Mahasiswa
2 bulan lalu · 372 view · 3 min baca menit baca · Sejarah 18971_13276.jpg
Patung Pattimura, Ambon (TR)

Pelajaran Lain dari Pemberontakan Pattimura

Pelajaran lain dari Pemberontakan Pattimura adalah kecintaan kepada agama yang semestinya terwujud dalam usaha-usaha mempertahankan, merawat, dan memperjuangkan kebaikan hidup bersama.

Thomas Matulessy (1783-1817) adalah seorang tentara berpangkat sersan mayor yang aktif bertugas pada masa kekuasaan Inggris di Maluku. Ia memimpin rakyat Kepulauan Lease menentang restorasi kekuasaan Belanda pada tahun 1817.

Dengan perlawanan bersenjata, Benteng Duurstede direbut dan dikuasai oleh Pattimura dan pengikutnya. Perang yang dimulai 15 Mei 1817 ini di kemudian hari dicatat sebagai “Pemberontakan Pattimura” sesuai dengan gelar yang diberikan rakyat kepadanya.

Pergeseran kekuasaan yang silih berganti antara Inggris dan Belanda adalah pokok persoalannya. Proses ini dapat dikatakan bermula dari Prancis. Segera sesudah Revolusi Prancis tahun 1789, Inggris dan Prancis berperang. Sebagai sekutu Inggris, Belanda diserang dan diduduki oleh Prancis.

Pangeran William V mengasingkan diri ke London. Di sana, ia menandatangani beberapa surat perjanjian yang intinya memperbolehkan Inggris (sekutu mereka) mengambil alih daerah-daerah koloni Belanda untuk menjaganya dari musuh bersama (Prancis).

Perjanjian itu dan perjanjian lain sesudahnya memungkinkan terjadinya pergeseran-pergeseran kekuasaan atas Maluku (1796-1803: Inggris, 1803-1810: Belanda), 1810-1817: Inggris). Semua ini mengikuti dinamika politik dan pasang surut relasi Inggris-Belanda.

Di samping persoalan serius yang inheren dalam kolonialisme, salah satu aspek penting dari Pemberontakan Pattimura adalah bagaimana pergeseran kekuasaan dan implikasinya direspons oleh masyarakat dalam bingkai keagamaan.

Kolonialisme, tidak peduli dari tangan siapa, tetap saja tidak dapat diterima sebagai kebaikan. Namun, perbandingan antara Inggris dan Belanda perlu dilakukan di sini untuk memberi konteks bagi Pemberontakan Pattimura.


Singkatnya, bila harus membandingkan antara Inggris dan Belanda, maka sejarawan seperti Ricklefs (2001: 178) menilai bahwa dalam dua periode pemerintahan Inggris (1796–1803, 1810–17) masyarakat Maluku diperlakukan dengan lebih baik.

Thomas Matulessy sendiri memandang pemerintah Inggris lebih baik daripada Belanda (Noldus, 1984: 123-24). Inggris membayar sepantasnya, meringankan beban kerja wajib, dan membebaskan mereka dari perekrutan tentara yang akan ditugaskan ke Jawa.

Dalam genggaman Inggris, agama diperhatikan. Ini ditandai dengan kedatangan Jabez Carey dan Joseph Kam, dua misionaris besar yang melayani jemaat-jemaat. Kerja-kerja mereka menguatkan pengaruh agama dalam masyarakat. Kondisi yang lebih baik ini akan berakhir jika restorasi kekuasaan Belanda berjalan mulus.

Kecemasan rakyat terhadap restorasi kekuasaan Belanda tersebut mempunyai kaitan kuat dengan isu-isu agama. Hal ini tertulis dalam dalam butir-butir keberatan yang disampaikan Thomas Matulessy dan 21 raja di Kepulauan Lease kepada pihak Belanda pada 29 Mei 1817.

Isu-isu yang berkaitan langsung dengan kehidupan beragama dicatat secara tersendiri oleh Jan S. Aritonang & Karel Steenbrink dalam History of Christianity in Indonesia. Di situ mereka menggarisbawahi tiga hal penting.

Pertama, kecemasan Thomas Matulessy mengenai penghapusan atau pengalihan biaya “guru injil” untuk kepentingan Belanda yang lain, seperti pernah terjadi pada masa Deandels  tahun 1810.

Peran “guru injil” sangat penting dalam dua hal: agama dan pendidikan. Thomas Matulessy melihat restorasi kekuasaan Belanda mengancam peran “guru injil” dan pada gilirannya akan menghancurkan pendidikan dan agama Kristen.

Kedua, penggunaan uang kertas. Dalam tradisi peribadatan Kristen di Maluku, sedekah untuk orang miskin diberikan dalam bentuk uang logam (koin). Kewajiban menggunakan uang kertas dipandang sebagai ketidakpedulian terhadap orang miskin dan tradisi gereja.

Ketiga, desas-desus bahwa Belanda akan memaksa penduduk dari kampung-kampung Islam untuk memeluk agama Kristen (Aritonang & Steenbrink, 2008:385). Thomas Matulessy dan masyarakat Lease, Islam pun Kristen, memberontak melawan ini semua.

Pemberontakan Pattimura, seperti dibahas dalam Making Waves: Worldwide Social Movements, 1750-2005, mengilustrasikan bagaimana sebuah gerakan untuk menjaga institusi agama dapat menjadi gerakan anti-Belanda. Pola ini mirip dengan Perang Padri.


Dengan membandingkan Pemberontakan Pattimura dengan Perang Padri, Van Der Kroef (1962) melihat bahwa sekalipun ada perbedaan, perlakuan Belanda yang menyinggung kehidupan beragama sama-sama menjadi pemicu ketidakpuasan rakyat.

Dalam konteks Pemberontakan Pattimura juga Perang Padri, wajah agama jelas terlihat. Aritonang & Steenbrink (2008: 385) menulis, “Orang Belanda sangat terkejut bahwa agama begitu menonjol dalam menyebabkan pemberontakan.” 

Semangat keagamaan itu masih ditunjukkan oleh Thomas Matulessy menjelang detik-detik eksekusinya. Ia dikelilingi oleh guru-guru injil yang mempersiapkannya menghadapi hukuman mati. Mereka menyanyikan mazmur untuk menghiburnya (Noldus, 1984: 119).

Selama masa pemberontakan, Thomas Matulessy menginstruksikan raja, pati, orang kaya, dan semua orang Kristen supaya rajin ibadah minggu. Ia mengingatkan dengan sangat keras bahwa orang yang tidak melakukannya akan dihukum mati. 

Di samping ancaman berlebihan itu, pelajaran yang cukup relevan kini adalah kecintaan kepada agama seharusnya diwujudkan dalam usaha-usaha memperjuangkan kebaikan bersama, bukan perpecahan.

Artikel Terkait