Pelecehan seksual masih saja menjadi salah satu problematika besar yang menjadi urgensi di Indonesia.  Dari sekian banyak korban pelecehan seksual, mayoritas di antaranya adalah perempuan dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa . Pelecehan seksual sudah sewajarnya menjadi topik yang harus dijadikan perhatian pada saat ini. 

Peristiwa pelecehan seksual tidak dapat dipandang dari satu sisi saja. Namun, juga dari sisi lain yang lebih mendalam. Contohnya seperti siapa pelaku dan korban, apa alasan pelaku melakukan hal tersebut, apa dampak bagi pelaku dan juga korban, serta bagaimana latar belakang kedua belah pihak tersebut. 

Beberapa hal tersebut perlu ditelisik lebih lanjut karena pelecehan seksual tidak akan lantas terjadi begitu saja. Pasti ada proses atau alasan yang mendasari kejadian tersebut.

Lalu, sebenarnya seperti apa sih pandangan masyarakat mengenai tindak kejahatan pelecehan seksual ini sendiri? Dari media sosial seperti Twitter dan Instagram terpantau sudah banyak masyarakat yang menyadari bahwa kasus-kasus pelecehan seksual di Indonesia harus segera ditangani. Hal tersebut terlihat dari banyaknya unggahan mengenai kasus pelecehan seksual di Indonesia yang berisi desakan kepada pemerintah untuk dapat lebih tegas dalam menangani kasus ini. 

Selain itu banyak pula organisasi ataupun komunitas yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan untuk membantu menampung aduan dan menyediakan “tempat yang aman” bagi para korban pelecehan seksual. Namun, dari banyaknya sifat heterogen manusia ada saja beberapa di antaranya yang memiliki pandangan sendiri terhadap hal ini. 

Salah satunya dengan pendapat, “salah siapa memakai pakaian yang mengundang nafsu para lelaki?” Beberapa waktu yang lalu sempat menjadi perdebatan di media sosial Twitter terkait pendapat ini, yaitu pakaian yang digunakan korban merupakan salah satu faktor yang mendasari terjadinya pelecehan seksual di ruang publik. 

Beberapa orang berpendapat bahwa kejahatan seksual yang dilakukan oleh pelaku terjadi karena terangsangnya nafsu ketika melihat bagian tubuh seorang perempuan yang terbuka atau sengaja diperlihatkan. Banyak masyarakat yang kontra akan hal ini. 

Mereka yang kontra berpendapat bahwa, cara berpakaian merupakan salah satu kebebasan yang dimiliki oleh setiap individu. Selain itu mereka mengaitkan dengan banyaknya kasus pelecehan seksual yang terjadi terhadap korban dengan pakaian sopan atau tertutup.

Mereka berpandangan bahwa tidak ada yang salah dengan cara berpakaian. Hal ini berkaitan dengan pemikiran kotor dari pelaku pelecehan tersebut.

Seperti halnya apa yang dialami oleh seorang remaja perempuan di salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ia bercerita mengenai tindak pelecehan seksual yang pernah dialaminya. 

Peristiwa tersebut bermula ketika Ia pulang dari sekolahnya di salah satu sekolah menengah swasta Islam di daerah tersebut. Ketika turun dari angkutan umum, Ia mengaku dihampiri oleh seorang pemuda yang berniat menanyakan alamat. Tanpa rasa curiga, Ia pun menjelaskan arah menuju ke alamat tersebut. 

Namun, selanjutnya pemuda tersebut kembali menanyakan alamat yang berlawanan arahnya dari alamat pertama. Dari sini remaja tersebut sudah merasa ada yang tidak beres. Namun, Ia tetap berusaha membantu menjawab pertanyaan pemuda tadi. 

Kemudian setelah bertanya, pemuda tersebut lantas melakukan hal yang tidak senonoh kepada remaja perempuan itu. Remaja perempuan ini mengaku bahwa pemuda itu sempat memegang dadanya sebelum pergi dari tempat kejadian. 

Hal tersebut membuat remaja perempuan itu mengalami trauma dengan lelaki, bahkan dengan ayah dan saudaranya sendiri. Padahal remaja perempuan tadi mengenakan seragam tertutup lengkap dengan jilbab yang menggambarkan seragam dari sekolah swasta Islam pada umumnya di Indonesia. Hal ini sangat mendukung opini dari pihak yang kontra terhadap pendapat bahwa pakaian merupakan salah satu faktor yang mendasari terjadinya pelecehan seksual.

Menurut saya, pelecehan seksual sendiri adalah tindakan yang dilakukan atas dasar pemikiran kotor dari para pelakunya. Pakaian tidak bisa dijadikan parameter dari tindak kejahatan ini. Ketika sudah memiliki pemikiran kotor, bagaimanapun pakaian atau di manapun tempatnya akan tetap berpikir mengarah kepada hal yang kotor dan tidak senonoh untuk melakukan tindak kejahatan seksual kepada siapapun korbannya. 

Maka dari itu, kita tidak dapat sepihak menyalahkan pakaian dari korban karena hal tersebut merupakan kebebasan atau hak yang dimiliki oleh setiap individu untuk mengatur cara berpakaiannya sendiri. Pemerintah pun juga sudah seharusnya dapat segera mengurus hal ini. Pengesahan RUU PKS semestinya dapat segera didesak untuk disahkan. 

Tidak mudah untuk para korban pelecehan seksual mengatakan dan mengadu tentang apa yang telah dialaminya. Hal tersebut disebabkan oleh satu sampai dua hal seperti, malu, takut, atau karena tidak ada dampak positif yang signifikan apabila mengadukan hal tersebut. 

Sehingga ketika seorang korban pelecehan seksual sudah berani untuk mengatakan hal yang terjadi, sudah seharusnya mereka mendapat apresiasi berupa tindak lanjut atau hukuman terhadap pelaku agar tidak menyebabkan trauma lebih lanjut dari korban dan juga tidak menyebabkan adanya korban lain dari pelaku yang sama.