Bagi pihak yang berkecimpung dalam dunia bisnis, lazimnya mereka akan dihadapkan pada keadaan harus mampu membaca pasar. Mereka mencermati produk apa saja yang diminati oleh konsumen. Kemudian, mereka akan mempertimbangkan berbagai kemungkinan agar produk tersebut dapat dihadirkan di toko, sebuah sebuah komoditas yang siap untuk dijual.

Secara sadar atau tidak, mereka yang telah mempraktikkan hal tersebut berarti telah melakukan pembacaan peluang. Mereka yang melakukan pembacaan peluang itu akan mempertimbangkan biaya apa saja yang timbul pada saat berproses untuk menghadirkan komoditas. Dan tentu saja, selain itu, mereka juga akan menaksir berapa jumlah penghasilan yang dapat diraup dengan berjualan komoditas tersebut.

Hal seperti inilah yang kemudian memunculkan persepsi seperti yang tergambar dalam prinsip ilmu ekonomi, bahwa tujuan para pelaku ekonomi beraktivitas di pasar adalah untuk mengeluarkan pengorbanan (biaya) yang sekecil-kecilnya demi memperoleh hasil tertentu. Dan selain itu, mereka pun boleh memilih opsi lainnya, yakni dengan mengorbankan sejumlah biaya tertentu untuk meraih hasil yang sebesar-besarnya.

Pendekatan dari dua pilihan tersebut sekilas mirip, namun sebenarnya berbeda. Yang membedakan keduanya adalah porsi modal yang dialokasikan untuk menutup biaya produksi atau penjualan, dan target laba rasional yang dapat diperoleh berdasarkan jumlah modal yang telah dikucurkan itu.

Dan biasanya, pertimbangan lain yang dijadikan acuan oleh perusahaan untuk menentukan besarnya modal ini adalah salah satu konsep dalam ilmu investasi kita akrab dengan istilah high risk high return, low risk low return. Keuntungan yang tinggi akan selaras dengan tingginya risiko yang mungkin akan dihadapi. Pun demikian sebaliknya.

Jika kita mencermati dua jenis prinsip ekonomi tersebut, maka keduanya akan selaras dengan prinsip yang ada dalam konsep manajemen produksi. Di mana dalam setiap aktivitas produksinya, perusahaan manufaktur akan identik dengan orientasi penghematan (efisiensi) dan produktivitas.

Pendekatan efisiensi pada perusahaan diwujudkan dengan menekan biaya serendah mungkin, pada saat mereka memproduksi barang dengan kuantitas dan kualitas tertentu. Sementara goal utama dari produktivitas adalah memaksimalkan output produksi barang yang diiringi dengan bertambahnya penghasilan, setelah sebelumnya mereka mengalokasikan biaya dalam jumlah yang relatif besar. Perusahaan manufaktur boleh memilih salah satu dari dua pendekatan ini.

Bagi perusahaan rintisan atau industri yang baru saja didirikan yang masih berproses menuju fase dewasanya, maka biasanya akan cenderung sangat berhati-hati dalam menggunakan modal mereka. Pengeluaran apa saja yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan akan sangat mereka cermati untuk mengantisipasi terjadinya pemborosan.

Hal ini sangat wajar. Sebab perusahaan yang baru “mengorbit” itu pada umumnya masih berada pada tahap meraba-raba kondisi pasar yang menurut mereka ini masih penuh dengan misteri. Mereka harus mampu membaca pangsa pasar mereka, menyusun cara yang tepat untuk mendatangkan konsumen dan mitra mereka, serta mengupayakan agar konsumen dan mitra mereka dapat bertahan (loyal) terhadap produk dan pelayanan mereka.

Tentu saja, untuk menggapai tiga hal ini secara sekaligus bukanlah perkara yang mudah dan dapat dilakukan secara instan. Oleh sebab itulah perusahaan rintisan akan cenderung berhati-hati dalam merumuskan kebijakan mereka, terutama yang berkaitan anggaran agar mereka mampu menghindari timbulnya inefisiensi penggunaan dana.

Sementara itu, bagi perusahaan yang telah matang (mature), biasanya akan cenderung lebih mudah untuk merumuskan kebijakan anggaran mereka. Pada umumnya, prinsip yang mereka gunakan adalah memaksimalkan anggaran yang mereka miliki saat ini untuk menawarkan segala komoditas yang diminati oleh pasar.

Mereka berpeluang untuk mewujudkan strategi itu sebab diuntungkan oleh adanya konsumen yang telah berlangganan, subscribe pada produk mereka. Dan selain itu, alasan mereka dalam memaksimalkan anggaran mereka ini adalah untuk mewaspadai potensi hadirnya pesaing-pesaing baru yang akan mengganggu pangsa pasar mereka.

Oleh sebab itulah, bagi perusahaan yang sudah matang cenderung tidak akan segan untuk mengucurkan modal mereka untuk membiayai riset dan pengembangan produk, sebagai langkah inovasi atas produk agar senantiasa memiliki nilai unggul dalam pandangan konsumen. Dengan memiliki nilai unggul tersebut, maka perusahaan akan relatif lebih aman untuk bisa “bermain” pada harga produk mereka.

