"Manusia tidak bisa hidup tanpa seni!", ucap Boleslavsky sambil menatap para penonton, sutradara dan aktor kenamaan di Princess Theatre yang merupakan jantung komersial Broadway.

Richard Valentinovich Boleslavsky (1889–1937) adalah sutradara, aktor dan pendidik yang berhasil mengembangkan The System Stanislavsky di Amerika. Boleslavsky berperan penting dalam tiap perkembangan dan penyebaran The System. Di mana ia menjadi satu-satunya murid yang diizinkan oleh Stanislavsky untuk menjadi "guru" System di Amerika. Hal tersebut tentunya karena Stanislavsky melihat bakat dan potensi yang dimiliki Boleslavsky.

Boleslavsky berperan dalam tur Moscow Art Theatre pada 1923-1924 di Amerika. Setelah itu, mendirikan American Laboratory Theatre pada 1923–1930 yang secara reguler mengarahkan pertunjukannya ke panggung Broadway. ALT dianggap mencapai ketenarannya pasca berkolaborasi dengan Max Reinhard dan Gordon Craig dalam menciptakan ansambel panggung yang luar biasa. 

Dalam Journal Review yang ditulis Laurence Senelick (1983), ia menyebutkan kiprah Boleslavsky dalam keaktoran bagus tapi tidak jenius dalam standar Rusia. Namun dalam penyutradaraan, sutradara yang memiliki nama asli Boeslaw Ryszard Srzednicki ini memiliki bakat tingkat tinggi dalam mencipta suasana dan pemaknaan dalam berbagai gaya. Lain daripada itu, Boley (panggilan akrabnya) memiliki keunggulan sebagai pendidik.

Dalam sejarah teater Amerika, Boleslavsky berkontribusi terhadap pedagoginya. American Laboratory Theatre adalah sekolah pertama yang menawarkan pelatihan aktor yang komprehensif. Dia dan Ouspenskaya menyebarluaskan estetika Moscow Art Theatre yang telah dimasak sedemikian lezat untuk disantap generasi muda Amerika. ALT menjadi sarana untuk menekuni Sistem Stanislavsky dan mendalami hukum objektif dari kehadiran aktor di atas panggung.

Tahun 1933, buku Boleslavsky yang diberi judul Acting: The First Six Lessons muncul untuk mendedahkan The System bahkan sebelum tiga volume buku Stanislavsky dicetak. Lee Strasberg, Stella Adler, dll belajar dari Boleslavsky tentang memori emosional, teknik batin, kebenaran panggung dan aksi dramatis. Volume kecil Boleslavsky lahir dari serangkaian artikel di Theatre Arts Monthly yang menjadi ruang kelas vade mecum. Dalam buku tersebut Boleslavsky mengajarkan bagaimana mempersiapkan diri untuk memerankan sesuatu.

Apa saja yang mesti dipersiapkan dan dipelajari oleh seorang aktor?

Pelajaran Pertama : Konsentrasi atau Pemusatan Pikiran

Boley menyebut ini sebagai langkah pertama yang menentukan dalam perkembangan seorang aktor. Konsentrasi adalah kesanggupan untuk mengarahkan semua kekuatan rohani dan pikiran pada sasaran yang jelas dan mampu untuk menjaga kontinuitasnya selama yang kita kehendaki. Sasaran yag tepat bagi seorang aktor adalah sukma manusia (sukma diri sendiri dan orang-orang disekitar). 

Selain itu, konsentrasi juga mengarahkan kita untuk menghadirkan sesuatu yang tidak hadir dalam diri kita. Aktor harus mampu menciptakan kompleksitas perasaan, emosi-emosi yang subtil hingga sentimentil serta suasana yang intens. Kemampuan memusatkan pikiran juga bertujuan untuk penguasaan panca indra bagi para aktor. Hal-hal tersebut akan dapat dicapai oleh aktor melalui pendidikan aktor yang terdiri dari tiga bagian.

