Hantaman kapak nyaring terdengar. Beradu keras dengan batang kenanga. Dua sosok bayangan berkelebatan di pinggiran rawa yang sepi itu. Bunyi gedebuk akhiri segalanya, beberapa batang tumbang. 

Pedro masih saja kesetanan memotongnya kecil-kecil kayu kenanga itu. Api cemburu membuatnya lupa bahwa macina itu bertabung mirip ukelele, bersenar empat dan crong-crong bunyinya. 

“Kapan tata grandi kumi-kumi? Tanya Pedro yang sibuk memotong kayu kenanga.

“Minggu depan,” jawab Adela, salah satu dari bayangan yang berkelebat tadi.

Tata grandi kumi-kumi adalah ungkapan bahasa Kreol di daerah Tugu Jakarta yang pas untuk menanyakan kapan sebuah pesta akan berlangsung. Kalau diartikan: kapan kakek buyut makan-makan?

“Pedro, cukup! Macina tak sekecil itu!” teriak Adela yang tak tahan melihat kayu kenanga itu makin habis tak berbentuk, dipotong-potong terus tanpa henti oleh Pedro.

“Adela, kau buatlah frunga,” sela Pedro lemas.

Pedro tak menggubris Adela, makin emosi dia memotong-motong kayu kenanga hingga hampir habis tak berbentuk lagi. Panas nian api cemburunya. 

“Satu lagi itu, Pedro!” Adela menunjuk pohon kenanga besar di gerumbul pojok rawa. Potongan kayunya pasti pas untuk sebuah jitara atau gitar yang bersenar lengkap. Sedang frunga, hanya berdenar tiga dan kecil mirip macina.

Di hutan pinggir rawa itu banyak pohon kenanga besar. Bergaristengah hingga setengah meter. Tinggi menjulang hingga 20 meter. Kayunya keras, sangat cocok untuk bahan alat musik akustik.

Kerinduan mereka berdua seluas hutan dan rawa di ujung Batavia itu. Kepayang akan semua jenis hiburan dan pesta-pora. Dan, satu lagi, pesta rabo-rabo, keramaian yang merutin tiap awal tahun itu. Tentu tak boleh terlewatkan oleh keduanya.

Penantian panjang yang mendebarkan hati. Rabo-rabo seminggu lagi tiba. Anna, Alfonso, Pedro, Adela, Agusto dan sejumlah lainnya baru saja menjadi mardijkers; sebutan bekas budak atau tahanan keturunan Portugis yang diberi kemerdekaan oleh kompeni. Mereka mendiami kawasan hutan belantara dan rawa di tenggara Batavia.

“Sudahkah kau hubungi si Alfonso?” tanya Pedro.

“Kau selalu cemburu!” jawab Adela.

Alfonso itu biduan. Gacoan kelompok musik yang berbunyi crong-crong. Ada macina, frunga dan jitara yang dipetik jari. Gagah beriringan dengan bunyian dum-dum dari bas gitar yang dibetot-betot.

Orang menyebutnya orkes keroncong Tugu. Dimainkan kapan saja sambil berdendang ria agar hati bahagia. Lirik lagunya pastilah memikat hati. Si Alfonso yang merdu itu bergelar De Krokodilen alias si Buaya Keroncong. Istilah bagi siapa saja yang suaranya merdu.

Tentunya pula akan menjadi idaman para wanita. Bukan saja si Adela yang tergila-gila. Lima noni Belanda kampung sebelah dibuatnya mabuk kepayang. Ini membuat Pedro cemburu buta. Tak hanya tentang Adela, cemburunya hingga tentang nasib hidupnya.

Apalah dirinya hanya seorang pembuat macina yang bersenar kulit pohon waru. Crong crong crong. Itulah petikan terakhir Pedro. Tanda perpisahan dengan macina buatannya, ketika setiap kali dilepas untuk dijualnya.

Rutinitasnya hanya bolak-balik ke tepian rawa dan belukar hutan. Mencari kayu kenanga lagi. Dikapaknya lagi kecil-kecil. Dibuatnya lagi macina dengan penuh perasaan. Begitu seterusnya, hari demi hari.

Tak seperti lainnya yang kaya berdagang. Atau menjadi penjilat kompeni. Pedro begitu menghayati kenangan hidupnya. Kebahagiaan yang sempat dinikmati di kampung halaman kini menyisakan kepedihan. Sudah sangat rindu pesta San Pedro di Kristang Malaka.

Ditumpahkan kerinduan itu dengan menggerus rongga kayu kenanga hingga tipis. Disitulah tempat persembunyian perasaan sedihnya.  

Seminggu sudah hari-hari berlalu. Kini tibalah waktunya pesta pergantian tahun di kampung Tugu. Berbondonglah mereka menuju pentas. Ada tata, tata grandi, nina, sinyo semua siap berajojing.  

