82173_95664.jpg
timesindonesia.co.id
Politik · 5 menit baca

Peluang Jokowi di Pilpres 2019

Jelas sudah siapa yang akan bertarung di Pilpres 2019 tahun depan. Situasi politik belakangan ini yang sungguh susah ditebak arahnya, bahkan lebih ruwet dari sinetron Orang Ketiga itu, sudah berakhir dengan deklarasi paslon capres-cawapres yang siap berkontestasi.

Kamis Sore, sekitar pukul 18.30 WIB, Jokowi mengumumkan bahwa beliau akan berpasangan dengan Ulama K.H. Ma'aruf Amin. Sebuah hal yang tidak terduga oleh banyak orang sebelumnya, khususnya para pengamat politik.

Memang dalam hal ini, Jokowi berhasil membuat sekelas pengamat top pun tampak kaku dan linglung. Siapa sangka, Rais Aam PBNU itu masuk kandidat Jokowi untuk mendampinginya, sementara masih ada nama Mahfud MD yang dinilai dan digadang-gadang sudah pasti mendampingi beliau. " Unpredictible " kata Osman Sapta Odang kala diundang Rosianna Silalahi ke acaranya.

Jelas, banyak yang kecewa dengan keputusan Pak Jokowi. Akan tetapi, tidak lama dengan kekecewaannya, semua pendukung kembali sadar, bahwa apa yang dilakukan Jokowi, pasti sudah melalui perhitungan yang matang

Setidaknya, Jokowi sudah menjalankan titah dari ijtima ulama (meski titah itu bukan untuk beliau) agar mengambil ulama sebagai wakilnya. Dan pagi tadi, Jumat ,10 Agustus 2018, pasangan ini sudah mendaftar di KPU.

**

Di kubu Prabowo, kejutan terjadi. Ijtima ulama yang merekomendasikan UAS atau SJA sebagai wakil beliau, malah menggandeng 'kawan satu rumah', Sandiaga Uno sebagai wakilnya. Ada yang terkejut?

Pasti kamu terkejut, bukan? Iya, kamu, yang selama ini berteriak harus dari ulama. Bahkan, sebelum deklarasi dikumandangkan, kita semua masih ingat pesan dari petinggi PKS dalam salah satu acara talk show di televisi yang mengatakan, "Pilihannya hanya dua: memilih hasil rekomendasi Ijtima ulama, atau ditinggal umat."

Tapi, malam saat deklarasi, beliau yang bicara begitu pun berdiri paling depan. Itulah politik. Harus dinamis, cair, dan tidak ada yang pasti, kecuali kepentingan! Dan Prabowo - Sandi pun resmi diusung tiga partai untuk berkontestasi pada pilpres nanti, yakni Gerindra - PAN - PKS. Demokrat? Jangan tanya saya, nanti juga arahannya muncul di Twitter lewat kader terbaiknya.

**

Banyak pendukung Jokowi yang merasa di atas angin, setelah pasangan JoIn (Jokowi - Ma'aruf Amin) dianggap lebih berpeluang menang di pilpres tahun depan.

Berbagai pandangan pun dilontarkan, dan para pengamat pun seakan yakin dengan hal ini. Tentunya, bukan berdasarkan survei yang dilakukan Twitter Indonesia Lawyer Club', yang memenangkan pasangan Prabowo-Sandi.

Jokowi, memang harus kita akui, cerdas dan bijak dalam memilih wakilnya. Isu SARA yang selama ini menggema setiap kali pemilu tiba, bisa ditepis dengan menggandeng seorang ulama kharismatik.

Tidak ada alasan lain bagi haters Jokowi untuk menuduhnya anti-Islam, karena beliau selalu berpihak pada Islam, pada seluruh elemen bangsa, pada pluralisme. Dan dengan digandengnya ketua MUI tersebut, bukankah beliau melaksanakan rekomendasi dari ijtima ulama?

Warga Nahdliyyin pun pasti senang dengan keputusan Jokowi, karena seperti kata KH. Ma'aruf Amin, Jokowi menghargai ulama. Dan tentunya, siap memenangkannya.

Tapi, benarkah, peluang Jokowi untuk kembali jadi presiden 2 periode sudah di depan mata?

Tunggu dulu. Catur perpolitikan bangsa kita belakangan susah ditebak. Bahkan lebih sulit dari kisah cinta Aris, Yuni, dan Afifah dalam sinteron Orang Ketiga.

