namun Langit meyakinkan bahwa tempat itu amat mengasyikkan untuk menikmati bacaan. Karena penasaran, Mata pun mengiyakan.

Mereka mengendarai roda dua ke sana, jalanan menuju tempat itu cukup berliku dan becek karena hujan semalam. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di tempat itu. Tempat yang sejuk dengan angin sepoi-sepoi dan aliran sungai yang tenang.

“Selamat datang di Lembah Kedamaian,” ucap Langit dengan senyum dan kedipan mata.

“Lembah Kedamaian?” tanya Mata dengan kerutan di dahinya.

“Aku menamainya demikian karena tempat ini selalu saja bisa mendamaikan hati. Ketika diterpa sekelumit masalah, aku ke sini untuk menenangkan diri.”

“Jadi, ceritanya kamu sekarang lagi banyak masalah. Makanya mengajakku ke sini?”

“Ah, tidak. Aku sekadar ingin menunjukkan tempat ini padamu. Tadi kan aku juga bilang bahwa tempat ini menyenangkan untuk baca buku.”

“Oh. Artinya selain ketika ada masalah. Kamu juga ke sini, ketika ingin menikmati bacaan.”

“Yaph!”

Agak lama mereka di sana. Hingga senja menyembulkan keindahannya. Mata sepertinya mulai menyukai tempat itu. Ia tidak menyadari hari mulai petang.

Tiba-tiba saja, Langit menggenggam tangan Mata dan mengutarakan isi hatinya. Ia juga menyampaikan bahwa sebenarnya ia tidak percaya cinta sebelum bertemu dirinya. Baginya dulu, cinta hanya menjadikan jiwa lemah dan mengundang berbagai drama memuakkan. Penilaiannya itu dikarenakan ia melihat kehidupan percintaan orang-orang di sekitarnya.

Tidak sedikit kasus percintaan yang membuatnya merasa geli dan jijik. Mulai dari percintaan yang saling memenjarakan – mengalasankan cemburu untuk membatasi pergaulan satu sama lain. Persahabatan yang berantakan hanya karena mencintai orang yang sama. Banyaknya kasus bunuh diri mulai dari menelan obat nyamuk, gantung diri, lompat dari jembatan, dan cara bunuh diri lainnya. Hanya karena kekecewaan terhadap cinta. Entahkah itu karena tidak terbalas atau karena terkhianati.

Drama-drama percintaan demikian yang membuat Langit membentengi diri untuk tidak jatuh cinta. Itu agar ia tidak terjebak pada labirin absurditas tersebut. Ia enggan hidupnya penuh drama seperti kebanyakan temannya. Ia tidak ingin teralihkan dari buku –buku kesayangannya.

Karena sebelum bertemu Mata, hal yang benar-benar menjadi candu dalam dirinya hanyalah buku. Baginya, hal-hal yang masuk akal dan paling mengerti yang ia ingin dan butuhkan ada pada koleksi bukunya.

Teman-teman di kampus pun menyindirnya sebagai kutu buku yang tidak tahu bergaul. Ia adalah salah seorang dari segelintir mahasiswa yang selalu menenteng buku ke mana-mana. Ketika sedang bersantai dan libur, ia lebih memilih bersenang-senang dengan bukunya. Ketimbang menuruti hasrat konsumtif dengan menghamburkan duit dan menghabiskan waktu ke pusat perbelanjaan, ke tempat karaokean, bioskop, dan tempat-tempat elite lainnya.

Meski sesekali ia berkunjung ke mall, tetapi ia hanya mengunjungi Gramedia untuk sekadar mengecek ada diskon buku atau tidak. Itu saja yang sering ia lakukan. Sehingga banyak temannya yang tidak betah berlibur dengan dia, kecuali yang memang memiliki hobi yang sama.

Hal lain yang disenanginya adalah bercengkerama dengan alam. Ia gemar sekali mendaki gunung yang sebenarnya juga ia manfaatkan untuk membaca buku dengan nyaman. Tempat yang jauh dari kebisingan. Karena ia tinggal di kota yang begitu padat dan sesak, maka terhindar dari kebisingan merupakan sesuatu yang muskil.

