17801_68511.jpg
Ilustrator: Daioe
Cerpen · 5 menit baca

Pelayaran Hati Sang Ratu

Ada sebuah perahu di tengah Samudra. Ia melayani gunung dan juga lautan. Tak ada sauh, tapi ia bermuatan dua gunung dan juga dua lautan. Sang Ratu adalah pemiliknya yang sejati. Sang penakluk lautan di dalam lautan. 

Malam itu, berlayarlah Sang Ratu menyeberangi lautan menuju ke Yunan. Dengan dua gunung di dalam perahunya, ia mencari kekasih hatinya, yang entah berada di mana. Satu purnama telah dilewatinya tanpa hambatan berarti. Diterjangnya ombak yang menggoyahkan perahunya, sampai sebuah pulau pun tak lagi tampak, yang ada hanya lautan di dalam lautan.

Purnama kedua kemudian datang dari balik awan, samar-samar menerangi perahu Sang Ratu, yang tak lagi terlihat kokoh dan mulai tampak goyah. Lelah akhirnya mendera dan menghinggapi wajah Sang Ratu yang terlihat kuyu, meski guratan kecantikannya, masih tampak jelas, di bawah bias cahaya Sang Purnama. 

Suara guntur mendadak menggelegar dari balik awan, dan menurunkan hujan tiba-tiba. Perahu Sang Ratu pun pelan-pelan tenggelam juga, sesaat setelah badai besar menghantamnya. Deru ombak berkali-kali berseru memanggilnya, tapi Sang Ratu tak lagi dapat mendengar suara gemuruhnya, yang tersisa pada dirinya kini, hanyalah kepasrahan.

Tangisan rakyat dari seluruh negeri pun tak lagi bisa dibendung. Doa dan harapan tiada henti, berkumandang. Berita karamnya perahu Sang Ratu, terus menyebar ke seluruh negeri. Tetapi, seluruh rakyat tiada lelah memupuk harapan, semoga Sang Ratu dapat kembali, Sang Ratu yang sungguh dicintai rakyatnya. 

Di dasar Samudra, Sang Ratu dikejutkan dengan adanya sebuah kehidupan. Kehidupan yang sungguh indah seperti di dalam Surga. Ada Bapa Adam dan juga Ibu Hawa, yang begitu telaten menuntun anak-anaknya patuh, kepada Sang Penciptanya. 

Bertekuk lututlah Sang Ratu di kaki Bapa Adam dan Ibu Hawa, yang telah menciptakan tempat nan indah di dasar laut biru itu. Tempat indah yang seluruhnya ditanami pohon keikhlasan, yang tanpa batas dan juga tanpa pamrih apa pun.

Bapa Adam memang sungguh ksatria, setia menemani Ibu Hawa menebus dosa. Ia turun ke bumi dengan penuh keikhlasan, bahkan sampai ke dasar Samudra. Kemudian bersama-sama meniadakan diri, untuk kembali kepada Sang Penciptanya. 

Sang Ratu pun tak kuasa lagi menahan air mata, mendengar kisah epik mengharukan dari sang empunya. Badannya terasa lunglai tak berdaya. Hatinya yang keras dan kuat pun, menjadi selembut sutra. Betapa damai, ia di antara anak-anak Bapa Adam dan Ibu Hawa. Semua saling hormat dan saling menghargai. Saling menjaga dan penuh kasih sayang. Dengan ketulusan yang tanpa batas, dan juga tanpa pamrih apa pun. 

Emas, perak dan berlian berkilauan di mana-mana. Bagi penghuni di sini, semua adalah milikNYA. Maka, mereka pun tak pernah merasa tinggi hati ataupun besar kepala, yang ada hanyalah rasa syukur, keikhlasan dan kedamaian menjalani hidup.

Empat puluh hari, Sang Ratu berada di dasar Samudra. Kerinduannya pun telah lebur dalam keikhlasan, pada kekasih hati yang tak pernah menampakkan wujudnya, yang keberadaannya entah di mana.

Deru ombak terus berseru memanggilnya, sampai Sang Ratu akhirnya  menyadari, ia telah lama meninggalkan negerinya, yang kini tengah menanti dan merindukannya.

Sang Ratu masih saja bersimpuh di kaki Bapa Adam dan Ibu Hawa, tetapi ia harus segera pulang, meskipun keengganan telah merasuki hatinya. Ia harus meninggalkan surga yang tersembunyi ini, dengan senyum keikhlasan yang sempurna, seperti anak-anak Bapa Adam dan Ibu Hawa, yang senantiasa ikhlas dan patuh kepada Alam.

