Komar tengah siaga menanti sebuah aba-aba di tepian pematang. Embun pada gulma membasahi kaki telanjangnya. Ia memegangi sebilah kayu yang menancap di tanah. Di ujungnya terikat seutas tali, merentang di atas hamparan padi yang mulai menguning dan berisi, terhubung dengan kayu di seberang. Burung emprit terbang berkoloni, jumlahnya ratusan, hendak hinggap pada batang padi.

“Goyangkan kayunya!” teriak Fana dari atas sebuah batu yang sangat besar. Warga desa menyebutnya Batu Gajah. Tubuh kurusnya menantang angin. Ia menggunakan baju longgar sehingga menggelebar, seperti kibar bendera. Kalung karet berliontin peluit terpasang di lehernya. Tangan kirinya memakai glove falconry berbahan kulit sapi. Seekor Elang Jawa bertengger di sana.

“Baiklah.” timpal Komar. Ia menggoyang-goyangkan kayu ke depan dan belakang, menimbulkan suara ‘komprang-komprang-komprang,’ yang berasal dari kaleng rombeng berisi batu. Sangat gaduh. Pada beberapa titik benda itu sengaja dipasang.

Seketika dari sawah terdengar kicau burung emprit yang terbang bergerombol. Fana dengan sigap melepaskan elangnya. Dengan kecepatan tinggi ia meluncur. Mengepak-epakkan sayap saat terbangnya agak melandai. Kemudian sepasang kaki menjulur, memperlihatkan cakar dan kaki yang kokoh. Pada salah satu kaki itu terpasang cincin. Dua emprit malang tak mampu menghindar dari  terkaman.

“Hebat! Hore! Hore! Hebat!”

Orang-orang bersorak-sorai sambil bertepuk tangan. Tak banyak, hanya beberapa saja: Seorang Petani, Pak Mandor, dan Ayumi Nilakandi anaknya Fana Sastra Atmaja. Mereka menyaksikannya dari saung sawah yang tak jauh dari Batu Gajah. Sedangkan, Nilakandi melihat dari belakang sambil menyalakan perapian. Pak Mandorlah yang paling heboh. Ia berjingkrak kegirangan seperti anak kecil. Sampai-sampai ia lupa sedang merekam aksi akrobatik itu. Gawainya hampir saja terjatuh.

Fana turun dari batu itu dan menghampiri mereka, membiarkan Si Elang terbang dan bertengger di dahan kedongdong untuk memangsa buruannya. Paruh yang melengkung seperti kail itu langsung mencabik tubuh rapuh si emprit hingga koyak seketika. Setelah puas, ia menggeliat, menelisik bulu di dadanya, dan beristirahat. Namun, matanya yang tajam tetap terjaga, mengawasi setiap pergerakan di sekitar.

“Sudah kubilang, cara ini akan berhasil.”  kata Fana. “Semua akan menjadi lebih baik jika kita mau beriringan dengan alam. Selepas panen raya nanti, ada baiknya kita melakukan syukuran, sudah agak lama kita tak melakukannya.” sambungnya sambil tersenyum teduh.

“Wehlah, bisa untung besar ini!” kata Pak Mandor, seakan menghiraukan ucapan Fana tadi. Wajahnya berseri-seri. Ia mengelus-elus kumis baplangnya menggunakan telunjuk dan ibu jari. Batu Kalimaya mengerlap indah di telunjuknya.

“Jelas, dong, Juragan! Kita bakal dapat bonus, kan!?” sambar Komar. Ia datang dengan tergopoh-gopoh.

“Wehlah, kerja dulu baru dapat bonus. Ingat, tiga puluh hari menjelang panen adalah masa paling krusial!” Wajah Pak Mandor berubah masam. Tak ada seri seperti tadi

Semua orang tertawa oleh tingkah Pak mandor dan Komar. Fana hanya menyunggingkan senyum. Kemudian ditiuplah peluitnya itu sambil menyodorkan tangan kirinya. Suaranya sangat melengking. Mereka menutup telinga dan memejamkan mata. Tak perlu menunggu lama, Si Elang sudah hinggap pada tempat yang diinginkan. Lalu, Fana menenggerkan elang itu pada sebuah palang.

“Kerja bagus, Raja. Kau membuat kami terpukau.” Nilakandi berkata riang sambil menghampiri Si Elang. Kemudian ia mengelus kepalanya, dua jambul yang tegak berdiri tegak itu ikut merunduk. Tak lama, gadis usia empat belas itu kembali ke belakang.

“Eh, iya, Kang. Terima kasih banyak, loh.” Ucap petani itu seraya menjabat tangan Fana. Ia menggunakan caping dan memanggul pacul. Kulitnya legam karena sering terkena terik matahari. “Heran, burung emprit zaman sekarang sudah tak takut manusia.” sambungnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian berkata lagi, “Tak terbayang jika masalah si emprit ini tak teratasi, kehilangan padi setengah sawah bukan sedekah lagi namanya. Tapi, berkat Akang, kami jadi tak perlu khawatir gagal panen di tengah wabah ini.”

“Tenang saja, Pak,” kata Komar kepada petani itu. Ia merangkul bahunya, dan berbicara tengil sambil cekikikan, “Juragan kita ini akan untung besar, pasti kita juga bakal kecipratan manisnya. Itu juga, sih, kalau ia rela berbagi. Hihi.”

“Wehlah, kau menyindirku, hah!? Ya, ya, ya, aku akan memberimu bonus. Kalian juga bakal dapat, lima puluh lima persen untuk setiap petak yang digarap, titik.” tegas Pak Mandor dengan nada jengkel. Ia bertolak pinggang sambil mengernyit. Dua alis tebal saling bertemu. Bibirnya pun dibuat cemberut, menampakkan kumis baplang yang semakin menjorok.

