Perkembangan teknologi informasi (internet) telah membuat segala segi kehidupan menjadi lebih mudah dibuat dan disampaikan tak terkecuali juga karya sastra. Sebelum era internet merajalela, penulis banyak yang menuliskan rancangan karyanya dengan tulisan tangan atau mesin ketik manual. Dan setelah jadi tulisan,  mereka pun harus melakukan segala hal yang memakan waktu  saat harus mengirimkannya ke media ketika sang penulis ingin karya itu dipublikasikan.

Pekerjaan yang menyita waktu karena mereka harus menunggu karya tersebut  sampai ke media yang dituju juga menunggu kabar pemuatannya itupun jika ada konfirmasi dari media yang dituju tersebut. Bagi sebagian orang ini sangat menjemukan karena penuh dengan pekerjaan menunggu.

Kini semua  itu sudah berkurang dengan berkembangnya teknologi informasi. Kita bisa menulis dengan aplikasi pengolah kata yang menawarkan kemudahan untuk kita menulis. Kita tak perlu lagi menenteng alat ketik manual dan bising dengan bunyi tak tik tok nya itu. Bahkan saat menulispun jika terjadi kesalahan bisa langsung diedit  secara langsung. Tak harus mengulang mengetik atau menghapusnya dengan penghapus tertentu apabila itu dilakukan secara manual.

Yang lebih menguntungkan lagi, kita bisa lebih mudah mengirim ke media dengan perantara  surat elektronik. Karya bisa dikirim lebih cepat dan tentunya hemat biaya karena tidak lagi menggunakan kertas dan prangko saat pengirimannya. 

Karena ketersediaan internet ini sampai ke desa-desa, maka secara otomatis menjadikan sastra lebih mudah  diakses oleh semua kalangan baik di kota maupun di pedalaman. Tua, muda dari berbagai status bisa mengaksesnya asal mempunyai gawai untuk berselancar di dunia maya.

Dengan kemudahan ini, sastra menjadi familiar dan membumi karena eksklusivitas telah diredam sedemikian rupa disebabkan  semua sudah bisa membuat dan mengakses karya sastra.

Peluang dan Tantangan Sastra Di Era Internet

Dengan kemudahan berkarya, pembuatan karya harus lebih jeli untuk mengakomodasi kebutuhan yang serba praktis ini. Penyuntingan mandiri harus lebih sering mengingat kemudahan yang ditawarkan oleh aplikasi pengolah kata. Meski berkarya di era yang mengedepankan kecepatan tidak seharusnya membuat seniman berkarya dengan cepat pula. Kualitas harus didahulukan agar sastra tidak menjemukan.

Peningkatan kualitas ini bisa dilakukan dengan cara menulis lebih sering  dan menyunting lebih teliti. Jangan sampai kemudahan yang ditawarkan oleh aplikasi pengolah kata malah membuat seorang penulis lebih grusa-grusu. kita tidak harus mengulang atau menghapus apa yang ingin kita sunting secara manual dan memakan waktu serta tenaga, untuk itu penyuntingan harus bisa lebih mendalam dalam lingkungan digital ini.

Karya yang sudah selesai bisa    lebih mudah di akses dan dipamerkan dengan adanya media sosial yang bisa kita manfaatkan untuk memamerkan karya. Sebaiknya media sosial hanya kita gunakan untuk sarana memancing diskusi karya karya kita dengan berharap adanya komentar dari teman teman dunia maya yang kita punya. Kita juga bisa mengunggah apa yang kita hasilkan ke dalam grup grup sastra yang sekarang ini melimpah keberadaanya di dunia maya.

Cara ini bisa kita jadikan juga sekaligus sebagai sarana penyuntingan dengan mempertimbangkan komentar dan saran dari rekan-rekan kita. Nah setelah dirasakan bahwa apa yang kita unggah sudah final untuk kita kirimkan ke media yang memberlakukan kurasi terhadap konten yang akan dimuatnya.

Dengan memasukkan ke media yang berkurasi setidaknya kredibilitas karya bisa dipertanggungjawabkan karena pada saat karya kita tampil di media berkurasi tersebut baik itu media daring maupun media cetak  karya kita sudah melalui penilaian dari pihak ketiga.

Banyak pilihan media berkurasi yang bisa menampung karya kita di jagad maya. Penolakan pada satu media baik daring maupun cetak tak lagi bermaslah karena kita bisa dengan cepat mengalihkan ke media lainnya yang sesuai dengan selera kita. Dan pilihan yang ditawarkan sangat banyak.

 Persoalan berikutnya yang hadir dengan kemudahan dan kecepatan seseorang untuk menghasilkan karya adalah masalah kualitas. Hal ini mungkin dikarenakan ada beberapa pengamat yang merasa bahwa karya-karya sastra di era internet ini kurang pengendapan sehingga temanya kurang mendalam.

Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar karena di era yang serba cepat ini karya sastra dihadapkan pada pembaca yang ingin serba cepat juga. Tentunya kemasan dan isi sebuah karya tak lagi harus menyita waktu pembaca jika karya itu ingin mendapat apresiasi dari pembaca milenial sekarang ini.

Era yang berbeda akan menghasilkan pembaca yang berbeda pula. Kualitas sebuah karya adalah bagiamana ia bisa berpartisipasi pada  zamanya tanpa harus gagap menghadapi penikmatnya. Toh semua kritikus di tiap era selalu ada dan dengan kapabilitas yang berbeda pula.

Mari merayakan kemudahan berkarya ini untuk lebih bisa berkenalan dengan pembaca yang lebih luas baik secara geografis maupun tingkatan sosial. Biarkan waktu yang nantinya akan membentuk kita sebagai sastrawan yang betul betul menggeluti dunianya atau hanya mampir sebentar hanya untuk sekedar merasakan sensasi kepopuleran dan atribut duniawi lainnya.

Tantangan inilah yang kini harus menjadi pertimbangan para sastrawan untuk bisa terus berada di pusaran sastra dunia. Salam satra.