“Oppa Gangnam Style!”

Siapa yang tidak tahu lirik lagu ini? Ya, ini adalah penggalan lirik dari lagu Gangnam Style yang dinyanyikan PSY. Lagu tersebut begitu viral di tahun 2012, sampai-sampai menembus 2.907.968.972 views di situs berbagi video Youtube.

Angka tersebut merupakan batas views di Youtube, yang artinya sudah tidak bisa menampung penonton baru lagi. Sebuah rekor yang membanggakan dalam dunia permusikan dunia, yang dicapai oleh seorang penyanyi dari Korea Selatan.

Dewasa ini, budaya Korea Selatan (selanjutnya disebut ‘Korea’ saja) atau hallyu sedang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sehingga berbagai aspek, dari musik pop (Korean Pop atau K-Pop), sampai makanan khas Korea digandrungi banyak orang, terutama dari kalangan remaja putri.

Efek hallyu ini menyumbang devisa yang begitu besar, sampai milyaran Dollar bagi pemerintah Korea. Oleh karena itu, mereka menggencarkan promosi agar terus menjadi perhatian masyarakat global.

Salah satu konten hiburan hallyu yang paling menarik adalah Korean Drama. Aktor dan aktris yang rupawan, alur cerita yang menarik, serta jumlah episode yang relatif sedikit (paling banyak 30 episode, sangat berbeda dengan jumlah sinetron di Indonesia yang mencapai ribuan) menjadi beberapa poin yang menarik penonton, tidak hanya di Korea namun juga seluruh penjuru dunia.

Namun baru-baru ini, drama Korea mendapatkan ‘serangan’ dari para penggemarnya. Lho, kok bisa?

Drama Korea bergenre komedi yang berjudul Man Who Dies to Live menunjukkan beberapa adegan yang dianggap sebagian orang melecehkan agama Islam. Contoh adegan yang dikecam (yang saya lihat dari postingan salah satu netter), dalam episode perdananya ialah terdapat dua orang wanita yang memakai bikini tetapi juga mengenakan kerudung. Padahal kerudung, atribut penutup kepala itu dinilai sebagai simbol wanita Muslim, namun digabungkan dengan pakaian yang vulgar atau tidak menutup aurat.

Ada pula adegan lain yang menjadi perhatian, yaitu di mana seorang pria memerintahkan untuk membeli satu putri dan menyimpan dua yang lain dengan gratis.

Secara tidak langsung, drama ini menunjukkan bahwa Islam memperbolehkan human trafficking yang bertentangan dengana asas perikemanusiaan. Dan masih ada bagian lain yang dihujat oleh netizen.

Sampai esai ini ditulis (22/07), terdapat 665 postingan sosial media Instagram yang mencantumkan tagar #justiceforislam yang meminta penayangan drama ini dihentikan. Juga terdapat ribuan postingan yang bernada kontra lainnya yang menandai para pemeran utamanya.

Ketika penonton drama ini mengajukan protes -kebanyakan adalah fans dari negara Arab dan mengatasnamakan umat Muslim-, warga Korea sendiri tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Dalam postingan lewat Daum -Google-nya Korea-, komentar-komentar netter Korea terkesan menyepelekan protes tersebut. Hal ini membuat netter Korea berpikir, mengapa sih kalian harus protes untuk memberhentikan penanyangan drama ini, toh ini hanya drama dan rekaan semata.

Pihak MBC, stasiun televisi yang menyiarkan drama tersebut, melalui akun resmi Instagramnya pun sudah meminta maaf dan berdalih bahwa jenis drama tersebut adalah fiksi.

Dalam klarifikasinya, MBC mengatakan bahwa yang diceritakan dalam drama adalah negeri yang bernama ‘Bodoantia’.  Yang semua karakter, nama, tempat dan destinasi adalah sepenuhnya fiksi, serta tidak bermaksud menyinggung aturan, budaya, agama atau orang Arab dan negara Islam.

Yang mengherankan, fiksi macam apa yang sangat identik dengan suatu agama, sehingga menimbulkan para pemeluknya marah? Hanya kebetulankah? Bila ini hanya kebetulan yang pada akhirnya melukai suatu golongan, dapat mengarah pada tindakan intoleransi.

Seperti yang sudah banyak diketahui, penganut agama Islam di Korea termasuk ke dalam golongan minoritas. Hanya ada sekitar 35.000 jiwa dari 51,25 juta penduduknya (Wikipedia, 2016).

Saya tidak sedih dengan angka dari data statistik itu, hanya saja saya sedih dengan diacuhkannya mereka. Mayoritas penduduk Korea tidak menghargai keberadaan mereka, membuat kalangan mayoritas ini juga bersikap apatis dengan masyarakat Islam luar Korea.

Bila kaum Islam dari luar Korea yang merasa isi dari drama tersebut menistakan ajaran agama mereka, maka kurang lebih ada warga muslim Korea yang merasakan hal yang sama.

