Seniman
1 tahun lalu · 103 view · 6 min baca · Seni 50726_28164.jpg
Melukis di Taman (Kartono Yudhokusumo - 1952)

Pelukis dalam Lukisan

Rumah budaya bermerk Wijaya tak surut dikunjungi penikmat seni. Silih berganti, tapak-tapak kaki menuju bingkai imaji yang tersusun indah memikat hati. Tapi ada satu ruang yang sunyi, ruang bawah tanah yang memajang satu lukisan yang dikurung etalase kaca laminated. Sungguh, tak ada yang berani mendekati.

Jika disebut bahwa lukisan itu unik dan artistik, belumlah kiranya. Cuma saja lukisan dalam kaca laminated ini sudah sangat terkenal dengan misterinya. Sebuah kanvas berukuran 100x200 yang menggambarkan sebuah kursi taman di tengah belantara. Ya hanya itu.

Tara, seorang pemuda umur 24 tahun berdiri mematung tepat beberapa langkah dari lorong menuju ruang bawah tanah. Sudah lebih dari satu jam ia di sana, tak bergeming. Tak ada niat si lelaki kurus ini untuk menancapkan pandangan ke lukisan-lukisan indah yang terpajang di sekelilingnya.

“Hai, pengunjung baru ya? Wajah kamu terlihat sangat asing. Kenapa sedari tadi hanya berdiam diri? Berkelilinglah, nikmati lukisan yang ada,” tegur seorang petugas yang memakai topi newsboy cap berwarna hitam kelabu pada Tara. Namanya Gunda. Telah lebih dari lima belas tahun ia bekerja di rumah budaya Wijaya. Wajahnya telah dipenuhi guratan renta, namun senyumnya masih belia.

Tara tersenyum tipis. Sambil menunjuk sebuah lorong bercahaya biru tua menuju ruangan misterius, lelaki muda ini memberanikan diri untuk bertanya, “Kenapa tidak ada pengunjung yang berani masuk ke ruangan itu?”

“Kenapa kamu bertanya begitu? Apakah hanya sekedar mau tahu atau memang ingin tahu?” ujar Gunda balik bertanya.

Tara mengernyitkan dahi, “Aku ingin tahu. Apa sebabnya ruangan itu tidak diminati pengunjung? Kenapa lukisan yang ada di ruangan itu seperti dipasung dalam kesunyian?”

Gunda kemudian mengajak Tara untuk masuk ke lorong yang akan mengantarkannya menuju ruangan misterius. Detak jantung Tara serempak dengan derap langkah yang bergema. Ada perasaan resah, namun keingintahuan lebih hebat menyesak.

“Nah, kita telah sampai pada pintu. Bagaimana? Apakah niatmu masih terus menyesak untuk mengetahui tentang lukisan di dalam ruangan ini,” dengan menggenggam bahu Tara, Gunda menanyakan kembali tekad si pria muda. Tara menjawab dengan anggukan. Kepalang tanggung. Hanya pecundang yang mengelak ketika berhadapan dengan pintu menuju jawaban dari tanya yang meresah.

“Aku hanya bisa mengantar sampai di sini. Lanjutkanlah pencarianmu..”

Gunda berlalu meninggalkan Tara yang dikepung gundah. Derap langkah penjaga itu kian menjauh, seiring degup jantung Tara yang kian mendesak.

Tara menarik handle pintu dan membukanya perlahan. Lampu berwarna merah yang mengisi ruang menyibak ke luar, bercampur padu dengan temaram biru tua yang menerangi lorong. Tara pun melangkah ke dalam.

Cat kamar itu berwarna biru. Dengan cahaya merah menyala, ruangan tersebut seperti menyembulkan warna ungu yang syahdu. Tara melihat sekeliling, ada untaian rangkai-rangkai bunga rampai yang menjuntai menghiasi setiap sudut ruangan. Sejenak kemudian pandangannya menangkap etalase kaca yang mengurung lukisan misterius. Ia berjalan perlahan mendekati lukisan. Terkesima dalam keresahan.

Tara memandang lukisan misterius itu. Hatinya bertanya-tanya, apa yang tersimpan dalam lukisan ini hingga dipasung dengan tingkat keamanan dan perlindungan  yang tinggi? Ia terus memandang dengan tatapan tajam. Namun tiba-tiba cahaya putih pekat menyilaukan matanya. Ketika cahaya itu sirna, Tara tersentak. Tanpa sadar, ia telah duduk di kursi taman di tengah belantara.

Sejenak kemudian, seseorang datang menghampiri. Penampilannya seperti para sufi. Berjubah dan bersurban putih. Siapakah dia? pikir Tara.

“Selamat datang,” ucap kakek tua itu. Ia kemudian mengulurkan tangan ke arah Tara, “Namaku Mandala.”

Tara menyambut tangannya, “Aku Tara. Dimana aku?”

“Kamu berada di rumahku. Akulah pencipta lukisan yang katamu misterius ini.”

“Jadi si pelukis berada dalam lukisannya? Lelucon macam apa ini?” ujar Tara kian tak mengerti.

“Memang begitulah adanya. Di satu sisi aku telah muak dengan duniamu itu, dunia yang sudah tidak lagi menghadirkan keindahan. Di sisi lain, aku ingin menemani orang-orang yang ingin masuk ke dalam lukisan ini. Tapi ada satu pertanyaan yang mengusik pikiranku, kenapa orang-orang takut untuk masuk ke dalam lukisan ini? Apakah bumi sudah sangat mengikat manusianya?” ujar Mandala.

