1 bulan lalu · 55 view · 5 min baca menit baca · Gaya Hidup 31089_27739.jpg
Foto: Goalcast

Pelanggaran HAM Gaya Baru

Setiap orang seyogianya bisa menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). Karena hak tersebut bersifat mendasar atau hakiki pada manusia.

HAM adalah hak yang melekat dalam diri manusia semenjak lahir, meliputi: hak untuk hidup, hak untuk menentukan pilihan mengenai keyakinannya, hak untuk menjalani ibadah berdasarkan agamanya, dan lain-lain.

Penghormatan pada HAM tercermin dari individu akan terbebas dari rasa takut, bebas dari perasaan terkekang, serta nyaman dalam beraktivitas. Kita sering kali membaca mengenai bentuk pelanggaran HAM yang berat, misalnya: melakukan genosida terhadap suatu kaum, melakukan penghilangan nyawa secara paksa.

Pelanggaran HAM sesungguhnya bukan hanya mengenai masalah yang besar-besar saja. Ada perihal yang tampaknya sepele, namun hal tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran yang tidak ringan. Pelanggaran HAM ini merupakan gaya baru seiring dengan berkembang pesatnya teknologi.

Kita sering kali tidak menyadarinya karena tingkat 'gagap teknologi' kita yang membuat hal itu seolah tidak terasa atau mungkin kita tahu, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa melawan pada kecanggihan teknologi.

Pelanggaran tersebut adalah melakukan perbuatan 'hacking' yang kerap kali dianggap sesuatu hal yang ringan-ringan saja. Hacker akan melakukan kegiatan hacking kepada targetnya. 

Mungkin saja karena motif 'rasa suka' sehingga ingin mengetahui berbagai aktivitas yang dilakukan orang yang disukainya ataupun apa saja yang berkaitan dengan orang tersebut. Atau justru sebaliknya, melakukan 'spying' untuk mengetahui semua aktivitas dan titik kelemahan dari target sehingga hacker akan memiliki strategi untuk menjatuhkan target.


Aktivitas hacking biasanya tidak terasa dan juga tidak terlihat sehingga disebut kejahatan cyber dan cenderung dimaklumi karena motif yang biasa saja, seperti: stalking mantan karena rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap orang yang pernah disukai.

Padahal, hal itu juga melanggar HAM, meskipun atas motif 'rasa suka' dan ingin mendekati target dengan mengetahui lebih banyak informasi mengenainya.

Sebab, pada dasarnya, setiap individu mempunyai privasi yang harusnya dapat dihormati. Jika si target tahu, meskipun misalnya ia juga suka, belum tentu akan mau menerima perbuatan itu. Atau, jangan-jangan, justru akan berbalik perasaan ketika tahu wilayah privasinya terjajah.

Apalagi dengan kecanggihan teknologi, bisa saja hacker memasukkan software ke dalam perangkat komunikasi yang dipakai target dan kemudian bisa mengawasi semua gerak-gerik target serta mencuri data milik target untuk kepentingannya.

Bermacam-macam cara bisa dilakukan oleh orang yang pintar. Namun sayang, penyalurannya itu yang salah, terutama jika motifnya hanya bersifat dangkal, seperti: rasa suka.

Bagi saya pribadi, 'hacking is always be a bad manner', karena kita punya kehidupan masing-masing, sehingga semestinya tidak perlu dan tidak boleh masuk ke dalam wilayah privasi pribadi orang lain. Walaupun kategorinya adalah hal yang sepele, seperti mendengarkan percakapan telepon target dengan teman atau keluarganya. 

Mungkin hal itu adalah percakapan yang biasa-biasa saja, misalnya: menyebutkan hendak makan di mana dan apa makanan favoritnya, namun pelaku lupa bahwa telepon yang dilakukan antara target dan temannya adalah bentuk privasi pribadi. Ia sesungguhnya tak berhak untuk menguping pembicaraan orang.

Seolah, ia tak peduli akan pelanggaran HAM gaya baru ini karena ia bisa memperoleh banyak informasi dari hal semacam itu.

Bahkan dengan meningkat pesatnya teknologi membuat orang makin pintar untuk berinovasi, melalui kamera yang kecil dan dapat merekam gerak Anda yang kemudian dimasukkan ke dalam software sehingga akan terbaca aktivitas apa saja yang dilakukan meskipun di jarak tertentu, misalnya: sedang berdiri, komputer pelaku akan menyebut 'she is standing' dan lain sebagainya karena ada radar yang merekam.

