Mahasiswa lagi-lagi dibuat terbakar! Namun kali ini, persoalan terkait "Pelecehan seksual di lingkungan pendidikan" lah yang menjadi bara apinya. 

Dan nahasnya, pelaku aksi tersebut justru merupakan Dekan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, kampus itu sendiri.

Jumat kemarin, telah berlangsung aksi demo mahasiswa di depan gedung Rektorat UR (Universitas Riau), tidak tanggung-tanggung mereka membawa baliho bertuliskan ;

Hati-hati ada predator berkedok ayah di rumah kita

We stand with victim

Predator seksual merajalela

Serta banyak lagi baliho-baliho berisi peringatan mengenai pelecehan seksual lainnya.

Berdasarkan pengakuan L (Dibaca : mahasiswi yang menjadi korban) melalui video yang diunggah pada beberapa akun kemahasiswaan, ia menyampaikan bahwa,

"Setelah SH (Dibaca : dosen pelaku pelecehan seksual) memegang pundak saya, SH pun berlanjut mencium pipi dan juga kening saya, lalu bertanya 'Mana bibir, mana bibir?' sambil mengangkat kepala saya yang semula tertunduk."

Namun berdasarkan klarifikasi SH selaku Dekan FISIP kepada pers, saat dimintai keterangan, SH justru menampik hal tersebut dengan mengatakan bahwa,

"Saya memang memegang pundak L, tapi saya tidak ada mencium pipinya, keningnya apa lagi menanyakan 'Mana bibir, mana bibir?' itu tidak ada. Namun apakah tindakan saya yang memegang pundak tersebut yang dikatakan dengan pelecehan seksual?"

Sejujurnya saya mendapati sesuatu yang bertele-tele di sini, dan terkesan sengaja ditutup-tutupi oleh sang Dekan. 

Karena pada video yang sama, L mengaku bahwa Tantenya (Dibaca : keluarga yang menjadi wali L) telah mendapat panggilan telfon oleh SH untuk mengklarifikasi kejadian tersebut.

"SH mengatakan bahwa ciuman itu hanyalah seperti ciuman antara Ayah dan anak, lalu Tante saya bertanya, jika itu hanya sebatas antara Ayah dan anak, kenapa harus bertanya 'Mana bibir, mana bibir?' tapi SH masih tetap saja membela dirinya seolah yang dilakukan itu memang tidak salah."

Aih! Come on Dad! Modus-modus macam apa ini?!

Hal yang sangat saya khawatirkan dalam kasus ini adalah, korban tidak mendapatkan keadilan yang menjadi haknya terkait "Siapa" sosok yang tengah berhadapan dengan dirinya sekarang.

Saya merasa bahkan "Keluarga besar pendidik dan pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik" turut menyepelekan dan menyembunyikan hal ini. Mahasiswi tersebut mengaku ditertawakan oleh Dosen jurusan yang semula dianggapnya mampu memberi perlindungan.

"Ketika saya ingin mendapatkan keadilan atas apa yang sudah menimpa saya, justru Dosen yang ada di jurusan tertawa, dan mengatakan bahwa sebaiknya saya sabar dan memaafkan perbuatan SH."

Saya mengamati part video ini berulang-ulang dan respons saya masih tetap sama,

"WHAT?! TERTAWA?!"

Apa yang terjadi dengan tenaga pengajar dan pendidik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, khususnya jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau? Jika hal seperti ini dianggap sepele, apa jangan-jangan sudah menjadi "Kebiasaan" di jurusan tersebut?

Buktinya pasca viral video oleh L, ada banyak sekali pengakuan-pengakuan dari akun mahasiswi yang turut bermunculan di kolom komentar, dan mengaku bahwa mereka adalah mahasiswi dari Dosen yang sama. 

Mahasiswi-mahasiswi tersebut kerap dikirimi pesan, ditelfon, dicurhati masalah rumah tangga sang Dosen dengan istri bahkan diajak selingkuh.

Dan lagi kenapa saya mengatakan bahwa keluarga besar pengajar dan pendidik FISIP turut menyembunyikan persoalan ini, bukan kah bukti final seharusnya ada pada rekaman cctv? 

Bukankah tidak mungkin ruang sekelas Dekan tidak terdapat kamera cctv? Lantas kenapa? Kenapa hingga detik ini, rekaman cctv atas kejadian tersebut masih belum dipublikasi? Karena memang sengaja diamankan bukan?

Belum lagi berita bahwa Dekan FISIP ini juga merupakan kandidat Rektor UR selanjutnya. Berita ini menjadikan saya tersulut emosi! Jadi untuk alasan seperti itu, kenapa pembelaan masih dilakukan kepada Dekan FISIP?

SUDAH SEKOTOR ITUKAH DUNIA PENDIDIKAN DI FISIP, UNIVERSITAS RIAU?

Kepada yang terhormat, Bapak Rektor UR Prof. Aras Mulyadi, meneruskan rekan-rekan mahasiswa yang menuntut keadilan di depan gedung Rektorat hari Jumat kemarin, bersamaan dengan tulisan ini, saya ingin kasus ini ditindak lanjuti dengan seadil-adilnya, tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi, terlebih menganggap ini sebagai aib keluarga besar UR yang harus disimpan rapat, TIDAK PAK! JANGAN!

Ada seorang perempuan yang sedang mempertaruhkan masa depannya dalam kasus ini, dan lagi pula se-Indonesia sudah tau akan bobroknya Dosen yang bersangkutan. Ingat Pak, ini menyangkut masa depan seorang anak perempuan, mahasiswi Universitas Riau itu sendiri. 

Dan hukum mengenai kejadian pelecehan seksual di lingkungan pendidikan telah tertuang dengan jelas dalam Permendikbud No. 30 tahun 2021.

Saya turut berdoa, semoga yang menjadi kekhawatiran saya, dan barangkali ribuan mahasiswa di luar sana, bahwa yang berkuasa nantinya akan dimenangkan, itu sama sekali tidak terjadi.

Tidak akan tercoreng nama UR jika berani memutuskan bahwa yang benar itu benar, dan yang salah itu salah!

#TolakInstansiPendidikanRasaPenangkaranBuaya