#1

Pemangsa Terbang


SUDAH lebih 20 menit suara gagak terdengar dari samping rumah. Pikiran Tiara semakin kacau. Hatinya tak tenang. Mama dan papa belum pulang, abang baru saja pergi. Suara jam besar di ruang tamu membuat suasana semakin seram saja saat berdentang hingga sembilan kali.

Hening. Suara gagak hilang. Kesunyian ini malah membuat bulu kuduk Tiara merinding. Dinyalakannya televisi, sekadar membunuh sepi. Tapi sayup yang terdengar suara tangisan bayi. Duh! "Oh iya, Kak Imah sebelah memang baru melahirkan," gumamnya menenangkan diri sendiri.

Lalu, terdengar keributan. Tiara berlari keluar. Ramai warga berteriak sambil mengejar sesuatu. Diperhatikannya dan Tiara terkejut. Karena yang dikejar itu tampak terbang, kepala tanpa tubuh tapi dengan seluruh isi perutnya. "Kejar! Tangkap! Kalau tidak, nanti ada bayi lagi yang dimangsanya!".**


................................

#2

Kamar Ibu 


DARI jauh terlihat ada keramaian di depan rumahku. Seketika perasaanku jadi aneh. Belum lama aku pergi, sekitar setengah jam saja. Membeli mie ayam pesanan ibu. Kata ibu tadi, badannya kurang enak, jadi ia kepengen makan mie ayam mas Trimo yang memang cukup jauh dari rumah.

Motor tak sempat kuparkir di tempatnya. Aku bergegas menuju pintu. Suara ribut mengiringi pandangan warga ke arahku. Banyak tatapan tak bersahabat. Aku menghampiri Pak RT. Kepadaku ia menceritakan warga baru saja menangkap sesosok makhluk yang sering menghantui warga sekitar sini. Makhluk yang menghisap darah bayi yang baru lahir, bahkan juga darah ibunya. Pak RT menunjuk sangkar yang dibawa Pak Dorman. Kain hitam yang menutup sangkar dibuka sedikit agar aku bisa melirik ke dalamnya. Aku terkesiap!

"Baik, Pak. Mari kita ke dalam." Aku membuka pintu yang tadi kukunci ketika pergi. Pak RT dan beberapa warga mengikuti. Kami menuju kamar ibu. Kuketuk beberapa kali tak ada sahutan dari dalam. Kemudian perlahan kubuka. Aku terperanjat seperti yang lain yang melihat ke dalam. Sesosok tubuh bersila dekat dipan. Tangannya bersedekap di dada. Tapi, tanpa kepala! "Ibuuuuuu.....".**


.........................

#3

Empat Puluh Hari Kemudian


EMPAT puluh hari sudah sejak kematian ibu. Kematian tragis yang membuatku menangis berhari-hari. Tak ada kerabat yang membantu, apalagi tetangga. Semua menjauh begitu tahu siapa ibu sebenarnya. Dan aku, anak satu-satunya, ikut terimbas. Tak ada tempat mengadu karena ayah sudah tiada sejak aku kecil. Begitu yang diceritakan ibu, dulu.

Dan malam ini kembali aku sendirian. Sejak ibu berpulang, aku memilih tidur di ruang tengah. Kamar jadi menyeramkan bagiku, apalagi kamar ibu.

Jam dinding berdentang sembilan kali. Di luar purnama, cahayanya menerobos dari balik tirai depan. Dari rumah sebelah terdengar tangisan bayi, baru beberapa hari umurnya. Tidak hujan, tapi aku kedinginan. Tubuhku menggigil hebat seperti demam. Kerongkonganku terasa sangat kering, aku dahaga. Oh, aku kenapa? Kupejamkan mata mencoba tidur, siapa tahu bisa meredam gigilku. Tidak berhasil, tubuhku bahkan terasa melayang. Bukan! Tubuhku ada di lantai, aku bisa melihatnya sendiri. Dan, ibu muncul di hadapanku. “Ranti, anakku sayang. Maafkan ibu. Warisan ini tentu tak kamu harapkan. Tapi kamu harus menerimanya seperti ibu. Lepaskan dahagamu, itu makananmu sudah menunggu.” Suara ibu sangat jelas. Ia lantas menuntunku ke arah suara bayi, meninggalkan tubuhku tanpa kepala, tangan, dan isi perut yang tergeletak di lantai.**


........................................

#4

Purnama Kedua


MALAM yang hening, namun indah. Purnama menggantung di atas horizon. Bintang-bintang menghiasi malam terang. Suasana yang mendamaikan, seharusnya, karena jiwaku sungguh gelisah. Angin semilir berhembus memberi kesejukan bagi tubuhku yang mulai terasa panas. Segelas besar es teh manis tinggal separuh. Gorengan yang sengaja kubeli sore tadi sudah habis, masih terasa lapar.

Aku sendirian di sini, rumah kecil di perumahan yang belum lagi ramai, jauh dari tempatku sebelumnya. Sebulan lalu aku terpaksa pindah dari rumahku sendiri. Sebenarnya bukan pindah, lebih tepat bila disebut aku melarikan diri.

Kuteguk lagi sisa es teh manis sampai habis. Tubuhku terasa semakin panas, bersamaan dengan lapar dan dahaga yang menjadi-jadi. Bayangan Ibu tiba-tiba hadir. Ah, aku sungguh tak mau mengingat Ibu. Bagiku Ibu terlalu kejam, kasih sayangnya hanya pura-pura. Aku sangat kecewa. Kekecewaan semakin dalam saat aku tak lagi anggap menopang berat tubuhku yang tak seberapa. Aku terjatuh, memaksakan merangkak masuk ke dalam rumah. Aku tak mau seorangpun melihatku berubah. Aku, Ranti, bukan lagi gadis normal. Aku bisa terbang, meninggalkan tubuhku yang  terbujur kaku tanpa kepala dan isi perut, melintasi malam mencari makanan untuk menghilangkan lapar dan dahaga. Malam ini, purnama kedua bagiku. Entah berapa purnama lagi harus kujalani seperti ini.**



*Pentigraf adalah akronim dari Cerpen Tiga Paragraf. Jenis karya sastra yang digagas oleh Dr Tengsoe Tjahjono ini mengharuskan karya ditulis dalam tiga paragraf saja dan memuat tidak lebih dari 210 kata. Pada setiap pentigraf, adanya kejutan (twist) menjadi hal penting.