Pendidikan yang pertama adalah pendidikan tubuhnya. Satu setengah jam setiap hari dialokasikan untuk latihan-latihan seperti senam, menari, berlatih bela diri, latihan pernafasan, latihan penempatan suara, bernyanyi, pantomim dan melatih diksi. Substansi dari latihan ini memunculkan aktor yang enak dipandang mata dan didengar.

Pendidikan yang kedua adalah yang bersifat intelektual dan kebudayaan. Seorang aktor akan cakap memainkan beragam peran jika ia memiliki pengetahuan kesenian dan kebudayaan yang luas. Boley menginginkan aktor-aktor yang dapat berbicara dan menghayati para penyair dan karyanya, dramawan dan latar belakang ia menulis drama tersebut. Selain itu, para aktor haruslah dapat mengkategorisasi aliran-aliran, sejarah pemikiran dalam dunia kesenian. 

Pendidikan yang ketiga adalah pendidikan sukma dan pelatihannya. Aktor tidak akan mampu berperan dengan baik jika ia tidak menguasai sukmanya dan tidak tahu cara menguasainya. Pelatihan sukma ini meliputi penguasaan seluruh panca indra pada segala situasi yang dapat dibayangkan; penumbuhan ingatan emosi, ingatan pikiran, dan ingatan visual. 

Pelajaran Kedua : Ingatan Emosi

Setiap manusia memiliki ingatan khusus yang selalu mengandung perasaan-perasaan dan emosi tertentu. Ingatan tersebut bekerja sendiri dan tanpa disadari memengaruhi pilihan-pilihan atau tindakan yang diambil dalam hidup. Oleh karena itu, ingatan dan pengalaman menjadi hal yang sangat determinan dalam kerja aktor. Sehingga, aktor harus menemukan cara untuk menggunakan ingatan dan pengalaman yang ada di dalam dirinya.

Bagaimana cara melakukannya? Dalam narasi yang dituliskannya dalam volume kecilnya tersebut ia menyebutkan kata 'memerintah' sebagai kata ganti menceritakan suatu peristiwa. Selama penceritaan itu berlangsung akan sampai pada tahap yang disebut 'mewujud' yakni ketika emosi lampau menampakkan diri dan bermanifestasi menjadi perasaan yang konkret. Lalu, 'menciptakan' sesuatu yang tak ada menjadi ada ke atas panggung melalui emosi tersebut.

Kunci dari ingatan emosi sebenarnya adalah kesadaran akan keadaan di sekitar kita. Kepada muridnya Boley menyampaikan; "Perhatikan segala yang terdapat di sekitarmu. Simpan segala kekayaan dan kepenuhan hidup. Simpan dan susun segala ingatan dan kenangan itu mana tahu akan berguna nantinya."

Pelajaran Ketiga: Laku Dramatis

Laku dramatis adalah apa saja yang diutarakan oleh pengarang di dalam naskah lakon. Laku menjadi tujuan dari dialog-dialog yang harus diperlihatkan dan dimainkan sang aktor. Untuk mencapai laku dramatis ini sang aktor harus melakukan tafsir yang sinergis dengan gagasan sutradara. 

Dalam proses laku dramatis, aktor yang telah menafsir naskah lakon sejatinya memiliki keinginan (tindakan-tindakan, lakuan). Keinginan tersebut diejawantahkan melalui aksi-aksi yang relevan dengan keinginan pengarang. Setiap aksi tersebut disusun dan ditandai oleh aktor yang tujuannya untuk memudahkan melakukan aksi tersebut kapan aksi tersebut dibutuhkan.

Pelajaran Keempat: Pembangunan Watak

Seorang aktor yang ingin berperan dengan baik dan benar tidak cukup hanya dengan menguasai emosi yang dipunyai oleh tokoh yang diperankannya. Aktor harus memberinya suatu bentuk. Ia harus memperlihatkan tokoh tersebut secara fisikal dan hadir dalam dada si tokoh.

Seorang tokoh ketika akan dihadirkan ia haruslah menjadi watak yang semestinya. Artinya ia haruslah bisa dilihat dari segala sisi baik fisik, mental dan emosionalnya. Lain daripada itu, tokoh tersebut haruslah 'unik'. Dalam artian, tokoh tersebut adalah perwujudan manusia yang bersifat individual, berbeda dari yang lain.

