Di setiap peristiwa getir, manusia selalu punya cara untuk mengerdilkan sebuah permasalahan. Cara itu kadang bijak, tidak sedikit yang menggelikan.

Masih lekat di ingatan, tahun ini sudah dua kali saya tersenyum kecut di depan layar gadget saat membaca peristiwa yang hampir sama perihal utang-piutang. 

Yang pertama, pria bernama Rudi Tobing yang lewat Twitter mengunggah foto amplop kosong bertuliskan “Selamat menempuh hidup baru. Maaf kami tidak bisa kasih kado. Biarlah utangmu lunas daripada aku capek nagih”.

Dan yang kedua, unggahan Facebook pria bernama Teja yang telah mengikhlaskan utang sepuluh temannya dengan jumlah nominal hampir 16,5 juta. Ia menulis dengan detail nama, nominal, dan alasan kesepuluh temannya mengutang.

Pokok peristiwa mereka sama, yaitu mencoba mengikhlaskan utang. Sebab, mereka sedang berhadapan dengan para pengutang tebal muka, yang selalu berkelit dan licin seperti belut ketika berusaha dipegang. 

Saya kira, kita pun pernah berada di posisi Rudi dan Teja itu. Tentu, dalam nominal piutang yang berbeda.

Dan sudah pasti, terhadap piutang, kita tidak begitu saja mengikhlaskannya. Namun, ada proses panjang menuju sesuatu yang bernama keikhlasan tersebut. Kita memilih jalan ikhlas sebab alasan yang sama. Karena mulai kesal dengan pengutang tebal muka itu, yang ketika berulang kali ditagih memiliki 1001 alasan.

Padahal, realitasnya, pengutang tebal muka itu kadang mampu menikmati sesuatu yang kita anggap kemewahan. Update status jalan-jalan, otewe-lah, beli ini beli itu, yang kalau dilihat dan dibandingkan dengan wajah melas mereka ketika meminjam uang ya tentu membikin panas hati.

Saya pun kadang merasa jengkel bila teringat tetangga saya sewaktu di rumah kontrakan lama, yang hingga detik ini pun tidak mau mengembalikan uang yang dipinjamnya. Bukan apa-apa, tapi yang membikin heran alasan peminjaman uangnya saat itu, yaitu untuk membeli pulsa karena orang tuanya di kampung halaman meninggal. Padahal, selidik punya selidik, ternyata orang tuanya sudah lama meninggal, jauh hari sebelum waktu peminjaman uang itu.

Atau teman futsal saya, yang selepas meminjam uang, lantas tidak pernah lagi terlihat di lapangan futsal hingga sekarang. Padahal, dia termasuk orang yang berada. Tidak jarang, untuk mengikis rasa jengkel yang timbul itu, kadang saya membayangkan hal-hal yang mampu membuat hati kembali gembira. 

Bahkan, sebagai penggemar film, saya pernah berandai-andai, membandingkan normalnya kita versus pengutang tebal muka itu, menggunakan pengibaratan seorang penonton dalam mencerna adegan film.

Saya mengibaratkan, normalnya kita adalah ketika menonton sebuah adegan film akan khusyuk menangkap gerak-gerik dan tutur kata aktor yang mengandung makna mendalam, lantas membekas dan jiwa kita menjadi kaya.

Tentu, kita bukan seperti pengutang tebal muka itu, tipe penonton yang berpikir bagaimana cara memiliki pakaian mahal yang mirip dikenakan aktor dalam film, agar maunya terlihat kaya. Jelas beda tujuan antara realistis dengan “prestise”.

Artinya apa, kita sering memupus keinginan semu dengan meluaskan syukur dan rasa cukup. Dan seyogianya memang seperti itu hingga lama-lama dada kita makin lapang. Bukan malah memupuk keinginan-keinginan semu hingga merobohkan limit kemampuan dan kantong cuan.

Tentu sudah benar, apabila kita tidak terbiasa mengutang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Lha wong tidak beli barang a, b, c, d itu juga tidak mati kok! Ya nggak?

Soal pamer gaya kita memang amatir. Namun, tidak perlu khawatir. Lebih baik menyeruput kopi dalam cangkir, mendinginkan pikir, sembari sejenak melompat jauh mengingat adegan di salah satu film jadul, yang terkenal dan menghibur, yaitu The Fast and The Furious Tokyo Drift.

Dalam film tersebutterdapat salah satu kutipan yang bunyinya seperti ini, “One car in exchange for knowing what a man’s made of. That’s price I can live with.” 

Masih ingat dengan adegan ituKetika Han menjawab pertanyaan Sean mengenai mobilnya yang dipinjam oleh orang asing, yang kemampuan drifting-nya belum diketahui dan berpotensi merusak mobil. Intinya, Han mempertaruhkan sebuah mobil untuk mengetahui karakter seseorang, dan itu tidak masalah baginya.

Nah, kalau dihubungkan dengan pengutang tebal muka tadi, anggap saja kita adalah Han dengan kearifan lokal yang dipaksa mempertaruhkan harta untuk mengetahui karakter seseorang.

Dengan berat hati, mari kita katakan “ketaker idup lo bos!” kepada pengutang tebal muka itu. Lalu, mau tidak mau, suka tidak suka, suntikkan anestesi terbaik bernama “ikhlasin aja, biar Tuhan yang membalas.”

Toh cuma ini yang bisa kita lakukan. Karena sesungguhnya tidak ada siasat jitu melawan pengutang tebal muka itu, selain mengikhlaskan dan berusaha menertawakannya. 

Kemudian, kita tidak perlu membayangkan menjadi pengutang tebal muka itu secara mendetail, hanya untuk mencari jawaban dari pertanyaan “kok bisa ya mereka begitu?”.

Bagaimana tidak, kita saja sering dihantui perasaan tidak nyaman, saat menerima uang kembalian seorang penjual toko kelontong yang kelebihan seribu perak di kantong keresek belanjaan kita. Lalu, muncul hasrat tinggi bertemu dengan penjual toko kelontong itu melebihi hasrat bertemu kekasih, hanya untuk mengembalikan seribu perak yang ada di kantong tadi.

Poinnya, meski sulit, keikhlasan haruslah murni dan sempurna, dengan begitu secara tidak sadar sebenarnya kita telah menyayangi diri sendiri. Membebaskan perasaan marah, anyel, geregetan, dan semacamnya, artinya kita telah membebaskan satu dari dua kerugian. 

Jangan sampai kekesalan pada pengutang tebal muka itu merampas kebahagiaan dan menjadi kerugian kedua. Karena kerugian pertama adalah lenyapnya uang kita.

Sungguh tidak ada yang salah dengan mengutang. Karena di antara kita pasti pernah menjadi pengutang. Dan, mari berterima kasih kepada diri kita masing-masing. Karena telah menjadi manusia yang bertanggung jawab. Menjadi pengutang yang baik, yang mengembalikan utang dengan melebarkan nominal, atau minimal yang membayar tepat waktu sembari menebar senyuman.

Terakhir, saya ingin meminjam kata-kata bijak dari Ki Hajar Dewantara, bahwa setiap orang menjadi guru. Maka, pengutang tebal muka adalah salah satu guru terbaik dalam pelajaran yang bernama ikhlas. Dan, sudah sepatutnya sebagai seorang murid, saya mendoakan semoga para pengutang tebal muka itu tobat dari sekte moneytheisme-nya.