Beberapa waktu lalu saya melihat-lihat pameran permanen Komunitas Pelukis Realis Solo di suatu galeri di Solo. Lukisan-lukisan yang dipamerkan menurut saya luar biasa. Indah. Sangat memanjakan mata. Sebagai awam seni lukis, saya kerap merasa bodoh di tengah pameran lukisan yang membuat dahi saya mengerut: bingung pada maksud suatu lukisan, alih-alih merasakan sensasi indah. Tujuan utama melihat pameran lukisan bagi saya tentu untuk melihat keindahan, dan bukan untuk berpikir.

Ternyata inilah makna kata ‘pelukis realis’ dari nama komunitas tersebut. Dari narahubung komunitas itu, Bapak Sunu Prasetya, saya mendapatkan penjelasan yang cukup mencengangkan. Secara sederhana dapat dikatakan ada dua arus utama di dunia seni lukis. Di satu sisi, ada kelompok pelukis dengan teknik garap realistik. Mereka melukis dengan pengamatan murni, tanpa terbeban menyampaikan gagasan-gagasan dan polemik nilai-nilai. Melukis dengan menggunakan mata dan tangan, berpijak pada realitas visual obyek, menawarkan kenikmatan visual. Inilah yang saya anggap memanjakan mata itu.

 Di pihak lain ada seniman yang berkarya menggunakan media-media visual, namun lebih mengedepankan gagasan dan pergumulan nilai dalam karyanya. Melukis dengan menggunakan otak dan kata-kata, memprioritaskan tersampaikannya ide-ide dan terkadang melepaskan diri dari kaidah-kaidah kenikmatan visual. Tentu tak ada yang salah dengan kedua arus utama seni lukis tersebut. Masing-masing memiliki penikmatnya sendiri.

Hanya saja belakangan para pelukis realis sering merasa terpinggirkan karena opini-opini yang kurang berpihak pada pelukis realis. Antara lain bahwa lukisan mereka hanyalah kerajinan tangan (craft) dan bukan karya seni, karena tak ada gagasan atau ide yang diperjuangkan di dalamnya. Keadaan ini diperparah dengan adanya hegemoni dari lembaga pendidikan seni, bila karya seni bermutu tak hanya mengandalkan visual. Karya-karya realis dianggap rendah mutunya karena tolok ukur penilaiannya kini beralih ke intelektualitas. Tiba-tiba skill melukis yang dipupuk dengan intensitas dan ketekunan oleh para pelukis realis selama berpuluh tahun menjadi terasa tak dihargai. 


Tanpa sengaja pula institusi pemerintah sering menyuburkan pandangan-pandangan yang mendiskreditkan seni lukis realis ini. Kompetisi lukis yang diselenggarakan institusi pemerintah misalnya, penilaian senantiasa memberi bobot lebih pada gagasan dan nilai-nilai dibanding skill teknis melukis. Ruang-ruang pamer dan kuratorial pun serupa, seakan tidak diperuntukkan bagi mereka yang memamerkan kemampuan teknis melukis, tetapi condong kepada mereka yang memamerkan wacana. Pelan-pelan terbentuk preferensi seni yang kurang berpihak pada pelukis realis. 

Saya teringat Norman Rockwell, pelukis Amerika yang karyanya saya sukai. Karyanya banyak menggambarkan keseharian masyarakat. Terasa ceria dalam persepsi saya. Namun, saya pernah kaget ketika mengetahui Rockwell tak dianggap sebagai pelukis di lingkungan seni lukis Amerika. Ia hanyalah ilustrator, seseorang yang hanya melukis, tanpa menyelipkan ide-ide besar dalam lukisannya.

Sampai di sini saya mulai paham dan bersedih, kemudian narahubung komunitas memberikan penjelasan yang lebih memprihatinkan. Imbasnya bisa panjang, ekosistem seni lukis menjadi kurang berpihak pada mereka. Membuat seniman realis semakin sulit mengandalkan hidup pada seni lukis semata.

 Dalam pameran kali ini, Komunitas Pelukis Realis Solo banyak menampilkan lukisan-lukisan tentang Jokowi, sosok yang tanpa sengaja membuat Komunitas Pelukis Realis Solo ini terbentuk menjelang Pilpres 2014. Lukisan-lukisan Jokowi itu adalah sikap politik para pelukis realis saat itu. Awam, sederhana tetapi itulah ‘cara ndesa’ yang mampu dilakukan perupa. Pameran ini ingin mengenang kembali harapan-harapan yang pernah ditorehkan di atas kanvas saat itu. Harapan semoga situasi membaik bagi semua. Mimpi sederhana akan penghargaan yang layak bagi profesi keahlian para pejuang keindahan.

Para pelukis realis itu mendaras harapan sederhana, bila pameran-pameran yang mereka adakan dapat mendorong perubahan pada ekosistem seni lukis, berupa apresiasi masyarakat yang lebih besar terhadap  karya seni lukis. Dengan cara sederhana, interaksi yang lebih intens dari masyarakat terhadap karya-karya seni lukis. Baik dengan cara banyak mengunjungi pameran maupun meramaikan pasar seni lukis sebagai tempat para pelukis menggantungkan hidup.