Mungkin di antara mereka ada yang menyuarakan ketidaksetujuannya. Namun kenyataannya dalam berita, kontroversi ini tidak menimbulkan polemik yang besar di negerinya, tidak sebesar reaksi fans internasional yang menuntut penayangan drama ini untuk diberhentikan. Apakah suara dan perasaan muslim asli Korea tidak berarti apa-apa di tanah airnya sendiri?

Selama ini saya mengira bahwa tingkat toleransi di Korea Selatan sangat baik, sebagaimana kondisi di negara maju yang menjunjung tinggi kaidah global citizenship, menghargai keadaan multikultural.

Namun, pandangan itu pun lenyap tatkala membaca sebuah komentar seorang netter yang mencibir kelakuan warganet Korea. Ia menceritakan saat isu rasisme menimpa KARD, grup penyanyi asal Korea ketika diundang ke sebuah program TV Brazil, ‘Turma Do Vovo Raul’.

Saat KARD tampil di panggung, host program tersebut melakukan satu gestur yang seolah mengejek mata sipit khas orang Korea. Saat itu, netizen Korea sangat tidak terima dengan tindakan rasisme itu, sampai host tersebut menyampaikan permintaan maaf.

Lalu dihubungkan dengan kondisi saat ini, mereka malah menganggap santai respon negatif fans internasional, karena “bukan kita kok yang dilecehkan, mengapa harus repot-repot?” Posisi umat Islam Korea pun terlupakan.

Kemudian, dari sini saya dapat menyimpulkan, mau di mana pun tempatnya di bumi ini, isu mayoritas menindas minoritas dan intoleransi masih mengental.

Walaupun pada kasus drama Korea ini belum mencapai konflik yang lebih serius semisal pertumpahan darah, tetapi harus ada sebuah tindakan antisipatif.

Sebab, berawal dari tahap inilah, intoleransi terhadap kelompok SARA tertentu akan berkembang lebih buruk lagi. Ancaman disintegrasi bangsa, hubungan antarwilayah yang menjadi hancur hingga perang akan membayang-bayangi langkah kehidupan kita.

Dari sini, mari kita berpikir sejenak. Saya tidak mengajak Anda untuk langsung memboikot penayangan drama Man Who Die to Live itu. Sudah banyak petisi yang digagas untuk tujuan tersebut. Namun, pada momen inilah kita bercermin, merefleksikannya dengan keadaan yang terjadi di Indonesia.

Posisi umat Islam di Korea itu sama saja dengan posisi etnis Cina, pemeluk Kristen, atau kelompok minoritas lain di nusantara. Isu intoleransi dari golongan mayoritas kerap melukai mereka, terlebih selama rangkaian Pilkada DKI Jakarta beberapa bulan terakhir.

Bahkan lebih dari apa yang mungkin muslim Korea dapatkan, lebih dari skenario drama yang maknanya tersembunyi.

Propaganda terang-terangan melalui demonstrasi, pidato, poster serta postingan media sosial telah menyayat hati mereka secara terus-menerus. Padahal, mereka juga warga negara Indonesia, bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bila mereka dibenci karena asal keturunan mereka, apakah itu salah mereka karena telah dilahirkan dari keturunan itu? Tidak ada manusia yang bisa memilih dari keluarga dengan ras mana mereka berasal, sebab itu hak prerogatif Tuhan untuk menggariskannya.

Menentukan seseorang mulia atau hina tidak bisa didasarkan dengan identitas genetis, hanya kebaikan yang dilakukan individulah yang menjadikannya mulia.

Saya pernah mendengar ungkapan ‘lucu’ dari guru mata pelajaran sejarah saya tentang seseorang dengan pola pikir yang ‘unik’. “Gue mah nggak usah salat, puasa atau segala macem. Gue kan keturunan Arab, jadinya orang suci. Mau mabok-mabokan juga gue tetep masuk surga. Ngapain itu Bunda Theresa ke Afrika ngasih-ngasih orang makanan, ujung-ujungnya dia ke neraka juga.”

Di sini tidak ada maksud sama sekali untuk merendahkan orang-orang keturunan Arab di Indonesia. Betapa naifnya pernyataan ini. Tiket menuju surga pun bisa di-booking olehnya dengan modal nasab saja. Selain itu, ia merasa bisa menyombongkan diri dan mendiskriminasi semua orang yang bukan golongannya, alias fanatisme golongan. Sangat berbahaya bukan, mindset kacangan seperti ini?

Bila Anda menolak pelecehan agama Islam dalam drama Korea tersebut karena Anda seorang Islam, satu jempol untuk Anda. Bila Anda menolaknya karena meyakini bagian dalam drama tersebut telah menyakiti umat Islam walaupun Anda bukan seorang Islam, dua jempol untuk Anda.

Terlebih lagi, empat jempol tangan dan kaki akan teracungkan untuk Anda bila Anda juga menerapkan tenggang rasa di mana pun Anda berada. Kepada siapa pun, kapan pun. Dimulai dari yang terdekat, lingkungan sekitar kita dan tanah kita berpijak, Indonesia.

Singkatnya, setiap orang yang tidak bersaudara denganmu karena alasan keagamaan, adalah bersaudara denganmu karena sandaran kemanusiaan. Bertoleransi tanpa batas waktu, tanpa pandang bulu.