Untuk motif 'rasa suka' saja, hal itu sudah bertentangan dengan HAM, apalagi untuk motif yang jahat, yaitu mengontrol kehidupan orang lain dan akan membuat hidup orang tersebut selalu dalam kendalinya atau lebih jahat lagi, yakni: dengan mengetahui setiap kelemahan target, maka akan disiapkan cara-cara untuk menjatuhkan orang tersebut.


Kita hendaknya menyadari bahwa hal itu tidak boleh dilakukan, meskipun, misalnya, begitu mudah untuk diterapkan atau gampang untuk dihack. Namun rasa kemanusiaan kita yang harus berbicara kalau itu salah. 

Lagi-lagi, kita hendaknya dapat mengingat bahwa setiap orang punya kehidupan yang tidak perlu kita ketahui secara detail, apalagi sampai mengomentari atau justru mengejek kelemahan orang lain yang telah diketahui dengan mudahnya lewat hacking.

Tidak semua orang bisa jadi selebritas yang ruang kehidupannya banyak diketahui umum, bahkan selebritas juga punya ruang privasi yang ia jaga, apalagi orang biasa. Pelanggaran HAM itu dilakukan dengan hacking sehingga kehidupan orang biasa pun akan bisa ketahuan.

Andaikan tindakan hacking itu terjadi pada saya, misalkan karena ada orang yang naksir, terus terang saja, saya sangat tidak suka akan hal itu.

Jika ia ingin tahu tentang kehidupan saya, sebaiknya mulailah dari pertemanan waktu ke waktu dengan komunikasi yang intens. Hal itu akan lebih terhormat ketimbang mengetahui segala hal mengenai saya dengan cara-cara yang sangat tidak saya sukai ini. Bahkan saya bisa langsung 'ilfeel' jika ketahuan oleh saya.

Bayangkan saya sebagai orang biasa saja jelas-jelas tak suka dengan cara seperti itu, apalagi mungkin untuk orang-orang yang terkenal atau public figure

Begitulah, pelanggaran HAM gaya baru ini sudah menjajah wilayah privasi pribadi sehingga efek psikologis yang terjadi adalah paranoid, misalnya: takut untuk melakukan sesuatu karena merasa selalu diawasi, waswas bahwa semua peralatan komunikasinya dikontrol dan bisa dibajak.

Selain itu, kehidupan kita diketahui banyak orang, sedangkan kita bahkan tidak pernah tahu siapa pelakunya dan bagaimana kehidupannya.

Hacking tidak selalu jelek, hanya perlu penyaluran yang baik. Andaikan hacking dilakukan untuk menyelidiki kasus-kasus korupsi yang merugikan negara, penyadapan telepon dan hacking akan membantu investigasi penyelidik dalam rangka memberantas kejahatan korupsi.

Hal ini tentunya dapat kita maklumi bersama, bukan hacking dengan motif iseng-iseng atau 'rasa suka' demi masa depan. Padahal masa depan kita semua bukan kita sendiri yang mengatur, melainkan Tuhan yang Maha Kuasa.


Karena kita jadi tahu kehidupan orang tersebut dan menilai bahwa dia adalah impian kita karena 'terlalu bagus' sehingga kita jadi tambah suka. Hal ini bisa saja berefek negatif, yaitu: ingin selalu memiliki dan bisa-bisa kita menjadi posesif sehingga tak ingin ada orang lain yang memilikinya. 

Padahal, setiap orang berhak memilih, termasuk memilih pasangan hidupnya sendiri, dengan cara-cara yang seolah target dikekang terus dengan 'permainan tak terlihat tersebut'.

Itu untuk hal yang remeh-temeh, ada motif yang serius, yaitu menyelidiki segala sesuatu tentang orang lain. Mungkin tidak semuanya bertujuan jelek. Ada perusahaan tertentu yang melakukan hal itu dengan tujuan mengetahui rekam jejak atau track record calon pemimpinnya. Namun sayang, di Indonesia ini praktik semacam itu sering kali diselewengkan demi kepentingan diri sendiri.

Orang-orang yang ditunjuk pimpinan untuk melakukan pengawasan bisa melakukan distorsi informasi dan bahkan membuat kesan jelek dengan memotong sejumlah informasi yang terekam dan melaporkan sebagian saja. Tentu hal ini akan membunuh potensi yang sesungguhnya dimiliki oleh target.

Begitulah ekses pelanggaran HAM gaya baru ini. Hal ini bisa kita hilangkan apabila kita sadar bahwa tiap orang punya privasi pribadi yang hendaknya dihormati. Bukan malah melanggarnya, meskipun tak terlihat, tapi tetap saja Tuhan tidak tidur dan malaikat mencatat setiap perbuatan.

Artikel Terkait