Fana hanya mesem. Kemudian berkata, “Hanya ini yang ku bisa lakukan, Pak.” Tampak air mukanya tersipu malu. Kemudian ditatapnya Si Elang, “Ini juga yang berperan besar Si Raja, elangku ini. Kau memang jagoan, Raja, memang harus begini hidup itu, minimal berguna bagi tetangga! Ini semua berkat latihan kerasmu, nanti kau dapat jatah daging ayam.” pujinya.

“Biar aku saja yang memberinya makan, Pah!” pinta Nilakandi dengan nada riang. Ia membawa beberapa cangkir kopi dan singkong bakar di atas nampan.  Masih hangat. Asap tipis mengepul, membawa aroma harum yang menggugah selera. “Eh, mangga, bapak-bapak, hayu ngopi dulu!” seru Nilakandi, bibirnya menyulam senyum paling manis.

*

Satu hal yang tak diperkirakan siapa pun, bahkan oleh Pak Mandor sendiri, yaitu, video yang diunggahnya ke Facebook itu viral. Fana kini terkenal sebagai “pahlawan” para petani. Namun, itu bukan masalah utamanya. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, dibuat geram hingga naik pitam. Ia mengutus dua orang berseragam untuk berbicara kepada Fana dan membawa elangnya.

Fana tak bisa berkutik. Ia tertangkap basah sedang berada di sawah, sendirian saja bersama burung itu. Wajahnya menjadi pucat-pasi. Siapa pun pasti akan kaget ketika dihampiri dua orang tinggi besar, memakai masker, dan berseragam perlente. Terlebih orang itu tak berbicara basa-basi dan langsung ke inti.

“Jika Tuan menyerahkannya, tak akan ada proses hukum.”

“Lebih baik mati berkalang tanah daripada harus menyerahkannya.” Fana membalas ketus.

“Jangan begitu, Tuan. Negara kita itu punya hukum yang harus dipatuhi. Sebagai warga negara yang baik, Tuan harus menurut.”

Keringat dingin bercucuran dari dahi Fana.

“Tindakan Tuan itu ilegal, Serahkanlah Elang Jawa itu!” Salah seorang dari mereka menggertak.

“Tetap tidak akan. Lagi pula, nantinya akan dibawa ke mana Si Raja ini?”

“Ke penangkaran.” jawab mereka serentak.

“Lah, jika begitu, aku pun sama-sama memeliharanya. Selama ini hidup Si Raja terjamin, kenapa tidak boleh?” Fana mendesak.

“Tetap saja, tindakan Tuan itu melanggar aturan!”  tegas mereka.

“Tapi, di sini Si Raja lebih bermanfaat. Ia membantu kami para petani.” Fana mencoba untuk menyanggah.

“Justru itulah salahnya. Tuan bisa terkena pasal berlapis karena mengeksploitasi satwa langka. Bukan hanya Tuan, tapi warga desa ini juga bakal kena pidana.” Suasana semakin menegang. “Jika Tuan bersikukuh, mari bicarakan di meja hijau, biar hakim yang berbicara!” tandasnya dengan nada tinggi.

“Yang benar saja!?” sergah Fana sambil mendelik. Kemudian ia menundukkan kepalanya, menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskannya sambil menatap Si Raja. Dua orang itu hanya memperhatikan tingkahnya, saling tatap, dan mengangkat bahu secara bersamaan.

“Bagaimana, Tuan?

*

Pada suatu senja, Fana mengajak Nilakandi ke sawah. Tak ada seorang pun di sana. Mereka duduk di atas Batu Gajah. Menatap sendu ke ujung cakrawala. Memperhatikan bola api raksasa yang perlahan tenggelam.

Sebagian awan telah menghitam, menyongsong kehadiran malam. Jangkrik mengerik. Gerombolan emprit berduyun-duyun pulang ke haribaan sarang. Mereka sudah puas  menggondol padi. Angin berembus, merebahkan batang padi yang ringan.

Sebelum ke tempat ini, Fana datang ke rumah Pak Mandor sendirian. Tepatnya, pada pagi hari tadi. Ia bermaksud meminjam uang untuk “menebus” Si Raja—maksudnya, mengurus sertifikat supaya legal menjadi hewan peliharaan. Namun, tak membuahkan hasil. Juragan itu malah berkata begini kepada Fana: “Jangan terlalu dipikirkan, anggap saja kau telah menyembelih seekor ayam untuk disantap!”

“Di suatu hari anak burung belajar mengepak sayap. Tak ada gentar meski jatuh dan tersungkur. Suatu saat burung beranjak dewasa, dikunjunginya langit tertinggi, diseberanginya samudera terluas. Di usia renta burung tak berdaya, lalu mati diterkam pemangsa. Dan, pemangsa paling kejam adalah... “ Fana bergumam, tak sampai habis gumamnya itu, dipotong oleh Nilakandi.

“Pah, kenapa Si Raja dibawa oleh orang-orang itu? Apakah kita tak merawatnya dengan baik? Jika tak ada ia, lalu siapa yang akan menjaga para petani? Siapa yang akan menjaga kita? Siapa yang akan menemaniku bermain lagi?” Ia memburunya dengan pertanyaan, air mata mengucur deras dari sudut matanya.

Fana menyeka tangis itu, lalu merangkul pundak anaknya. Mereka kembali memandangi cakrawala. Matahari hampir terbenam sepenuhnya. Dalam temaram, tanpa disadari Nilakandi, mata ayahnya pun berkaca-kaca.