“Takut? Mengikat? Maksudnya?” tanya Tara.

“Ya. Keterikatan telah membuat manusia menjadi takut, dan begitupun sebaliknya. Setiap saat aku selalu menunggu orang-orang untuk masuk ke sini, berbincang, bercengkrama dan membahas apapun yang tersirat dari kehidupan ini. Sekarang aku bertanya padamu, apa yang membuatmu berani untuk datang melihat lukisan itu?”

“Rasa penasaran. Aku ingin tahu tentang misteri lukisan itu, dan ternyata beginilah jadinya. Aku terdampar masuk ke dalam lukisan.”

“Nah itu salah satu alasan untuk menumbuhkan keberanian, yaitu penasaran. Manusia di zamanmu telah kehilangan rasa penasaran. Mereka telah masuk ke dalam kotak-kotak paradigma sempit. Jadinya kehidupan ya begitu saja. Hambar tak berasa. Hidup di zamanmu sekarang tak ubahnya bagai tikus dalam sebuah labirin. Bergerak teratur dalam batas yang diciptakan oleh sebuah sistem. Jika demikian, apa yang kamu dapatkan? Tak ada. Hanya ketakutan-ketakutan renta yang kian menua.”

“Lalu, dengan masuk ke dunia lukisan ini, apa yang kau dapatkan?” tanya Tara.

“Bebas dari ketakutan. Di sini aku melakukan hal-hal yang berarti untuk satu masa kehidupan yang dianugerahkan Sang Maha. Di sini aku hidup dalam karyaku.”

“Bagaimana dengan kebutuhanmu di sini? Bagaimana kau bisa memenuhinya?”

Mendengar pertanyaan dari Tara, Mandala tersenyum sambil kemudian mengambil kuas serta sebuah palet. Ia melukis gambar buah-buahan, “Lihat ini..” Mandala lalu memakan lukisannya tersebut, “enak..” dia tertawa dengan mulut penuh  buah.

“Begitu saja? Berarti kau juga bisa membuat uang?” tanya Tara.

“Uang? Buat apa? Toh aku bisa membuat segala kebutuhan. Nah, begitulah hal yang telah hilang dari manusia di zamanmu. Ketakutan untuk menciptakan, ketakutan untuk berbuat dan ketakutan untuk keluar dari labirin tikus yang setiap saat mengekang langkahmu.”

“Jadi..”

“Iya, jadi hiduplah dalam karyamu,” potong Mandala.

“Bagaimana caranya?” tanya Tara.

“Buanglah segala macam target yang ingin kau raih. Ciptakan saja dan hiduplah di dalamnya.”

Hal ini sungguh tak masuk akal bagi Tara. Ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Mandala.

“Apakah kamu sudah tidak ingin keluar dari lukisan ini?” Tara kembali mengucap pertanyaan yang kian bersemi mengisi ruang pikirannya.

“Biarlah aku di sini saja. Saat ini aku hanya ingin bertemu orang-orang yang memang memiliki keinginan untuk bertemu denganku. Kamu tahu, pencipta sesungguhnya pasti ada setiap apa yang ia ciptakan. Semuanya hanya tergantung dari niat seseorang, apakah mereka ingin bertemu atau hanya sekedar memandangi saja tanpa ada niat untuk masuk ke dalam sebuah karya.”

“Ya, aku mulai paham. Tentang ketakutan itu aku pun paham. Banyak manusia yang telah dikurung oleh ketakutan. Jangankan untuk masuk ke dalam sebuah karya, untuk menikmati saja terasa tiada daya.”

“Ya. Kamu tahu betapa banyak pengalaman berarti yang terbuang percuma karena ketakutan?” tanya Mandala dengan mimik serius, “banyak sekali yang terbuang. Hidup para manusia telah dikendalikan oleh sistem yang berniat untuk membuat jalur kehidupan menjadi monoton. Kita dirayu oleh segala macam keindahan dan kenikmatan semu yang pada akhirnya hanya akan menciptakan keterikatan dan ketakutan.”

“Tapi manusia kan memang butuh pencapaian dalam kehidupannya?” sanggah Tara.

“Ya, tapi bukan kepada hal-hal yang membuatmu lupa tentang hakikat. Lihat tempat ini, ada nyanyian burung, suara desauan angin, kesejukan, kedamaian dan suara-suara alam yang menenangkan. Hal ini tidak akan kamu temui jika kamu hanya memandang dari luar. Masuklah, maka engkau akan tahu segalanya.”

*****

Gunda memasuki ruang bawah tanah di rumah budaya Wijaya itu. Tangan kirinya memegang kuas dan palet. Sejenak kemudian ia membuka etalase kaca laminated dan mengambil lukisan yang berada di dalamnya.

“Tenanglah di sana. Bumi ini hanya untuk mereka yang terikat dalam ketakutan,” bisiknya sambil menggoreskan tinta untuk menindih lukisan misterius itu. Tak butuh waktu lama, lukisan bangku taman di tengah hutan belantara pun berubah menjadi lukisan kuburan di tengah gedung-gedung pencakar langit.

*****

Artikel Terkait