Pembangunan watak dilakukan melalui penelitian, penelaahan dan inventarisir ke dalam diri. Contohnya perhatikanlah cara seseorang berjalan, pelajari bagaimana cara ia melangkah, posisi badan, sikap tubuhnya. Gunakan telaahan tersebut sebagai latihan dalam membangun watak. Begitu juga dengan bagian fisik yang lain. 

Pembangunan watak yang berhubungan dengan pemikiran tokoh merupakan hal yang sama sekali berbeda dari pembangunan fisiknya. Boleslavsky menyebut acap kali terjadi kesalahan dalam memerankan tokoh adalah mengikuti pola pikir tokoh. Seharusnya pola pikir pengarang lah yang terlebih dahulu dipelajari karena si pengarang yang memiliki kekhasan pemikiran. 

Pelajaran Kelima: Observasi

Kemampuan mengobservasi akan membantu aktor dalam memahami keadaan dan kejadian yang bersifat alami hingga janggal. Konsekuensi positif dari kemampuan mengamati ini akan membantu aktor membangunkan ingatan serta mengisi memori aktor dengan tindak-tanduk manusia. Dengan bekal tersebut aktor dapat memilih aksi yang tepat dalam berperan.

Latihan observasi untuk keperluan bermain teater dapat dilakukan dengan mengamati semua objek yang berada di sekitar. Khidmati hasil amatan tersebut dan simpan sebagai kepenuhan hidup dan kekayaan pengalaman. Setelah itu, berlatih menceritakan amatan tersebut dan usahakan sedetail mungkin. 

Pengalaman-pengalaman yang telah terakumulasi tersebut perlu diseleksi. Aktor akan memilah dan memilih tindakan dan sikap yang sesuai dengan kebutuhan perannya. Amatan yang terseleksi akan bertransformasi menjadi aksi panggung yang jujur dan tepat.

Pelajaran Keenam: Irama

Irama merupakan operator bagi sebuah pertanyaan besar yang diawali dengan ‘bagaimana’. Secara konkret irama dirumuskan sebagai perubahan-perubahan yang teratur dan terukur dengan segala unsur yang terkandung di dalam sebuah karya teater (dibaca: akting). Dalam rangkaian perubahan tersebut tindakan-tindakan harus merangsang atensi penonton dan sejalan dengan tujuan akhir pertunjukan.

Terdapat tiga tingkatan dalam irama; pertama ialah kesadaran. Seorang aktor harus memiliki kesadaran terhadap diri sendiri, dorongan-dorongan yang berada pada sukmanya. Aktor yang memiliki kesadaran sukma yang baik akan membukakan dirinya atas dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri.

Tingkat kedua, datang saat dorongan-dorongan dari luar merasuk ke dalam diri kita. Dorongan tersebut bisa memunculkan motivasi atau tujuan yang menuntun kita untuk bertindak. Tingkat ketiga lahir dari penguasaan kesadaran atas diri sendiri dan orang lain. Pada tingkat ini, aktor akan mampu menciptakan irama untuk dirinya dan orang lain.

Bagaimana caranya seorang aktor menyadari irama? Bukankah hal tersebut terlalu abstrak untuk dipahami? Boley menawarkan agar aktor mendengarkan musik dan menghayatinya dengan pikiran terbuka. Rasakan setiap dentuman motivasi dan perubahan emosi yang disampaikan musik tersebut.

  1. Sumber Bacaan: 
  2. 1. Enam Pelajaran Pertama Bagi Calon Aktor - Richard Boleslavsky
  3. 2.Boleslavsky–Stanislavsky: Siapa yang pertama? Pengembangan Sistem Stanislavsky dalam pelajaran Amerika Richard Boleslavsky - Sergei Tcherkasski
  4. 3. Richard Boleslavsky; Kehidupan dan Pekerjaannya di Teater - J.W.Roberts