“Aih! Zoetlief! Sayangku, indung-indung disayang!” Van Bromel merayu.

Kompeni necis itu mata keranjang. Mengajak dansa si Asyafiya. Bekas budak bangsa Moor yang merdeka di Batavia.

Parki bas cura?
Anda undi bas?
Toma moeler?
Mengapa kau menangis?
Mau kemana kau?
Menikah!

Lirik-lirik berbahasa Kreol Tugu Jakarta itu mengalun dari mulut Adela. Tandem begitu beringasnya bersama Alfonso si Buaya Keroncong. Iramanya mengalir rancak.

Musiknya berbunyi crong-crong dum-dum ngek-ngok. Setia mengiring lirik-lirik Kreol khas kampung Tugu. Mereka larut dalam kegembiraan yang luar biasa.

Tidak seperti halnya si Pedro. Dadanya memanas di pojok selasar. Matanya nanar melihat petikan jari di macina yang pernah dibuatnya. Kini, Macina itu dipakai untuk mengiringi Alfonso dan kekasihnya yang asyik berdendang dan berajojing.

“Kakak.….!”

Suara lembut itu membuyarkan amarahnya. Pedro hanya menjeling. Tak mau kehilangan momen cemburunya yang masih terpaku di panggung itu.

“Kakak, biaki gas!”

Pedro hanya pasra ditarik olehnya. Sedang matanya masih tetap memandang ke panggung. Jadi tampaklah seperti kerbau dicucuk hidung. "Biaki gas!" adalah ungkapan Kreol Tugu yang berarti: "ayo cepat!"

“Kakak, ayo ke Padrao Tugu!”

Tangan itu terus menuntunnya hingga jauh dari panggung. Padrao adalah Prasati.

“Ini, rebana, Kakak!”

Baru pada seruan keempat Pedro sadar. Dilihatnya tangan itu. Putih bersih bertulang kecil. Ditelusurinya hingga ke wajahnya. Didapatinya wajah lucu kekanakan dengan senyum ceria.

Di rambut hitamnya terselip bunga kenanga. Kedua tangan mungilnya masih memeluk sebuah rebana yang sempat ditawarkan ke Pedro tadi. 

Pedro berdesir hatinya melihat bunga kenanga itu. Bunganya hijau kekuningan. Menggelung bak tentakel bintang laut. Aromanya sungguh semerbak.

Menyemburlah biang minyak di bunga kenanga. Makin semerbak saja tertiup angin ke hidungnya. Teringat kapak tajamnya mengoyak pohon-pohonya yang lebat berbunga itu. Demi alat musik yang bernama macina, frunga, dan jitara-nya.

“Saya Maharani Sima, anak Teja Sambara.” kata Maharani.

“Teja Sambara pemilik rawa Semper yang banyak pohon kenanganya itu?” tanya Pedro.

“Benar, Kakak!”

“Untuk apa ini?”

“Tepuk saja, Kakak!”

Ditepuknya rebana itu oleh Pedro. Pang-pung bunyinya. Sesekali dipandangi lagi wajah anak keccil itu. Kini benar-benar sadar bahwa dirinya digelandang anak kecil.

Pedro berada di komplek purbakala Padrao Tugu. Berdiri tepat di samping batu besar bulat telur yang berukir huruf Pallawa itu. 

Pedro masih saja asyik dengan rebananya. Untaian nada-nadanya tiada berirama. Maharani Sima membalasnya dengan tarian sambil berdendang.

Parki bos cura?
Dong ali didendang
Belu kordong barla bongbong!
Kenapa kamu menangis? 
Jangan bicara saja 
Mari berdansa!

Kemudian dikeluarkanlah oleh Maharani sebuah peluit dari saku mungilnya. Ditiupnya keras-keras sambil menari. Tuit-tuit bunyinya. Mengiris kesunyian di komplek purbakala itu.

Meloncatlah Maharani Sima kesana-kemari. Kemudian berganti dengan gerakan meliuk-liuk. Pedro asing dengan tarian itu. Yang dikenalnya dansa Rabo-rabo

Tepukan rebana Pedro makin tak terarah. Menimbulkan laras-laras miring tak beraturan. Sepadan dengan tarian Maharani Sima yang makin acak. Hingga akhirnya jatuh terduduk. Maharani Sima menangis dan peluitnya terjatuh di tanah.

Bos dari undi (kamu dari mana saja) ?” tanya Adela yang tiba-tiba muncul menyusul Pedro. Sepertinya pesta telah berakhir. Nafas Adela tersengal. Mimik wajahnya sedikit kacau, entah apa yang telah terjadi.

