Mari akui saja, kalian yang pernah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual sebenarnya menyesali tubuh dan tetek yang terlalu diumbar yang akhirnya mengundang mereka untuk bertindak sewajarnya. Kalian, baik yang bersuara maupun menolak untuk mengakui pengalaman tersebut, sebenarnya mencapai titik pemikiran tersebut, kalian berkontribusi atas kejadian tersebut, kalian mengamini kesalahan yang ditimpakan pada kalian. Tidak terkecuali saya, seorang yang menancapkan identitas sebagai feminis yang cuap-cuap hak perempuan tapi ketika mengalami, tetap menyalahi diri. Salah kami, bukan begitu tuan-puan? 

Mengalami pelecehan dan kekerasan seksual bukanlah suatu momentum tunggal tersendiri bagi saya. Sejak umur 13 tahun ketika saya di bangku SMP, di-grepe di jalan oleh pengendara motor tidak hanya terjadi sekali dan digerayangi cukup jauh oleh seorang yang amat saya kenal hanyalah sebuah prolog pengalaman saya. Diam adalah cara saya untuk menolak eksistensi kejadian tersebut. Tidak perlu ada yang tahu, itu hanya sepenggal kisah sambil lalu. 

Sialnya mungkin semesta ketagihan menjadikan episode tetap berlanjut baik ketika saya berada di bangku SMA maupun kuliah. Ditanya harga semalam, ditawarkan menjadi model ala-ala, di-grepe untuk kesekian kalinya, dan dilecehkan oleh dosen sendiri. Tidak perlu buru-buru menyalahkan, saya sudah pernah terlebih dahulu menyalahkan diri. Tidak perlu simpatik, bukankah ini konsekuensi dari cara berpakaian hingga sikap yang mengundang nafsu birahi? 

Lebih-lebih negeri ini sepertinya semakin menjadi-jadi. Terlepas dari isu sosial yang hangat diperbicangkan, nyatanya masih saja muncul pemberitaan isu gender yang bikin saya gatal untuk menyelesaikan draf tulisan ini. Pernyataan Kepala Dinsos Sumatera Selatan bahwasannya wanita berpakaian minim hingga berambut warna-warni siap dibawa ke panti untuk dibina. Menjadikan saya sangsi, butuh waktu berapa lama untuk bangsa ini benar-benar melek isu? 

Sepertinya berbagai kasus yang mencuat ke permukaan kurang memberikan tamparan keras bagi kita bahwa persoalan utama tidak terletak pada korban. Berdasarkan data 2016 dari Komnas Perempuan, di ranah personal terdapat 321.752 kasus dengan 72% dalam bentuk perkosaan, 18% dalam bentuk pencabulan, dan 5% dalam bentuk pelecehan seksual.

Sedangkan di ranah publik, dari data sebanyak 31% (5.002 kasus), kekerasan seksual menjadi jenis kekerasan terhadap perempuan yang tertinggi. Lebih lanjut, survei yang dilakukan secara anonimus dari lembaga Lentera Sintas Indonesia menunjukkan bahwa dari dari 12.812 perempuan yang disurvei, 46,7% pernah mengalami kekerasan seksual.

Lebih-lebih, hal ini tidak jarang terjadi pada anak dimana Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat pada tahun 2014 saja dari 2.726 kekerasan terhadap anak dan 56% di antaranya berupa pelecehan seksual. Menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat pemerkosaan anak tertinggi di dunia berdasar IB Times. Hingga titik tulisan ini, masih ada yang mempertanyakan baju apa yang dipakai? Pukul berapa kejadian berlangsung? Apakah korban sendirian atau tidak? Bukankah korban juga sebenarnya menikmatinya?

Setiap kali saya menghadapi isu dengan respon yang bikin pening kepala, saya selalu mencoba memberikan pendekatan yang sederhana. Anda tidak harus menjadi seorang yang memahami gender atau mencari buku pelajaran tingkat tinggi untuk memahami isu sosial seperti ini, saya percaya kita cukup melihatnya dari aspek bagaimana seharusnya kita memanusiakan manusia. Apabila kita tidak dapat mentoleransi berbagai tindak kejahatan lain yang merampas hak seseorang, mengapa persoalan selangkangan mendapatkan tempat yang sedemikian diskriminatif?

