Sudah kadung tertanam dalam pikiran sebagian orang bahwa nuklir itu berbahaya karena kecelakaannya dapat membuat satu kota luluh lantak. Bahkan, ketika lewat bertahun-tahun kemudian masih meninggalkan derita berkepanjangan dalam bentuk penyakit akibat mutasi genetik.

Contoh kejadian paling sering disebut adalah bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki yang mengakhiri perang dunia kedua. Kejadian nahas lain berlangsung pada 26 April 1986 di Ukraina, ketika masih tergabung dalam Uni Soviet, saat sebuah PLTN meledak menghamburkan radiasi tak terkendali.

Di era media sosial saat ini, dengan mudah kita dapat mendapatkan persepsi negatif terhadap teknologi nuklir. Silakan cek di Twitter dengan mengetikkan kata “nuklir”. Fokuskan hasil pencarian pada akun-akun non lembaga atau berita, maka anda akan menemukan lontaran cuitan-cuitan dengan konotasi bahwa nuklir itu berbahaya serta musabab kerusakan dan kekacauan. Intinya, nuklir itu jahat.

Semua fakta sejarah yang menunjukkan kerusakan yang ditimbulkan teknologi nuklir tentu tak mungkin bisa dibantah. Namun, betulkah hanya kerusakan yang ditimbulkan oleh nuklir? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita analogikan dengan sebuah pisau.

Sebuah pisau itu berbahaya ketika digunakan dalam perkelahian. Bahkan, dalam kondisi tak digunakan, pisau memiliki potensi bahaya jika tidak disimpan dengan benar, misalnya disimpan di kasur. 

Namun, di balik potensi bahayanya, pisau juga bermanfaat. Di tangan seorang chef, pisau bisa menghasilkan masakan yang mengenyangkan. Bahkan, dalam perspektif ekonomi, pisau dapat menjadi kapital yang membantu manusia menghasilkan uang. Seumpama itu pulalah nuklir.

Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasi Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Sebuah perjanjian untuk membatasi kepemilikan senjata nuklir dan melakukan pemanfaatan teknologi nuklir untuk maksud damai. 

Meskipun rentan akan pelanggaran, perjanjian ini menjadi semacam pengikat agar negara-negara yang meratifikasinya tidak berlomba-lomba mengembangkan senjata nuklir. Dalam pelaksanaannya, Indonesia tidak pernah melakukan pelanggaran dan hanya mengembangkan teknologi nuklir dengan aman.

Mari kita menengok apa saja yang telah dilakukan oleh Indonesia dalam pemanfaatan teknologi nuklirnya. Berbagai bidang seperti ketahanan pangan, kesehatan, dan industri menjadi fokus Indonesia dalam mencapai salah satu tujuan bernegara, yaitu memajukan kesejahteraan umum. Sejahtera, secara umum, merujuk pada kondisi makmur ekonomi, sehat, aman, dan damai. 

Dalam bidang ketahanan pangan, nuklir dimanfaatkan untuk menghasilkan benih unggul padi. Adapun benih padi yang dihasilkan teknologi ini didapat dengan teknik mutasi radiasi. 

Penyinaran radiasi gamma dilakukan dengan dosis tertentu untuk merekayasa genetik agar sifat buruk dari suatu varietas hilang dan sekaligus meningkatkan sifat baiknya. Benih yang diharapkan muncul adalah yang tahan hama, umur yang pendek, rasa nasi yang disukai masyarakat, dan potensi hasil yang berlimpah. 

Untuk sekadar menyebutkan hasilnya, varietas yang sudah ditanam oleh para petani di 30 provinsi meliputi varietas Diah Suci, Cilosari, Mira-1, Bestari, Inpari Sidenuk, dan Mugibat. Selain padi, penelitian dilakukan juga untuk makanan alternatif seperti kedelai dan sorgum. 

Selain pertanian, sub bidang peternakan menjadi bagian dari bidang ketahanan pangan yang dikembangkan. Penelitian pakan ternak, khususnya sapi, menghasilkan Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB). 