Tanpa menjawab, Pedro menuju Maharani Sima yang masih menangis. Didudukannya di pangkuannya.

“Sudah berakhirkah seronokmu dengan Alfonso?” tanya Pedro menahan api cemburunya.

“Pedro, pesta kacau! Si Bokir bersama teman-temannya bubarkan pesta!” jelasnya.

“Pasti Van Bromel mabuk-mabukan dan main perempuan!”

Sejak kompeni merecoki orkes Keroncong Tugu terjadilah pergeseran nilai. Awalnya sopan berakulturasi dengan budaya setempat. Namun, setelah itu keroncong Tugu sering diwarnai keributan akibat mabuk-mabukan dan main perempuan.

“Ayo, Kakak!”

Kembali tangan itu menuntun Pedro ke suatu tempat.

“Pedro, tunggu!” seru Adela. 

Pedro meninggalkannya begitu saja. Ternyata, Maharani Sima menuju hutan dekat rawa-rawa. Tempat di mana Pedro dan Adela mencari kayu kenanga. 

Hutan itu begitu hijau dan segar. Kecuali beberapa pohon kenanga yang tumbang tinggal pangkalnya.

“Ayo Kak, tepuk lagi rebananya!”

Pedro kembali menepuk rebana dengan irama seperti tadi, tak beraturan. Maharani Sima menari lagi. Lincah melompat dari potongan pangkal pohon kenanga satu ke potongan pangkal lainnya. Semuanya pernah dihantam oleh kapak Pedro. 

Tepat di satu pangkalnya, Maharani Sima menabur bunga kenanga yang ada di kepalanya. Kembali merogoh kantong mungilnya. Diambilnya peluit itu lagi. Ditiupnya kencang-kencang. 

Kali ini Pedro meleleh air mata. Sepertinya mulai mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Maharani Sima. Tentang pohon dan bunga kenanga itu. Pedro mendekat dan mengelus rambutnya yang kini tiada berbunga kenanga. 

“Sudahlah, mulai besok kubuat bibit kenanga. Akan kuganti yang tumbang itu.”

Kemudian Pedro memetik bunga kenanga dari pohon yang tersisa. Disisipkannya lembut di rambut Maharani Sima.

“Pedro!” teriak Adela di kejauhan

Rupanya Adela menyusul, tampak berlarian seperti dikejar anjing.

“Pedro! Maafkan aku!”

Bersimpuhlah Adela memohon ampunan. Maharani Sima mendekatinya. Dipindahkanlah bunga di kepalanya ke rambut Adela.

“Cantik,” ucapnya lirih. Adela hanya membisu dan terpaku menikmati aromanya. Pun begitu si Pedro. Ekor matanya mulai mencuri pandang wajah Adela. Makin cantik dengan hiasan bunga kenanga di rambutnya. 

“Kalian berdua menarilah!” seru Maharani Sima sambil menepuk rebana dan meniup peluitnya. Iramanya sungguh indah dan beraturan. Tak seperti tepukan si Pedro tadi. 

Perpaduan bunyi rebana dan sayatan peluit panjang menghasilkan laras-laras kontras. Tak dapat ditahan lagi getaran-getaran asmara Pedro dan Adela saling beradu kembali. Akhirnya mereka berdansa ria. Sungguh romantis suasana pinggir hutan itu.

Sejak saat itulah Maharani Sima sering diajak Adela naik panggung. Mengisi keroncong Tugu dengan rebananya. Komplit sudah, suara crong-crong, dum-dum ngek-ngok diselingi suara pung-pung prak-prak rebana. 

Biduannya masih tetap seperti dulu. Tandem Alfonso dan Adela. Namun. sejak itu keroncong lebih patriotik. Tidak ada bentrok lagi dengan warga asli. Mereka telah bersatu padu memperjuangkan orkes keroncong Tugu. Lagu-lagunya bernafaskan kepahlawanan dan perlawanan. 

Akhirnya keroncong Tugu sudah jauh dari pengaruh kompeni yang terkesan binal, liar dan hedonisme. 

Tampak di sana, si Bokir bercengkrama dengan Pedro. Kini mereka berdua poros penggerak perlawanan. 

Minuman keras yang sering bikin onar sudah diganti dengan bir pletok khas Betawi yang tidak memabukkan. Nikmat bersanding dengan kudapan khas Portugis Tugu. Ada pisang udang, ketan unti, apem kinca dan tak lupa pindang serani

Sedang peluit Maharani Sima yang tuit tuit itu, masih ada. Kini, peluit itu selalu menggantung di leher Pedro. Setiap tiupannya adalah tanda dimulainya pertunjukan musik Keroncong Tugu.  

Inilah orkes keroncong Tugu. Lambang kekar sebuah perlawanan terhadap budaya kolonial.