Dunia dikejutkan oleh penyebaran virus Covid-19. Virus yang pertama kali terdeteksi di negara Cina pada akhir Desember 2019. Virus ini kemudian menyebar kurang lebih di 150 negara, hingga saat ini termasuk di Indonesia. Pandemi ini juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Data dari WHO menyebutkan di Indonesia, dari 2 Maret hingga 9 Agustus 2020, ada 123.503 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dengan 5.658 kematian dan terus bertambah di Indonesia. Menghadapi kondisi ini, tentu tidak ada pilihan lain bahwa kita harus belajar hidup berdampingan dengan COVID-19.

Presiden Joko Widodo mengeluarkan imbauan agar seluruh instansi baik negeri maupun swasta menghindari kontak dekat dengan kerumunan orang. Menjaga kebersihan dan menjaga jarak merupakan salah satu upaya memutus penyebaran virus ini. Istilah ‘new normal’ digunakan untuk menghadapi pandemi yang tidak kunjung mereda sampai saat ini.

Di Indonesia, new normal merupakan kebiasaan yang baru untuk masyarakat. Dampak dari pandemi Covid-19 ini sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan, dengan diterapkannya kebijakan baru ini merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh lembaga dan kampus.

Lembaga pendidikan saat ini tengah membiasakan diri dalam menghadapi new normal. Dalam konteks pendidikan di perguruan tinggi, pola hidup normal yang baru sudah mulai terbentuk pada aspek pembelajaran, administrasi, dan akademik mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Pendidikan pun tak luput dari arus globalisasi ini. Pendidik dan pemimpin pendidikan tinggi harus fokus pada kompetensi output mereka. Pada era industri 4.0 seperti saat ini, telah banyak terciptanya teknologi-teknologi yang mempermudah pekerjaan manusia.

Mahasiswa dituntut harus terampil menyikapi masalah. Dari berbagai perspektif, menumbuhkan dan mengeksploitasi daya kreativitas imajinatif, terlibat dalam komunikasi yang kompleks, dan memanfaatkan kemampuan berpikir kritis. Agar lebih peka dan mampu memberikan solusi pada permasalahan-permasalahan.

Sistem online menjadi solusi di masa pandemi ini, menggantikan sistem offline yang mengharuskan kontak langsung dengan seseorang. Situasi ini juga ‘memaksa’ pendidikan tinggi untuk memanfaatkan serangkaian platform pembelajaran online sehingga transfer ilmu mudah diakses dimana saja.

Tak hanya kegiatan belajar-mengajar, kegiatan-kegiatan akademik pun tak luput dari anjuran mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Kemendikbud juga mendorong pelaksanaan kegiatan-kegiatan akademik lain sebisa mungkin diselenggarakan secara daring.

Perwakilan dari Kemendikbud mengatakan, ‘Layanan administrasi, bimbingan mahasiswa, pelaksanaan wisuda dan sumpah profesi bisa juga secara daring’. Oleh sebab itu, semua proses belajar mengajar hingga adminstrasi di dalam pendidikan dilakukan secara online atau daring.

‘Dalam setiap proses pengambilan kebijakan dan pelaksanaan program akademik di era new normal, aspek kesehatan dan keselamatan civitas academika harus menjadi pertimbangan utama. Jangan sampai kampus menjadi kluster baru penyebaran pandemi Covid-19,’ ujar PLT Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Nizam.

Pelayanan akademik secara daring atau online bukanlah hal yang baru untuk perguruan tinggi. Hampir seluruh pelayanan administrasi perguruan tinggi di Indonesia dilakukan secara online. Mulai dari data dan riwayat hidup mahasiswa, penginputan nilai, hingga pembayaran SPP atau UKT dilakukan secara online.

Itu semua merupakan upaya digitalisasi oleh suatu instansi pendidikan agar mempermudah pekerjaan para Mahasiswa. Terlebih pada masa pandemi seperti ini, pengurangan aktivitas yang mengharuskan berkontak langsung dengan orang lain merupakan cara yang tepat guna mengurangi penularan virus ini.

Tentu hal ini memerlukan biaya yang cukup banyak dan persiapan yang matang agar fungsi dari pengembangan teknologi tersebut dapat maksimal. Ini menjadi tantangan untuk perguruan tinggi yang belum menggunakan sistem daring didalam pelayanan akademiknya.

Seperti hal yang terjadi di salah satu kampus di Samarinda, Kalimantan Timur, beberapa mahasiswa yang mengurus berkas-berkas akademik (surat aktif kuliah, khs, dsb) dilakukan secara online, akan tetapi selama beberapa minggu berkas tersebut belum di selesaikan oleh layanan akademik.

Tak sampai disitu saja, walau telah menggunakan sistem dan pelayanan daring yang baik, tak luput dari permasalahan-permasalahan yang membuat sulitnya mengakses penggunaan sistem daring ini. Seperti, kendala jaringan internet untuk mahasiswa yang berada di perbatasan atau pedalaman.

Hal demikian menunjukkan bahwa kurangnya kesiapan layanan kampus untuk melayani akademik mahasiswa secara online. Sehingga, bukannya menjadi efektif dan efisien tetapi malah menjadi hambatan untuk menjadikan layanan kampus agar lebih efektif dan efisien.

Dunia akademik tergagap-gagap oleh keadaan yang mengharuskan untuk bermigrasi dari sistem offline menjadi online. Layanan akademik dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam penggunaan teknologi agar terlaksananya proses pendidikan.

Ini merupakan tantangan bagi penyedia layanan akademik kampus agar dapat mengembangkan lagi sistemnya supaya lebih mudah diakses oleh civitas akademika dengan cara memperhatikan keseluruhan aspek yang mungkin akan menjadikan inovasi ini menjadi hambatan.