Peran perempuan dalam kehidupan rumah tangga seringkali termarginalkan. Ketika mereka memutuskan untuk menikah dan memiliki anak, banyak perempuan memutuskan atau dipaksa untuk berhenti berkarir. Kehidupannya dan anaknya kemudian bergantung pada pemberian suami. 

Jika mendapatkan suami yang tepat, semua itu tidakakan menjadi masalah. Namun, jika sang suami adalah pemarah, penindas, dan tidak berperasaan, maka mengecap kebahagiaan rumahtangga hanya  akan menjadi angan-angan belaka.

Seorang perempuan muda asal Indonesia bernama Sri terjebak dalam kondisi kedua. Sri sebelum menikah adalah perempuan yang energik dan menarik. Kemampuannya menari membuatnya dikagumi oleh banyak lelaki. Ia sama sekali tidak kekurangan kasih sayang dari kakak dan orang-orang terdekatnya, namun kondisi berubah ketika ia memutuskan untuk menikahi seorang warga negara Perancis bernama Charles Vincent. 

Di belahan dunia lain, seorang laki-laki bernama Michael Dubanton, meski dengan latar yang berbeda, mendapatkan pengalaman yang serupa dengan Sri. Ditinggal mati oleh kekasihnya dan akhirnya menikah dengan orang yang salah membuatnya sama-sama tidak mengecap kebahagiaan berumah tangga. 

Michael lebih suka menghabiskan waktunya bekerja di laut dari pada pulang ke daratan bertemu istrinya. Kehidupan membujang adalah hal yang paling dia rindukan.

Pada sebuah kapal, dalam perjalanan dari Saigon menuju Marsaille, dua manusia itu bertemu. Michael Dubanton sebagai komandan kapal dan Sri sebagai tamunya. Perkenalan mereka di kapal tersebut melabuhkan hati mereka satu sama lain. Tidak hanya sekedar tertarik, keduanya jatuh cinta, dengan amat sangat. 

Bagi Michael, istri dan keluarganya tidak menjadi pertimbangan untuk segera mengencani Sri. Namun bagi Sri yang terikat oleh norma orang-orang timur yang menjunjung tinggi kesetiaan, ia mengalami dilema. 

Haruskan ia menyetiai laki-laki yang bahkan selama ini tidak mengaggapnya sebagai manusia? Atau sebaiknya dia meluapkan cintanya agar menyatu dengan kekasihnya sebagai perempuan yang merdeka? Pada sebuah kapal mencatat kisah kasih mereka dengan sangat halus dan lembut.

Novel ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berjudul Penari dengan Sri sebagai orang pertama dan bagian kedua berjudul Pelaut dengan Michael sebagai tokoh utamanya. Kedua bagian menceritakan kehidupan masing-masing tokoh mulai dari kecil, remaja, hingga menikah dengan cukup detail. Tidak heran jika novel ini terasa sangat panjang.

Melalui tokoh Sri dan Michael, NH dini seolah ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam ikatan pernikahan acapkali menjadi sebuah kungkungan, terutama bagi perempuan. Ketika novel ini pertama kali terbit pada tahun 70-an, banyak tokoh juga menganggap bahwa novel Pada Sebuah Kapal adalah pemberontakan terhadap nilai-nilai perkawinan. 

H.B Jassin bahkan menilai bahwa tokoh Sri telah menemukan eksistensinya sebagai perempuan yang merdeka dan bebas berkehendak. Ia melepaskan diri dari kekerasan dan penghinaan yang diberikan suaminya terus menerus melalui peluapan cintanya kepada Michael.

Kisah yang diceritakan NH dini adalah kisah sederhana yang mungkin seringkali dialami oleh orang-orang di sekitar kita. Kehilangan kekasih, kekasaran suami, kecerewetan istri adalah kasus yang banyak dan mudah kita jumpai di masyarakat. 

Tapi ini adalah soal perspektif, dan NH dini menggambarkan perspektif tersebut dengan sangat baik. Sangat layak buku ini dicetak hingga tiga kali oleh Dunia Pustaka Jaya, bahkan hingga tahun 2019, telah dicetak sembilan kali oleh PT Pustaka Gramedia.

Di samping pujian dan penghargaan yang diterima, novel Pada Sebuah Kapal juga mendapatkan bebeberapa kritik. Dalam sebuah ulasan yang diterbitkan Kompas pada 9 Agustus 1974, Alfons secara langsung mengatakan bahwa pengarang merasa kecewa dengan sikap suaminya dan kekecawaan tersebut digambarkan melalui sikap tokoh Sri. Melalui tanggapan tersebut, ia mengesankan novel Pada Sebuah Kapal sebagai saran penyampaian uneg-uneg.

Sebagai cerita dengan sudut pandang orang pertama sebagai tokoh utama, penggambaran tokoh-tokoh lain mendapatkan porsi yang cukup panjang. Kita harus membaca hingga berpuluh-puluh halaman sebelum sampai pada permulaan konflik. Beberapa pengalaman tokoh utama juga tidak ada hubungannya secara langsung dengan pertemuan Sri dan Michael. 

Panjangnya cerita di awal mungkin menjadi pertimbangan penulis untuk menjadikan novel ini sebagai unfinished story. Sampai akhir cerita kita tidak tahu apakah Sri dan Michael akan bertemu lagi. Begitu pula nasib Charles dan Nicole yang menjadi pasangan sah kedua tokoh.

Namun di luar itu semua, perspektif yang diberikan penulis mengenai ketidakharmonisan rumah tangga adalah perspektif yang sangat berbeda dari kebanyakan cerita. Solusi yang diambil oleh kedua tokoh untuk mengatasi permasalahan mereka adalah solusi yang selama ini dianggap negatif. 

Keunikan perspektif tersebut menjadi alasan Pada Sebuah Kapal meneguhkan diri sebagai novel yang sangat layak untuk dinikmati dan dicetak ulang. Selamat membaca.

  • Judul Buku: Pada Sebuah Kapal
  • Pengarang: NH Dini
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Oktober 2019
  • Tebal Buku: 251 halaman
  • Harga Buku: Rp. 85.000