Terpujilah
Wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup
dalam sanubariku

Sengaja saya tuliskan kutipan lirik Hymne Guru ciptaan Sartono untuk mengucapkan selamat Hari Guru Nasional pada 25 November ini. Saya tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa para guru yang sudah sedemikian rupa mengajari saya. Sekalipun melalui tulisan ini.

Enam belas tahun saya menjadi murid, dimulai dari sekolah dasar hingga berhasil menyelesaikan kuliah. Semua berkat ketulusan mereka mengajari saya. Para guru dan dosen saya, terima kasih untuk semua ilmu yang diberikan kepada saya.

Menjadi pengajar tidak selalu karena mengejar profesi dan gaji, tetapi membutuhkan ketulusan hati. Dan, para guru sudah membuktikan bahwa mereka memberikan seluruh hatinya untuk mengajarkan pengetahuan. Karena tidak semua orang mampu demikian.

Para guru adalah orang tua kedua bagi muridnya. Murid-murid disekolahkan karena orang tuanya percaya bahwa guru akan mengajarkan banyak hal. Ini berarti para generasi muda yang hebat-hebat "dilahirkan" oleh mereka.

Mereka sudah melahirkan ibu rumah tangga, pedagang, peneliti, jurnalis, relawan, menteri, dokter, dan bahkan presiden. Tidak mungkin bisa seperti itu tanpa peran para guru.

Di sekolah, para guru tidak hanya bertanggung jawab memberi materi pelajaran dan nilai berupa angka-angka. Mereka diberi amanat membentuk akhlak dan kelakuan murid-muridnya.

Guru harus menjadi panutan yang baik untuk dicontoh. Sehingga seorang murid yang baik bukan yang berprestasi baik saja, namun juga wajib berakhlak baik.

Mengenang Masa-Masa Sekolah

Saya memulai pendidikan di sekolah dasar (SD) pada 21 Juli 2003. Pada saat itu, belum ada pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK). Baru ada setahun kemudian setelah saya masuk sekolah tersebut.

Saya masih ingat betul, saat itu, di kelas 1, ada pelajaran mengeja huruf abjad. Murid-murid lain (kecuali saya) sudah maju ke depan memegang penunjuk ke papan tulis. Saya belum hafal A-Z, mungkin baru separuhnya.

Ketika saya maju, suasana kelas sedang ribut. Saya tunjuk saja papan tulisnya dengan penunjuk tanpa bersuara. Syukurnya, ibu gurunya sabar dan mengajari saya sampai bisa.

Pada saat kelas 3, kebetulan gigi atas saya ompong dua. Tidak  tumbuh dalam sebulan atau dua bulan, bahkan sampai setahun. Dan, pada saat pelajaran agama, si bapak becanda, "Nanti pas Iduladha minta gigi sapi, ya."

Mungkin sebagian orang terjebak prasangka bahwa guru selalu kaku berwibawa tanpa haha-hihi. Tetapi, kenyataan tidak selalu begitu. Saya merasakan "nutrisi" pendidikan saya tercukupi karena kerap kali mereka memberikan humor-humor dalam belajar.

Dan yang berkesan, pelajarannya disertai praktik langsung. Misalnya, ketika ujian semester agama, ujian praktiknya tata cara berwudhu.

Juga, belajar huruf hijaiyah. Saya susah membedakan ba dan nun. Bapak guru bilang, "Huruf ba itu seperti bathok (belahan tempurung kelapa) dan ada satu batu di bawahnya, sedang nun batunya terletak di tengah." Bak ramuan yang manjur, sampai sekarang ingat!

Pada 8 Juli 2009, saya memulai jenjang pendidikan berikutnya di sekolah menengah pertama (SMP). Pada masa ini, saya banyak mengikuti ekstrakurikuler.

Saya mengikuti ekskul menulis karya ilmiah. Berkat bimbingan ibu gurunya, saya berhasil menjadi salah satu yang memenangkan lomba KI yang diadakan sekolah waktu itu. Hadiahnya sepatu. Berkesan sekali.

Mungkin itu awal mula saya suka menulis. Karena berawal dari jatuh cinta kepada ibu guru yang sabar mengajari saya. Hingga saya memilih kuliah jurusan sastra dan suka menulis hingga saat ini.

Pada 19 Desember 2012, saya sudah di fase sekolah menengah atas (SMA). Pada masa ini, dibagi dua pilihan jurusan, ilmu pengetahuan alam (IPA) dan ilmu pengetahuan sosial (IPS).

Ya, saya termasuk di kelas IPA yang penuh angka-angka. Tetapi, gurunya tidak semenyeramkan praduga saya. Mereka asyik-asyik.

Ketika pelajaran matematika, bapak gurunya humoris. Meskipun saya jatuh cinta dengan cara mengajarnya, ternyata tetap membuat saya remedial terus. Hingga pelajaran matematika membuat dilema. Senang karena bapak itu pasti stand up comedy dan sedih karena ternyata saya pusing dengan angka-angka.

Pada pelajaran biologi, ibu guru menyelipkan wejangan yang sampai sekarang masih ingat, "Listrik itu tidak terlihat, tetapi ada. Begitulah Tuhan kita."

Pelajaran fisika, yang berkesan adalah kegiatan menghias buku catatan sesuka hati. Jadi, ibu guru agaknya paham jika rumus-rumus membuat pusing. Maka kegiatan itu bak refreshing.

Hingga sampailah di perkuliahan. Jeng-jeng. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya kuliah jurusan sastra. Yang tidak ada IPA-IPA-nya sama sekali. Mungkin aneh, tetapi itulah kenyataannya. Yang ada di pikiran saya waktu itu, saya tidak kuat dengan rumus-rumus. Tetapi, saya tetap mencintai IPA hingga saat ini.

Pada 2015, saya duduk di bangku kuliahan dan jatuh cinta untuk kedua kali. Ya, pada sastra. Tentu karena para dosen menyampaikan materi dengan menyenangkan.

Hingga saya benar-benar jatuh hati pada materi feminisme. Alasan pertama, bapak dosennya "membumi" dan menganggap mahasiswa seperti teman diskusinya (terkesan tidak ada hierarki). Alasan kedua, perempuan berhak mendapat hak yang sama seperti laki-laki. Dalam hal apa pun.

Sampai akhirnya saya menamatkan kuliah. Enam belas tahun terlewati dengan penuh "nutrisi" pendidikan.

Terima kasih untuk para guru dan dosen yang mendidik saya menjadi seperti sekarang. Saya tetap menjadi murid kalian sampai kapan pun juga. Semua penghargaan dan gelar saya adalah milik kalian.