Semakin tua umur bumi,  maka semakin banyak masalah yang di hadapi. Bumi sudah sering mengalami perubahan iklim, banyak faktor yang menyebabkan perubahan iklim terjadi terus-menerus. Salah satunya adalah aktivitas matahari yang meningkat, sehingga energi yang dipancarkan ke bumi cukup besar. 

Energi yang dipancarkan oleh matahari tersebut menghasilkan radiasi yang dapat diserap oleh gas beracun yang ada di bumi dan kemudian dipantulkan kembali ke langit. Kini bumi mengalami peningkatan pada suhu permukaannya.

Salah satu penyebabnya adalah kegiatan manusia yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil. Kegiatan yang dilakukan oleh manusia tersebut akan menghasilkan gas-gas beracun yang dapat memantulkan radiasi yang pancarkan sehingga suhu pada bumi semakin meningkat.

Penampakan permukaan bumi di tahun 1884
Penampakan permukaan bumi di tahun 2021


Gambar Kondisi Permukaan Bumi dari 1884 –  2021

Kondisi permukaan bumi dari tahun 1884 – 2021 sungguh jauh berbeda, jika dilihat dari warnanya pada tahun 1884 suhu permukaan bumi cenderung lebih dingin sementara pada tahun 2021 suhu permukaan bumi menjadi lebih hangat. 

Dapat dikatakan bahwa bumi mengalami peningkatan suhu setiap tahunnya, NASA mengatakan bahwa perubahan iklim merupakan ancaman eksistensial yang akan terjadi di zaman modern ini.

8 – 10 tahun ke depan merupakan tahun terpanas yang akan terjadi di bumi sehingga NASA menghimbau untuk masyarakat mulai melakukan gerakan melindungi kehidupan di bumi dengan mengurangi kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan pemanasan global.

Pemanasan global merupakan masalah terbesar yang dihadapi manusia saat ini, lapisan atmosfer yang semakin menipis membuat radiasi yang dipancarkan oleh sinar matahari menjadi lebih besar dan panas yang dihasilkan oleh matahari akan tersimpan di permukaan bumi. Kondisi seperti ini akan terjadi berulang sehingga membuat suhu rata-rata tahunan bumi selalu mengalami peningkatan.

NASA memantau kondisi atmosfer dan suhu bumi untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada iklim di bumi, Data pengukuran suhu yang dipaparkan oleh NASA di validasi oleh data dari satelit Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) yang merupakan satelit aqua NASA. 

Para ilmuwan menggunakan data ini untuk menganalisis perubahan rata-rata suhu yang terjadi pada permukaan bumi, NASA membandingkan suhu rata-rata global itu dengan periode dasar tahun 1951-1980. Garis dasar itu mencakup pola iklim dan tahun-tahun panas atau dingin yang tidak biasa karena faktor-faktor lain memastikan bahwa itu mencakup variasi alami suhu Bumi.

Gas rumah kaca adalah gas beracun yang terperangkap pada lapisan atmosfer seharusnya gas tersebut diterima oleh bumi dan kemudian dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah. Karena tidak semua gas tersebut dapat dipantulkan kembali dan akhirnya terperangkap di lapisan permukaan, sehingga terjadi peningkatan suhu. 

Gas rumah kaca yang dihasilkan manusia juga menjadi penyebab meningkatnya suhu udara oleh gas-gas yang dihasilkan dari aktivitas manusia seperti karbon dioksida, metana, nitrous oksida dan gas terfluorinasi.

Gambar peningkatan suhu bumi dari tahun 1880 – 2020

NASA berpendapat bahwa pemanasan global ditandai dengan naiknya suhu rata-rata pada bumi, hal ini dikarenakan adanya peningkatan kadar gas dari efek rumah kaca. 

Berdasarkan data yang didapatkan dari website resmi NASA, rata-rata suhu bumi mengalami peningkatan 0,85oC atau 1,53oF dari tahun 1880 hingga 2021. Sementara di Indonesia, BMKG menyatakan adanya kenaikan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama pada kota-kota besar.

Jika dilihat di Indonesia, masih banyak aktivitas masyarakat yang akhirnya memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Kegiatan penebangan hutan secara ilegal untuk memenuhi kebutuhan industri, kemudian emisi gas buangan dari kendaraan umum, limbah industri yang dibuang sembarangan, serta penggunaan listrik yang berlebihan. Kegiatan-kegiatan tersebut berdampak langsung pada suhu di permukaan bumi.

Sudah ada bentuk nyata dari dampak pemanasan global di dunia diantaranya yaitu adanya perubahan iklim seperti di wilayah Asia Tenggara, banyak negara yang memiliki curah hujan tinggi dan akibatnya adalah banjir serta meningkatnya erosi tanah. 

Kemudian setelah dilanda curah hujan tinggi akan ada musim kemarau dengan perubahan suhu drastis sehingga akan ada daerah-daerah yang mengalami kekurangan air. 

Kemudian lapisan es di Quelccaya di Peru mengalami penyusutan lebih dari 182 meter setiap tahunnya, begitu pun lapisan gletser di Kilimanjaro yang terus berkurang hingga 80% semenjak tahun 1912 akibat pemanasan global. Peningkatan suhu bumi ini juga memberikan dampak pada Great Barrier Reef di Australia, 95% terumbu karang yang mengalami pemutihan dan banyak habitat laut yang rusak.

Peneliti dan ilmuwan yang mengamati perubahan iklim di dunia mulai meminta masyarakat untuk berpartisipasi aktif mengurangi aktivitas yang memberikan dampak besar terhadap pemanasan global ini. 

Tentunya para peneliti juga membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk dapat mengarahkan masyarakatnya. Jika tidak ada upaya untuk menjaga kelestarian bumi maka dapat dipastikan kondisi bumi akan menjadi semakin rusak dan akan banyak terjadi bencana alam lainnya.

Untuk menjaga kelestarian bumi demi anak cucu kita di masa mendatang, sebaiknya masyarakat di dunia mulai melakukan gerakan untuk mengurangi aktivitas yang berdampak pada pemanasan global, dengan adanya upaya untuk mengurangi emisi gas karbon di dunia maka dapat mengurangi suhu permukaan bumi dan jika dilakukan secara berkelanjutan maka bumi akan mengurangi pemanasan global.