Itulah keseharian Langit sebelum bertemu dengan Mata. Perempuan yang memiliki kecintaan yang sama dengan dirinya. Benar kata orang bahwa dibutuhkan kesamaan untuk menghadirkan cinta. Nah, kesamaan minatlah yang memicunya jatuh hati pada Mata dan membuatnya serasa berbeda.

Meski sedari dulu ia enggan terlibat dalam percintaan. Tetapi secara naluriah, sebenarnya sejak lama ia ingin merasakan mencinta dan dicinta. Ini dikarenakan novel-novel yang pernah ia baca. Di dalamnya ada kisah cinta yang membuatnya kagum. Kisah cinta yang berbeda dari kebanyakan yang ia temui dalam keseharian.

Kisah cinta di antara dua pasangan yang saling mencintai, tanpa mesti kehilangan diri masing-masing. Kisah cinta yang tidak membelenggu, melainkan saling menghidupi. Ia ingin seperti itu. Seperti kisah cinta antara Satar dan Eva dalam novel Sabda dari Persemayaman dan Perang Hayat dan Mirah dalam novel Perang.

Akhirnya, saat itu tiba juga. Perempuan di hadapannya ini berhasil membuatnya jatuh cinta. Ia mengungkapkan perasaan dengan tulus. Ia tidak peduli apakah rasanya terbalas atau tidak. Bukan itu yang terpenting. Melainkan agar perempuan ini mengetahui perasaannya, itu saja. Sebab baginya, seperti perkataan Erich Fromm bahwa cinta adalah perihal memberi bukan menerima.

“Aku akan percaya bahwa kau benar-benar cinta, ketika kau torehkan sebuah kisah cinta sebagai bentuk kecintaanmu padaku,” kata Mata seusai Langit mengutarakan ketulusan cintanya.

“Aku tidak menuntut untuk dipercayai. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Namun karena kau meminta itu. Tunggu saja.” Lalu mereka pun pulang ke rumah karena azan magrib telah berkumandang dari masjid-masjid.

***

Esok harinya, Langit mengajak Mata ke Lembah Kedamaian lagi. Sebelum berangkat, ia memetik setangkai bunga di taman ibunya, lalu menyelipkan di totebag yang ia pakai. Sesampai di sana, ia genggam erat tangan Mata sambil menatap matanya.

“Barangkali aku bisa dikatakan pembaca keren karena mampu memahami dengan baik buku yang aku baca. Namun untuk perkara menulis, aku tak bisa apa-apa. Aku ingin sekali menulis kisah tentang pertemuan kita. Namun aku belum menemukan diksi yang cukup untuk menuliskannya.”

“Lalu, kau akan menyerah secepat itu?”

“Aku tak akan menyerah, Mata. Itu bukan diriku. Makanya, hari ini aku membawa setangkai bunga agar menjadi pelambangan cinta yang kumiliki,” ucapnya sambil mengambil bunga dalam totebag yang ia kenakan.

Mata tertegun.

“Ada banyak penulis yang mencipta karya sarat makna karena berdasar pengalaman pribadinya. Barangkali aku juga bisa mencipta tulisan yang sarat makna seperti mereka dengan berdasar pengalaman pribadiku pula.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin menulis berdasarkan kisah kita. Makanya, aku membawakanmu setangkai bunga ini. Aku ingin kita yang menjadi pelakon dari kisah yang akan kutuliskan.”

“Baiklah. Terserah kamu. Namun aku belum bisa memberimu kepastian.”

“Aku tidak peduli, kau balas cintaku atau tidak. Itu bukan inti dari kisah kita. Cukup terima bunga ini dan biarkan kuawali kisahnya.”

Mereka lalu pulang dan sepanjang perjalanan, mereka sama-sama memiliki kecamuk dalam kepalanya.