Jangan sepelekan pasangan Prabowo - Sandiaga Uno. Pasangan ini bisa jadi sangat mematikan seperti ular 'Fierce Snake' dari Australia. Ular ini pemalu, tenang dan biasanya menghindar saat ketemu manusia. Tapi ketika sudah menyerang, ular ini bisa dengan cepat membunuh mangsanya.

Siapa yang menyangka, nama Sandiaga Uno akan dipilih Prabowo sebagai wakilnya? Bahkan, dua hari sebelum deklarasi, nama beliau belum terdengar desas-desusnya.

Sandiaga 'berjalan' pelan, bahkan tidak menunjukkan isyarat kepada publik bahwa ia akan maju. Dan sekali 'terkam', beliau naik tahta menggusur mereka yang lebih diunggulkan, seperti UAS, SJA, maupun AHY.

Entah berita miring apa pun yang mengiringi, kehadiran Sandiaga sebagai wakil Prabowo, wajib diwaspadai. Bahkan, sekelas elite Demokrat pun dibuat 'kejang-kejang' karena pada akhirnya Prabowo memilih Sandiaga.

Uneg-uneg pertama dituangkan Andi Arief lewat akun Twitternya. Ia menuduh bahwa PAN dan PKS menerima kucuran dana dari Sandiaga, agar legowo mendukungnya sebagai cawapres Prabowo. Meski tuduhan itu tanpa bukti, bukankah kebenaran akan pilihan Prabowo sudah terbukti?

Karena itulah pasangan Prabowo-Sandi tidak bisa dipandang remeh oleh koalisi Jokowi. 

Jika saja tuduhan Andi Arief nanti bisa dibuktikan, jelas bahwa Sandiaga Uno sudah punya perhitungan sendiri sehingga mau mengeluarkan dana sebegitu besarnya. Apalagi, Fadli Zon juga mengungkapkan bahwa mereka butuh logistik untuk mengarungi pilpres, dan Sandiaga adalah orang yang bisa mengatasi itu semua.

Jelas, Sandiaga Uno tidak ingin numpang lewat saja di gelaran pilpres kali ini. Dia sudah habis banyak, maka kemenangan harus diraih tentunya, jika tidak ingin uang yang dikeluarkannya sia-sia belaka. Segala kemampuan dan kekuatan pasti akan dikerahkan, agar kesuksesan seperti merebut kursi Wagub DKI dua tahun lalu, bisa terulang di tahun depan, dengan merebut kursi Wapres RI.

Bahkan, PKS yang selama ini ngotot ingin cawapres dari partainya, bisa dijinakkan oleh Sandiaga Uno, bukan? Apalagi Sohibul Iman sudah memberi gelar kepada Sandiaga Uno sebagai Santri era post-Islamisme. 

(Jujur, saya makin bingung, sebingungnya saya, kenapa Yuni yang sudah menikah dengan Putra, padahal masih mencintai Aris, dan Putra juga selingkuh, Aris juga galau, Afifah juga falling in Love dengan Rangga, lantas kamu sama siapa mblo?)

Peluang Jokowi - Ma'aruf Amin masih sebatas 50:50 dengan Prabowo-Sandi. Maka kesempatan memaksimalkan peluang, seperti 'Call a Friends' dan lain-lain, harus benar-benar dilakukan secara serius.

Kubu Jokowi memang seperti sudah menginjakkan satu kaki, mengingat digandengnya ulama kharismatik, Ma'aruf Amin. Bahkan, beberapa pengamat menuliskan bahwa langkah catur Jokowi lebih baik dari Prabowo Subianto.

Tapi, kontestasi sebenarnya terjadi tahun depan, dan semua hal masih mungkin terjadi. Prabowo tentunya tidak mau gagal lagi, karena jika gagal, menunggu 2024 adalah hal paling menjengkelkan. Bahkan, bisa saja peluangnya sudah habis, jika tidak mampu menang pada tahun depan.

Dan Jokowi serta relawannya tidak bisa jumawa menghadapi pilpres tahun 2019 nanti. Mereka harus tetap kerja keras, untuk mencapai keinginan dua periode.

Peluang kedua pasangan ini sama besar. Tergantung bagaimana timses mereka berjuang maksimal di masa-masa sekarang, kampenye, hingga menjelang Pemilu April 2019 nanti.

Menarik untuk disimak, tapi jangan sampai mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa. Dan doa kita segenap rakyat Indonesia, semoga kedua pasangan capres ini, berlomba untuk kebaikan bangsa, bukan bertanding untuk keluar sebagai pemenang saja.

Aku pilih Jokowi
Kamu pilih Prabowo
Tapi demi NKRI
Kita semua harus legowo