Ketika kita berbicara tentang " Gender " fokus kita akan tertuju pada perempuan. sosok yang rentan menjadi korban dari kekerasan seksual, pelecehan seksual dan kekerasan fisik. 

Perempuan selalu menjadi highlight dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Hal ini tidak bisa dihindari karena  memang perempuan yang paling rentan menjadi korban dari kekerasan dan pelecehan seksual. 

Tapi kemudian, kita lupa kekerasan dan pelecehan seksual itu bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja, kapan saja baik perempuan maupun laki -laki. Jarang kemudian kita mendengar masyarakat, orang tua, guru berbicara tentang pelecehan seksual itu bisa terjadi juga pada laki-laki.

Baru-baru ini Indonesia dihebohkan dengan kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang di alami oleh karyawan KPI.  Reynhard Sinaga pada tahun 2020 menjadi pelaku kekerasan seksual sebanyak 48 korban, dan diduga melakukan 159 serangan seksual di inggris. Saipul Jamil juga turut andil dalam menjadi pelaku pelecehan seksual anak di bawah umur.

Pernah satu kejadian di sekolah menengah pertama ( SMP )  di kepulauan Sula, kota Sanana. banyak remaja laki-laki yang kemudian mengalami pelecehan seksual dari guru mereka. Sebut saja pak Roro ( nama samaran ). Pak Roro adalah salah satu guru yang mengajar di SMP negeri 1 Sanana. Sosoknya sedikit kemayu, orientasi seksualnya pun berbeda dengan laki-laki lain pada umumnya.

Setiap jam mata pelajaran pak Roro,  para siswa lelaki merasa tidak nyaman dengan kehadiran pa roro dalam kelas. Pasalnya setelah memberikan tugas mencatat mata pelajaran-nya,  pa roro akan berjalan dan duduk di samping muridnya. Kemudian tangan-nya memegang,  meremas paha muridnya, hingga pada tingkat memegang alat vital muridnya. 

Murid-murid yang menjadi korban pelecehan seksual dari pak Roro tidak berani untuk speak up, ataupun melawan tindakan tersebut.  Semua murid laki-laki dan perempuan tau tentang tindakan pelecehan tersebut. Murid laki-laki melihat ini sebagai satu kesialan, sedangkan perempuan melihat sebagai satu kelucuan. 

Seorang korban pernah bercerita pada temannya tantang  pelecehan yang dia alami,  tapi respons yang kemudian dia dapat kurang baik. Katanya " kamu pasti suka kan kalau di pegang seperti itu’’

Berdasarkan Laporan Kesetaraan  Study Kuantitatif  Barometer  Kesetaraan Gender yang diluncurkan Indonesia Judical Research Society ( IJRS) dan INFD Tahun 2020 ada 33% laki-laki yang mengalami kekerasan seksual. 

Survei Dari Koalisi Ruang Public Aman (KRPA) yang melibatkan 62.224 responden, 1 dari 10 anak laki-laki mengalami pelecehan di ruang public. Data dari komisi perlindungan anak di Indonesia (KPAI)  2018 menunjukkan kekerasan seksual sebanyak 60% di alami oleh laki-laki, 40% di alami oleh perempuan.

Data kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak tahun 2017, dari umur 13 – 17 tahun prevalensi kekerasan seksual terlihat lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan. Sebanyak 8,3% dua kali lipat lebih besar dari pada perempuan yang hanya mencapai 4,1%

Meskipun data di atas menunjukkan kekerasan seksual banyak dialami oleh laki-laki, masih minimnya hukum perlindungan bagi laki-laki. Kurangnya respons yang baik dari masyarakat kerap kali membuat laki-laki enggan untuk mencari perlindungan secara hukum. Banyak tulisan yang membahas tentang psikologi perempuan yang jadi korban pelecehan seksual, tapi jarang membahas psikologi laki-laki. Citra laki-laki sebagai pelaku kekerasan seksual dimasyarakat juga menjadi jarak emosional dengan orang lain.

Toxic masculinity yang berbudaya dalam masyarakat membuat laki-laki sulit untuk mengekspresikan kesedihan dirinya. Hal ini tentu saja berbahaya jika sewaktu – waktu ada pelecehan seksual yang dialami. Laki-laki kesulitan untuk berbicara, karena bias dari toxic masculinity : harusnya punya kekuatan untuk melindungi diri sendiri. 

Hal ini berisiko munculnya batasan dalam sifat laki-laki dalam hidup bermasyarakat. Belum lagi asumsi masyarakat yang menganggap korban pemerkosaan sesama jenis sebagai bentuk penyimpangan seksual. 

Korban dikaitkan dengan ‘praktik homoseksualitas’ yang dianggap tabu dan tidak normal. Konsep Toxic masculinity yang keliru ini juga dapat menimbulkan konflik dalam diri laki-laki sendiri maupun dalam masyarakat. Karena harus memenuhi “ standar” kelaki-lakian yang telah diyakini.

Temuan- temuan di atas harusnya menjadi bahan diskursus bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat Indonesia.  Meskipun peluang kekerasan sedikit lebih kecil dari perempuan, masyarakat dan khususnya pemerintah harus lebih jeli dalam melihat hal ini. Banyak kekerasan seksual terhadap laki-laki yang tak muncul ke permukaan karena di acuhkan, membuat korban memilih untuk memendam dari pada melaporkan. 

Edukasi seks sejak dini pun harusnya bukan lagi menjadi hal tabu untuk di bicarakan dari orang tua,  guru kepada anak-anak.  Mengingat kekerasan dan pelecehan seksual rentan juga terjadi kepada anak-anak. Mengingat kekerasan dan pelecehan seksual kepada anak-anak juga mengalami peningkatan.

Sayangnya masyarakat kita masih terlalu tabu untuk membicarakan tentang edukasi seks. Akhirnya anak laki-laki dan perempuan juga banyak yang menjadi korban dari pelecehan seksual.