Berbeda dengan benih yang dihasilkan dari penyinaran radiasi gamma, dalam produksi UMMB tidak ada campur tangan sinar radiasi. Yang dilakukan oleh peneliti adalah perunutan radioisotop dalam sistem pencernaan ternak untuk memformulasikan pakan yang dapat meningkatkan efisiensi pencernaan, mengurangi defisiensi unsur mikro seperti mineral, vitamin, asam amino maupun protein by-pass serta meningkatkan kinerja reproduksi. Hasil akhir yang diharapkan adalah ternak yang gemuk dan banyak keturunannya. 

Selain benih unggul tanaman pangan dan pakan ternak berkualitas, ketahanan pangan juga ditunjang oleh kemampuan mengawetkan makanan. Teknologi nuklir dalam pengawetan makanan sudah dimulai sejak tahun 1968 ketika dibangunnya iradiator gamma. 

Secara sederhana, tembakan sinar gamma akan merusak DNA sel mikroba yang bersifat patogen dalam makanan atau bahan makanan sehingga lebih tahan lama. Makanan atau bahan makanan yang dapat diawetkan antara lain sayuran, buah, biji-bijian, daging, seafood, dan rempah-rempah.

Dalam bidang kesehatan, lumrah kita ketahui ada teknologi yang disebut rontgen. Teknologi ini berguna untuk memotret bagian dalam tubuh. Ini bermanfaat bagi dokter untuk melakukan diagnosis tanpa perlu membelah tubuh si pasien. Sangat efektif dan efisien, bukan? 

Pada 1965, Indonesia memiliki reaktor nuklir pertama yang dibangun di Bandung. Pembangunan reaktor nuklir ini menjadi cikal bakal Unit Kedokteran Nuklir RS Hasan Sadikin. Setelah itu, fasilitas kedokteran nuklir di kota lain seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang pun dibangun untuk bisa melayani masyarakat lebih luas.

Selain untuk kebutuhan diagnosis, kedokteran nuklir juga menghasilkan Bank Jaringan yang manfaat utamanya untuk pengobatan luka bakar dan luka terbuka lainnya. Sejak 1998, Bank Jaringan dimanfaatkan pula untuk operasi mata. Penelitian graf tulang, yang dimulai tahun 1992, memberikan manfaat dalam bidang bedah ortopedi dan gigi. 

Pada dasarnya, Bank Jaringan dihasilkan dari donor manusia sehat dalam bentuk kulit, jaringan lunak, atau tulang. Teknologi nuklir berperan dalam sterilisasi Bank Jaringan dengan cara radiasi agar aman digunakan pada pasien.

Teknologi nuklir juga berperan dalam pencegahan penyakit yang ditularkan oleh vektor. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat dicegah dengan menekan penyebaran nyamuk Aedes Aegypti. Teknik yang digunakan adalah memandulkan nyamuk jantan untuk kemudian dilepas di wilayah tertentu. 

Dengan adanya nyamuk mandul tersebut otomatis mengurangi populasi nyamuk karena proses reproduksi nyamuk tidak akan menghasilkan keturunan. Andai Thanos sedikit lebih cerdas, dia tidak perlu menjentikkan jari untuk membunuh separuh populasi, cukup memandulkan separuh populasi.

Ada banyak contoh penggunaan teknologi nuklir di bidang industri, namun saya akan sebutkan satu contoh yang mungkin bisa membuat dahi agak berkerut lalu bertanya dalam hati “ada ya?” yaitu pelapisan permukaan kayu dengan radiasi. Dengan kalimat singkat, setelah diradiasi, semua komponen akan membentuk polimer ikatan silang yang sifatnya termoset. 

Kelebihan menggunakan teknik radiasi ini adalah proses pemadatan berlangsung cepat sehingga dapat meningkatkan kapasitas produksi. Selain itu, proses ini tidak menyebabkan polusi udara dan membutuhkan ruang yang lebih efisien.

Apa yang dipaparkan di atas hanya sedikit dari sekian banyak manfaat nuklir bagi kehidupan manusia. Tidak adil jika melihat teknologi nuklir hanya dalam perspektif bencana, meskipun melihatnya hanya dari perspektif manfaat akan menyusutkan kehati-hatian kita. 

Hal terpenting adalah memberikan ruang pada teknologi ini dikembangkan oleh bangsa sendiri agar kita dapat menangkal aspek bahaya sekaligus menggali potensinya demi kebaikan bersama.