Jangan bilang bahwa isu ini adalah sesuatu yang asing bagi masyarakat kita. Sesuatu yang tidak membutuhkan perhatian tersendiri. Jangan bilang urgensi isu ini saya bawa semata-mata karena saya pernah menjadi salah satu korban. Sesuatu yang bersifat subjektif. Sekedar catatan tambahan, pelecehan seksual saya alami mulai bahkan ketika saya berpakaian ‘normal’ dengan kaos oblong kebesaran hingga seragam sekolah.  

Perlu waktu kurang lebih satu tahun untuk saya sendiri berdamai dan tidak lagi menyalahkan diri sendiri dan saya tidak mau tahu perlu berapa tahun untuk kalian yang mengetahui cerita saya benar-benar tidak menyalahkan saya. Tapi, mungkin saudara, teman, orang terdekat anda, atau bahkan anda sendiri pernah mengalaminya dan anda mungkin memilih untuk menghindari, momok yang bangsa kita belum berani amini. 

Tidak perlu repot-repot berbicara upaya ‘tegas’ pemerintah seperti lolosnya PERPU Kebiri beberapa bulan lalu atau upaya Dinsos Sumatera Selatan yang ‘sigap’ mengamankan perempuan yang  ‘mengundang’. Kalian berarti justru mengamini ada yang salah dengan birahi dan selangkangan lelaki. Bukankah lelaki adalah binatang buas dan oleh karenanya, kita perempuan, adalah aman berada di dalam ‘kandang’? 

Saya tidak tahu cara yang menggugah untuk mengakhiri tulisan ini, tapi saya teringat postingan di timeline LINE saya pada pada 25 Januari 2016 lalu ketika saya sedang berproses legal formal menghadapi pelecehan yang saya alami. Sebuah reaksi atas kasus Cologne Jerman terkait pelecehan seksual massal yang terjadi.

“Banyak yang diam karena penghakiman masyarakat itu mungkin jauh lebih mengerikan daripada pelecehan seksual itu sendiri. Feminis bilang kamu harus merdeka atas tubuh kamu sendiri, masyarakat bilang kamu egois dan ga mau ikut mengambil kesalahan. 

Pelecehan seksual itu kalo ga persoalan bagi-bagi kesalahan ya victim's blaming. Permasalahan yang masih mengakar adalah banyak korban yang percaya kalau diri mereka juga emang salah entah sedikit, bagi-bagi, atau bahkan sepenuhnya. Self-blaming juga masih menjadi isu saya hingga saat ini. Jika feminis bilang kamu harus merdeka dari tubuh kamu, saya bilang mari mulai dari pemikiran kamu. 

Saya belajar dorongan maupun comfort dari orang lain tidak akan begitu berguna kalau kamu belum berdamai dengan diri kamu sendiri. Saya belajar bahwasannya perempuan tidak selemah itu. Kamu bisa memilih bangkit dan bersuara, mengklaim kemerdekaan atas diri kamu. Atau kamu memilih untuk terpuruk dan bungkam, memilih opini masyarakat mengklaim diri kamu. 

Ada yang bilang kamu egois karena memilih untuk bersuara. Entah nama keluarga, entah nama institusi, atau apapun yang justru semakin melibatkan kerugian banyak pihak. Yang lain bilang kamu egois karena memilih untuk diam. Karena berarti kamu menutup mata atas tindakan si pelaku yang sangat besar kemungkinannya memliki banyak korban lain. 

Tapi kamu bukan bidak masyarakat. Kamu yang paling mengetahui sejauh mana kamu dapat melangkah. Kamu yang paling harus siap menerima konsekuensi. Kamu yang menentukan moralitas kamu. 

Dunia ini memang patriarkis, tapi tidak berarti feminis adalah pengemis. Feminisme bukan soal perempuan semata. Bukan soal kesetaraan semata. Bagi saya feminisme adalah bagaimana kamu melihat manusia sebagai manusia, refleksi diri kamu sendiri.”

P.S. Saya tidak mencoba mengeksklusi korban laki-laki atau identitas manapun. Terlepas dari saya adalah perempuan dan perempuan adalah korban mayoritas, terlepas dari kekerasan seksual bagi saya adalah konsekuensi dunia patriarkis. Tanpa mengenal usia, gender, seks, ras, atau apapun, saya percaya kekerasan seksual adalah problema bersama yang mampu memiliki dampak psikologis luar biasa. Selamat hari anti kekerasan terhadap perempuan!