Ada sebuah perahu di tengah Samudra. Ia melayani laut dan juga gunung. Tak ada sauh, tapi bermuatan dua gunung dan juga dua lautan. Sang Ratu adalah pemiliknya yang sejati. Sang penakluk lautan di dalam lautan. Berkelana dan berlayar tiada henti. Dan kini, berakhirlah pelayaran hatinya. Terdampar pada dasar lautan dan tersangkut pada akar dari pohon keikhlasan, yang tanpa batas dan tanpa pamrih apa pun.

Sang Ratu akhirnya kembali ke Kalingga. Membawa akar pohon keikhlasan, sebuah pesan hidup dari Bapa Adam dan Ibu Hawa, pada dua gunung dan juga dua lautan. Kepada deru ombak dan juga kepada kekasih hatinya, yang tak pernah menampakkan wujudnya, yang keberadaannya entah di mana.

Sang Ratu sampai di Kalingga dini hari, sebelum sang fajar merekah. Rakyat seluruh negeri pun menyambutnya dengan sukacita. Sang Ratu telah membawa berita besar untuk rakyat yang merindukannya. Membawa kebenaran tentang adanya Surga yang tersembunyi di dasar Samudra, yang pernah dikisahkan nenek moyang, dan berhenti dalam khayalan belaka.

Atlantis yang hilang, akhirnya ditemukannya, yang ternyata berada di tanah sendiri. Sampai pada akhirnya Sang Ratu pun menyadari, Atlantis yang hilang ternyata adalah kekasih hatinya, yang selalu dirindukan siang dan malam, yang telah dicarinya sampai ke Yunan.

Atlantis adalah sebuah peradaban kehidupan, di Bumi laksana hidup di Surga. Sebuah peradaban kehidupan seperti di negeri dongeng, yang pernah ada di masa yang sungguh lampau. Atlantis adalah daratan raksasa yang sangat luas, dengan negerinya yang makmur, serta harta yang sungguh melimpah, bahkan sampai tak terhitung lagi kekayaannya. Tembok istananya dari emas dan pagarnya pun dari perak.

Penghuninya sangat maju, memiliki kemampuan dan ketrampilan yang luar biasa hebat. Pelabuhannya sangat memadai dengan kapal-kapal, yang perlengkapannya begitu canggih. Bahkan ada benda yang mampu membawa orang terbang, seolah tak mungkin dibayangkan, itu ada pada zaman yang sungguh lampau. Sayang, negeri yang disebut Atlantis itu menghilang dalam sekejap dan menjadi dongeng pengantar tidur bagi Sang Ratu semasa kecil dan lenyap dalam mimpinya.

Meskipun Kalingga juga bergelimangan emas dan perak bagai Atlantis kecil, namun kini Sang Ratu mengerti tentang makna Surga yang sesungguhnya. Sang Ratu pun benar-benar menyadari, Surga itu akan datang dengan sendirinya, pada  insan yang ikhlas hatinya, seperti Bapa Adam dan juga Ibu Hawa. 

Maka, biarkanlah akar dari pohon keikhlasan itu tumbuh subur, dan penyerahan diri total kepada Sang Pencipta dijalankan, untuk membuka sebuah pintu  kehidupan seperti di Surga, kendati masih hidup di Bumi. Seperti teladan Bapa Adam dan juga Ibu Hawa, yang menuntun anak-anaknya patuh kepada Sang Penciptanya, dengan keikhlasan yang sempurna. 

Ada sebuah perahu di tengah Samudra. Ia melayani gunung dan juga lautan. Tak ada sauh, tapi bermuatan dua gunung dan juga dua lautan. Atlantis tak harus muncul kembali ke permukaan, bila peradaban surgawi telah dijalankan, seperti saling hormat dan saling menyayangi di antara sesama makhluk, dengan keikhlasan yang tanpa pamrih apa pun. 

Maka, biarlah keindahan Atlantis dengan makna yang sesungguhnya, yang akan datang di masa depan, pada setiap insan yang ikhlas hatinya dan yang benar-benar menyadari, bahwa Sang Penciptanya tentu lebih mulia, dan lebih indah dari karyaNYA.

Ada sebuah perahu di tengah Samudra. Ia melayani gunung dan juga lautan. Tak ada sauh, tapi bermuatan dua gunung dan juga dua lautan. Sang Ratu adalah pemiliknya yang sejati. Sang penakluk lautan di dalam lautan. Yang berkelana dan berlayar tiada henti. Sampai ia temukan indahnya Atlantis yang hilang, dan mengakhiri pelayaran hatinya dengan sempurna.