SpaceX telah mencatat sejarah sebagai perusahaan swasta pertama yang dapat menerbangkan manusia ke luar angkasa. Pada Sabtu (30/5) pukul 15.22 waktu setempat di Amerika Serikat, roket milik perusahaan tersebut sukses menerbangkan dua astronot NASA ke ISS (International Space Station).

SpaceX sendiri merupakan perusahaan yang memproduksi wahana luncur antariksa dan mengembangkan teknologi roket. SpaceX sudah menjalin kerja sama dengan NASA sejak 2008, di mana SpaceX menyediakan wahana luncur untuk mengangkut kargo ke ISS.

Setelah roket-roket milik SpaceX hanya mengangkut kargo ke orbit, akhirnya di 2020 ini SpaceX dapat menerbangkan manusia ke orbit. Hal itu menjadi peluncuran pertama astronot oleh pihak swasta dan pesawat luar angkasa berawak pertama NASA dari AS dalam 1 dekade terakhir.

Namun, apa sebenarnya misi utama dari peluncuran roket SpaceX di akhir Mei lalu? Sebelum membahasnya lebih lanjut, mari kita kenali dulu sosok yang ada di balik perusahaan besar itu yang bernama Elon Musk.

Mengenal sosok Elon Musk, pendiri SpaceX

Peluncuran roket tersebut turut melambungkan nama Elon Musk, seorang pengusaha dan miliarder yang tidak lain adalah pemilik perusahaan SpaceX. Selain pemilik perusahaan SpaceX, Musk juga membawahi perusahaan-perusahaan berteknologi canggih lainnya, seperti PayPal, Tesla Motors, Hyperloop, OpenAI, dan SolarCity.

Dilansir dari Biograhpy.com, Elon Musk lahir di Pretoria, Afrika Selatan, pada 28 Juni 1971. Ibunya yang bernama Maye Musk adalah seorang model asal Kanada, sedangkan ayahnya, Errol Musk, adalah seorang insinyur kaya asal Afrika Selatan.

Sejak kecil Elon Musk sudah menunjukkan ketertarikannya pada komputer dan pemrograman. Pada usia 12 tahun, ia berhasil membuat game pertamanya yang bernama Blastar.

Menginjak usia 17 tahun, Musk pindah ke Kanada dan mengenyam pendidikan di Queen’s University. Pada 1992, Musk melanjutkan pendidikannya di University of Pennsylvania untuk belajar bisnis dan fisika.

Pada 1995, Musk membangun perusahaan pertamanya yang bernama Zip2 Corporation, yaitu perusahaan penyedia konten web untuk New York Times dan Chicago Tribune. Perusahaan tersebut kemudian dibeli oleh Compaq Computer Corporation 307 juta dolar AS.

Hasil penjualan itu digunakan oleh Musk untuk mendirikan X.com, yang kini dikenal dengan nama PayPal. Perusahaan tersebut memberikan keuntungan yang besar bagi Musk, sehingga ia dapat mendirikan perusahaan-perusahaan lainnya. Dengan banyaknya perusahaan yang ia miliki, Musk menjadi orang terkaya ke-31 versi majalah Forbes dengan kekayaan 37,2 miliar dolar AS.

Tujuan mendirikan perusahaan SpaceX

Musk merupakan salah seorang yang terobsesi dengan penjelajahan luar angkasa. Ia memiliki pandangan bahwa manusia jangan ketergantungan terhadap planet Bumi agar terhindar dari kepunahan. Musk memiliki keyakinan bahwa kehidupan multiplanet itu mungkin agar dapat menjaga kelangsungan hidup spesies manusia.

Dengan motivasi tersebut, Musk mendirikan perusahaan SpaceX pada 2002. SpaceX didirikan untuk mengembangkan dan memproduksi wahana luncur antariksa, serta mengurangi biaya transportasi luar angkasa, sehingga membuka jalan agar manusia dapat mengeksplorasi luar angkasa.

Pada 2008, Elon Musk dengan SpaceX-nya berhasil memenangkan kontrak dengan NASA yang bernilai 1,6 miliar dolar AS. Dengan kontrak tersebut, SpaceX memfasilitasi NASA untuk mengirimkan kargo dari Bumi ke ISS menggunakan roket miliknya.

Dengan teknologi yang dimilikinya, SpaceX menjadi perusahaan swasta pertama yang secara rutin mengembalikan roket ke Bumi. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan propulsif atau dorongan sembur oleh jet, sehingga roket dapat dipakai ulang ketimbang dibuang di angkasa.

Setelah rutin mengangkut kargo ke ISS, akhirnya pada 2020 ini roket hasil produksi SpaceX dapat mengangkut manusia. Roket yang diberi nama Crew Dragon itu telah berhasil mengirim 2 astronot NASA ke ISS.

Obsesi Elon Musk membangun koloni di Mars

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, Musk memiliki obsesi untuk mewujudkan kehidupan multiplanet. Musk terobsesi untuk bisa membangun koloni manusia di Mars.

Pada 2017, Elon Musk mengungkapkan keinginannya itu di depan publik. Sebagaimana yang dilansir oleh The Telegraph, Musk menyatakan kalau dirinya memiliki cita-cita untuk membangun koloni di Mars dalam jangka waktu 50 tahun ke depan.

Ia juga memaparkan rencananya untuk memindahkan satu juta penduduk Bumi ke Mars yang akan dimulai pada 2023. Sebagaimana yang dipublikasikan jurnal New Space, Musk berencana membangun Mars Colonial Fleet dengan lebih dari 1000 pesawat ulang-alik yang dapat mengangkut 200 penumpang.

Misi Peluncuran Crew Dragon

Peluncuran pesawat luar angkasa, Crew Dragon merupakan langkah awal dari rencana Musk membangun koloni di Mars. Peluncuran Crew Dragon tersebut merupakan tahap akhir dalam proses validasi keamanan operasi pesawat luar angkasa tersebut.

Dua astronot yang diterbangkan, Bob Behnken dan Doug Hurley, akan menguji sistem kendali lingkungan, layar-layar, kendali dan pendorong manuver Crew Dragon. Selain itu, mereka akan memonitor sistem pengaitan otonom saat mendekati ISS. Selanjutnya mereka akan menguji Crew Dragon dan melakukan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan ISS.

Keberhasilan Crew Dragon dalam mengirim 2 astronot ke ISS merupakan pencapaian yang besar bagi SpaceX. Jika misi Crew Dragon sukses, maka kemungkinan Musk untuk lebih banyak mengirim manusia ke luar angkasa dan membangun koloni di Mars akan segera terwujud.

Kehidupan multiplanet bisa jadi bukan hanya sekadar isapan jempol semata. Peradaban manusia bisa jadi akan segera sampai ke Mars.

Bukan hanya itu, keberhasilan Crew Dragon juga membuka era perjalanan luar angkasa komersial. Tidak menutup kemungkinan bahwa perjalanan menuju luar angkasa, ke depannya, menjadi seperti pariwisata biasa bagi orang-orang.

Namun, apakah tepat obsesi Elon Musk untuk membangun kehidupan di luar planet Bumi? Apakah tepat manusia meninggalkan Bumi agar bebas dari ancaman kepunahan?