Penulis
10 bulan lalu · 56 view · 3 menit baca · Cerpen 37238_62186.jpg
rainbow jpg

Pelangi Terakhir di Timur Papua

Ada hal yang tak kuasa langit untuk menolak. Seperti tak kuasanya manusia dijemput ajal. Seperti tak kuasanya waktu berganti waktu. Seperti tak kuasanya malam diselimuti lembab dingin. Termasuk Berto yang tak kuasa mesti menyuka pelangi yang kuasa atas langit selepas hujan.

Berto menyukai pelangi. Ia seorang lelaki indo terlahir di tanah Papua yang sangat percaya tak ada anak tiri dari Ibu Pertiwi. Sebagaimana ia percaya selalu ada pelangi setelah deras hujan datang mengguyur. Hanya ia seorang diri yang percaya. Bahkan teman, kerabat dan kekasihnya sendiri menolak percaya. Tak seorang pun.

Berto betul-betul menyukai pelangi. Ia akan merindukan Pelangi. Ia akan berdoa hujan mengguyur sebab hanya itu alasan pelangi tiba tepat di hadapannya. Berto akan duduk di puncak gunung selepas hujan. Menyendiri. Menyepi. Menulis dan berbicara pada dirinya sendiri.

Di sana, di puncak gunung, selepas hujan, pelangi akan membentang tepat di depan matanya. Tepat di wajahnya. Di sana, tepat di bawah hamparan langit berwarna, Berto menuliskan banyak kisah, tentang Ibu Pertiwi, cintanya, termasuk rencana kematiannya.

***
Bertahun-tahun yang lalu, Berto adalah korban atas kecintaanya terhadap Ibu Pertiwi. Orang-orang Papua akan membenci termasuk memusuhi siapa saja yang mencintai Ibu Pertiwi. Bagi mereka, Ibu Pertiwi adalah penjajah berjubah malaikat.

"Kita harus merdeka. Membentuk negara baru!" Itu yang dipikirkan orang-orang Papua. Tetapi tidak dengan Berto.

Kebencian yang didapatkan Berto mesti ia terima sekaligus pada soal cintanya kepada Jela, kekasihnya. Ia tak diberi alasan untuk mengawini Jela oleh orang tuanya. Jela hanya pasrah. Sebab sikapnya pun berubah ketika mengetahui Berto adalah penghianat sebagaimana dengan berubahnya sikap teman-temannya, kerabatnya. Dan tinggalah Berto sendiri dengan pendiriannya bahwa Ibu Pertiwi tak memiliki anak tiri.

Jela pun kawin dengan lelaki pilihannya. Dan Berto patah hati sejadinya. Bagaimana pun Berto tetaplah pemuda yang tentu melewati fase patah hati. Ambil saja kekasihku semau kalian. Tapi jangan lukai Ibuku, Ibu Pertiwi, kata Berto hendak mengobati luka hatinya.

Dari sanalah mulanya; Berto tak lagi menginginkan kekasih hingga berambut putih, sebab dari kekasihlah ia mengerti patah hati adalah luka yang tak berdarah. Lebih perih dari luka yang sebenarnya.

"Kalian harus percaya, pelangi tiba selepas hujan. Tunggulah!"

"Omong kosong kau, Berto!"

"Kau bukan Chairil Anwar"

"Tak ada penyair semacam kau!"

"Dasar tolol" Dan masih banyak lagi ungkapan sarkastis yang Berto terima.

Berto terasingkan. Ia dianggap hina-dina termasuk pula haram jadah. Sebab ia adalah seorang indo yang tak jelas di mana rimba orang tuanya. Tak ada alasan bagi orang-orang Papua menerima manusia semacam Berto. Demi Ibu Pertiwi, Berto mesti asing di tanah kelahiraanya sendiri.

Meski begitu, Berto tetap menunggu pelangi selepas hujan sebagaimana ia menunggu Ibu Pertiwi membuktikan bahwa Papua bukan anak tiri. Ia akan terus berdoa dan menulis tepat di hadapan sang pelangi.

Satu-satunya harapan yang ia tuliskan terus-menerus adalah ia tak mau mati dengan kebencian yang masih meraja terhadap dirinya dari orang-orang Papua. Kerabatnya, temannya, termasuk Jela yang hingga kini ia masih menganggapnya sebagai kekasih.

***
Musim panas berlalu. Semi pun berlalu. Juga hujan berlalu. Tahun-tahun terus merubah warna rambutnya. Hingga separuh rambutnya habis. Helai demi helai. Berto semakin tua. Tetapi ia masih menolak untuk mati. Sedikit lagi, kata Berto kepada dirinya sendiri.

Orang-orang papua, seluruh warga yang membenci sekaligus memusuhinya, termasuk Jela yang juga telah berumur, berlomba-lomba ke gubuknya, hendak mengabarkan korporasi terbesar yang memperkaya negeri Paman Sam telah jatuh di tangan Ibu Pertiwi sekaligus untuk memohon maaf kepadanya.

Mereka akhirnya percaya dan merasa malu habis-habisan kepada Berto. Di puncak gunung, dihadapan sang pelangi, siluet begitu taat melukiskan nuansa senja. Mereka menemukan Berto terduduk tengah bersandar di gubuknya dan memegang pensil dan bukunya dan tak bernyawa lagi.

Tulisan terakhirnya tepat berada di lembaran terakhir pula. Ia hanya menuliskan singkat:

"Ibu Pertiwi akan datang selepas hujan, bersama pelangi terakhir di Timur Papua" Berto, 2018.

Artikel Terkait