Para pelukis realis tidak mengharapkan mereka dihidupi pemerintah. Berbeda dengan banyak orang kaya Indonesia yang justru sangat menggantungkan diri dari proyek pemerintah. Para pelukis realis itu hanya berharap pemerintah lebih mengedukasi masyarakat tentang arti, makna dan manfaat kesenian, untuk keberlanjutan seni lukis di masa yang akan datang. Dari situ akan tercipta ekosistem seni lukis yang kondusif, sehingga para pelukis realis itu mampu menghidupi diri dari seni lukis. Cita-cita sederhana agar profesi pelukis realis dapat menjadi tumpuan hidup mereka. Bila mungkin, mereka berharap Perbankan menjadikan para pelukis menjadi nasabah yang kredibel. 

Fakta yang terjadi memang cukup menyedihkan. Narahubung bercerita ada banyak dari pelukis di komunitas itu yang kini terpaksa alih profesi. Melukis tak lagi dapat diandalkan untuk bertahan hidup. Ada yang menjadi tukang parkir, nelayan, bahkan tidak sedikit yang telah meninggalkan Solo, mengadu nasib ke tempat lain yang jauh sebagai buruh. Menyedihkan, mengingat kemampuan melukis bukanlah kemampuan yang bisa didapat instan, perlu ketekunan bertahun-tahun. Lebih memprihatinkan lagi bila kita sadar, kemapuan melukis adalah kemampuan langka. Bisa jadi belum tentu ada satu pelukis di antara 5.000 orang. 

Pernah ada banyak pelukis realis hidup lebih dari layak, sejahtera. Demikian pula banyak penikmat karya lukis realis yang menjadi kolektor, tak hanya penikmat tapi juga menjadikannya sarana investasi. Nilai karya lukis berkembang melintasi waktu, bahkan jauh setelah pengkarya maupun pemilik karya tersebut tutup usia. 

Kini kisahnya berbeda. Masyarakat mulai kehilangan kenikmatan menikmati lukisan realistik yang indah. Mereka tak lagi gemar memanjakan indera dan imajinasinya. Menangkap energi yang meletup-letup dari setiap goresan warna lukisan. Mengagumi kepekaan mata para pelukis akan nilai cahaya dan warna. Bisa jadi seni lukis realis terpinggirkan oleh seni lukis yang megah penuh gagasan dan wacana, bisa jadi pula terpinggirkan oleh gilang-gemilangnya teknologi audio visual. 

Di situ saya sedikit tersadar tentang fenomena manusia sepanjang sejarah peradaban: manusia sering terjebak menjadi rumit dan sulit untuk sederhana. Menambahkan banyak unsur yang tak terlalu berhubungan saat menilai sesuatu. Seperti menilai outfits seseorang misalnya, tak hanya unsur keindahan yang dipakai, tetapi unsur lain seperti merek yang merefleksikan gengsi. Relijiusitas atau iman misalnya, seringkali juga diukur dari hal lain di luar budi pekerti. Penampilan misalnya. Menjadi lebih bijakkah pertimbangan manusia setelah menambahkan unsur tak berhubungan itu? Tidak juga, tidak selalu… 

Seni lukis ketika ditambah gagasan bisa jadi menjadi terasa intelek, bermartabat, tetapi seringkali justru berjarak dengan penikmatnya. Seperti saya yang sebal melihat pameran lukisan terlalu abstrak, Bapak saya yang sebal melihat Picasso dan menganggapnya tak mampu melukis. Dalam pandangan awam yang lazim: kalau ingin menyampaikan gagasan besar, mengapa tidak dengan menulis atau berorasi?

Bisa jadi pandangan kami ini naif. Para penikmat seni lukis yang hanya ingin melihat keindahan, bukan lainnya. Bisa jadi kami ini egois, seolah abai pada gagasan besar atas nama pembangunan, peradaban, ataupun hal-hal megah lain….  Tetapi faktanya, seni lukis realis makin tergerus, sementara ada seniman-seniman lukis yang harus diselamatkan. Mereka garda terakhir dari suatu karya berbasis bakat, kedisiplinan dan ketekunan yang tak lahir dalam sekejap. Tidak setiap saat pelukis lahir…. 

Mereka para pejuang keindahan. Selayaknya kita mengapresiasi mereka, ada dan tidak idealisme ataupun gagasan kekinian dalam karya mereka. Pejuang keindahan, mereka yang memanjakan indra-indra kita, layak mendapat penghormatan yang tinggi dari kita. Bukankah seni melembutkan hati, membawa kebahagiaan, dan menjauhkan kita dari hal-hal destruktif. 

Kalau kita ingin generasi penerus yang gembira, bahagia, tak mudah terbakar amarah….

Kalau kita ingin masa depan NKRI yang tak tercabik-cabik perpecahan bangsa….

Saatnya kita mulai mendekatkankan diri dengan kesenian. Seni. Termasuk juga seni lukis realis yang konon dianggap hanya memanjakan mata tanpa membawa pesan apapun.