Kotler dan Keller (2016) telah merumuskan beberapa faktor yang memengaruhi harga suatu produk, yaitu: keunikan, adanya barang pengganti, kesadaran konsumen mengenai jumlah pengeluaran belanja mereka, dan manfaat akhir yang dapat diterima oleh konsumen pada suatu produk. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, maka perusahaan akan dapat membentuk sendiri strategi harga mereka.

Perusahaan yang memiliki keunggulan produk berdasarkan faktor-faktor ini maka akan cenderung lebih bebas dalam menentukan harga barang mereka. Meskipun mungkin dalam benak konsumen, harga tersebut mungkin dianggap tidak wajar.

Contoh yang masih cukup hangat dalam ingatan kita mengenai hal ini adalah harga masker yang sempat melambung tinggi hingga Rp340 ribu per dus-nya dari harga normalnya yang di kisaran Rp20 ribu saja. Alasan utama terbentuknya harga irasional tersebut adalah sebab telah terjadi kelangkaan dan pada saat itu belum ada barang penggantinya.

Berdasarkan konsep yang terdapat pada teori ekonomi, manakala jumlah permintaan atas suatu barang melampaui jumlah penawarannya, maka ia akan menyebabkan pergeseran pada harga keseimbangan (equilibrium price) produk ke arah yang meningkat. Dan rupanya, hal itulah yang menyebabkan harga keseimbangan masker bergeser terlalu jauh sehingga harganya melonjak begitu tinggi sehingga statistiknya menyentuh angka ribuan persen.

Adanya potensi ladang keuntungan yang dianggap sangat menggiurkan dari berjualan masker ini tentu tidak akan didiamkan begitu saja oleh para pelaku pasar. Mereka yang gelap mata akan mengambil langkah aji mumpung, mengambil keuntungan dengan cara menimbun masker dan menjualnya dengan harga yang tidak masuk akal. Sementara bagi mereka yang kreatif, mereka akan memaksimalkan keterampilan mereka untuk memproduksi produk tandingan atau produk pesaing.

Dan pada akhirnya, kita pun tahu sendiri. Seiring menjamurnya para pelaku bisnis di sektor produk masker ini, menjadikan harganya berangsur-angsur kembali normal. Kecuali, mungkin untuk beberapa produk masker tertentu yang menawarkan bahan khusus dan keunikan tersendiri, setelah tersentuh oleh tangan-tangan kreatif.

Alasan paling rasional mengenai penurunan kembali harga masker ini adalah karena ia tidak lagi menjadi komoditas langka yang sulit dicari. Kita dapat melihat sendiri jumlah peredarannya di pasar sudah sama dan bahkan bisa jadi lebih banyak dibandingkan jumlah permintaan barangnya. Itulah sebabnya, harga keseimbangan produk masker ini pun mengalami pergeseran ke arah menurun yang signifikan.

Berangkat dari contoh masker ini, kita dapat membawa konsep tentang keunggulan produk dan harga produk ini pada contoh-contoh lainnya. Misalnya saja untuk saat ini, kalung pembunuh virus Covid-19 atau obat penangkal virus lainnya.

Baca Juga: Bisnis Syariah

Kita boleh-boleh saja menentukan harga produk berapa pun yang kita mau. Namun, tentu kita juga tidak boleh mengabaikan sebuah pesan bijak dari pepatah lama. Yakni, ada gula ada semut. Komoditas yang memiliki peluang bisnis yang legit akan berpotensi mendatangkan para pemain bisnis yang baru.

Dan selama kita tidak berada dalam kondisi blue ocean strategy atau sebuah kondisi pasar yang nyaris tanpa persaingan, maka saya kira akan sangat sulit untuk membentuk harga pasar dengan semau udel kita sendiri.

Selain itu, pada saat kita hendak mematok harga barang yang terlampau tinggi, sekalipun mungkin, kita mungkin berada dalam kondisi yang rasional untuk melakukannya, kemungkinan besar kita masih akan berbenturan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kita akan dihadapkan pada kondisi yang dilematis untuk memilih antara mengedepankan nafsu materialistik kita yang berhasrat untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, ataukah harus memenangkan naluri kita sebagai manusia seutuhnya yang ingin menghormati, menghargai, dan ingin menolong pemenuhan kesejahteraan manusia yang lainnya.

Dan pada akhirnya, kita akan berpotensi untuk mengunggulkan sikap kemanusiaan kita dalam menyikapi peluang bisnis ini manakala kita menyadari bahwa Tuhan akan senantiasa menolong kita, bisnis kita, selama kita pun masih mau untuk menolong manusia yang lainnya.

Ditambah ke-ajeg-an kita untuk selalu merenungi sebuah pertanyaan pengingat, bukankah manusia sejatinya diciptakan untuk saling menolong satu sama lain?

Daftar Bacaan

Kotler, Philip., and Keller, Kevin Lane. 2016. Marketing Management, 15th Edition. Pearson Education Inc.