"Semua keluarga ku tahu aku mencintaimu, dan semuanya menyuruh meninggalkan mu."

Suara itu terdengar lirih, hampir tidak terdengar-bagi orang lain. Tapi bagi ku suara itu menggema di dalam kepala. Respons langsung terbentuk, bergetar di luar kendali, tubuhku memberi perlawanan mendukung luka yang menyayat disuarakan oleh relung hati.


Sepi, jeda terbentuk cukup lama. Aku terus mendongakan kepala, mencoba menahan air mata yang sudah bersiap terjun untuk menghempaskan dirinya ke lantai rumah yang mengkilap. "Berikan aku penjelasan." Suara itu akhirnya keluar dari mulutku setelah melewati berbagai pertahanan, amarah yang mencoba mendesak keluar, dan perasaan takut kehilangan.

"Aku yakin kamu tahu alasannya." Suara Sekar terdengar lirih dan bergetar. Sekar bukan hanya menunduk, tetapi juga terlihat jelas sedang menahan sekuat tenaga membendung air matanya.


Kami sama-sama tidak ingin pisah.



°°°


Namanya Sekar Wardani, yang kalau menyeberang jalan semua orang mengalihkan pandangannya dari lampu merah menuju anggun langkahnya membelah jalan. Tukang siomay keliling pun ikut berhenti memukul irama bambunya. Wanita yang sudah tiga tahun menemani hidupku, memperindah setiap detiknya.

Sore itu pamit untuk mengakhiri segalanya.


Aku siapa?

12 tahun yang lalu aku adalah remaja pada umumnya. Hobi nongkrong, tidak berprestasi, mulai mencoba mencari jati diri. Kadang salah jalan, kadang salah memilih lingkaran pertemanan. Rokok, alkohol, obat-obatan, aku mengenalnya satu persatu sebagai pembuktian aku ingin menjadi bagian dari mereka.


Tidak sulit untuk tertarik kepada Sekar, semua orang yang melihatnya aku jamin terpikat oleh keanggunan sikapnya dan kecantikan parasnya. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa aku yang diterima Sekar? Aku sering besar kepala, semakin lama berada di samping Sekar, aku semakin merasa beruntung. Hingga akhirnya perasaan takut kehilangan mulai merambat perlahan menggerogoti hubungan ku dengan Sekar.


°°°


"Mau sampai kapan?" Pertanyaan itu keluar bersamaan dengan tetesan pertama air matanya.

Wanita mana yang bersedia laki-lakinya punya banyak kebiasaan buruk? Aku pikir tidak satupun, kecuali wanita itu punya lebih banyak kebiasaan buruk.

Ruang tamu menjadi hening, suara gemericik hujan terdengar lirih. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada alunan lagu sendu, hanya suara gerimis dan suara isak tangisnya yang saling tumpang tindih. Mataku semakin memanas, tapi aku yakin bisa menahannya. Menahan diri, menahan gejolak ketidakmampuan ku sendiri.


"Aku berjanji tidak mengulangi nya lagi."

"Apa? Kamu sadar gak sudah berapa kali kamu berjanji? Sudah berapa kali kamu bersumpah? Terus mana buktinya? kapan kamu benar-benar menepatinya?" Suara Sekar kini terdengar marah, nafasnya semakin tersengal-sengal.

Sepertinya semesta berada dipihak Sekar, seakan tahu isi hatinya, petir menggelar mengiringi kata terakhirnya. Hujan semakin deras.

Satu hal yang aku tidak sadari adalah ternyata wanita mesin pengingat waktu terbaik di muka bumi ini. Sekar bahkan hafal sudah berapa kali aku mengingkari janjiku sendiri, aku tidak tahu dia menulisnya di kalender atau memang tercatat dalam kepalanya.


"Baru 2 Minggu kemarin kamu janji gak mabuk lagi, 3 hari yang lalu kamu melanggar nya sendiri." Nafas Sekar semakin memburu, "Ditambah aku mulai gak tahan dengan sifat cemburumu. Kapan terakhir kamu mengatakan janji untuk tidak curiga lagi? Tidak overprotektif lagi? Tidak akan cemburu buta lagi? Baru tadi siang kamu sudah meributkannya kembali. Hanya gara-gara aku pergi dengan sepupu anak angkat paman ku." Sekar terdiam, menatap lantai, menyeka air matanya, mencoba mengatur nafasnya. 


Hujan mulai mereda seakan memberi jeda, kini hanya terdengar air jatuh dari dedaunan satu dua menabrak atap teras rumah.

"Aku gak ngerti lagi." Sekar melanjutkan kalimatnya dengan irama yang lebih baik, "Harus dengan cara apa aku menasihatimu?" Sekar menatapku, bukan untuk bertanya. Tatapan itu lebih kepada tatapan menyerah.

Dari tadi aku hanya menunduk. Aku tahu aku berada dalam posisi serba salah, "Beri aku kesempatan, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji akan memperbaiki diri, aku berjanji akan berubah."


Kami berdua terdiam, kami mencoba saling mencerna. Mencoba memahami perasaan yang menggelora, sengaja memberi jarak agar akal sehat bekerja. Aku menyadari aku salah, aku mengakui aku salah. Dan aku harus memperbaiki diri. Berubah menjadi yang lebih baik di kemudian hari.


Dua puluh lima menit kami terdiam, Sekar kembali mengangkat wajahnya yang sembab "Kamu memang harus berubah, tapi bukan untukku. Kamu harus berubah untuk dirimu sendiri."


Terhentak jiwaku mendengar ucapan Sekar, aku sudah tidak mampu menahan lagi. Tetesan air mata pertama ku jatuh, dua tiga dan seterusnya hanya selisih sepersekian detik jaraknya.

Mengatur nafas sekarang menjadi perkara sulit bagiku, dada terasa sesak, pikiran terasa cekak. "Sudah tidak adakah kesempatan lagi?"

"Aku pikir sudah cukup, lebih baik seperti ini. Kamu menjalani hari, aku juga menjalani hariku sendiri. Aku tidak ingin pisah denganmu, tapi aku juga tidak tahan dengan sikap mu. Ini juga tidak mudah bagiku, tiga tahun bagiku bukan waktu yang sebentar, terima kasih sudah menghabiskan waktu bersama. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu."





°°°


Kalimat Sekar masih terngiang hingga kini, “Kamu memang harus berubah, tapi bukan untukku. Kamu harus berubah untuk dirimu sendiri.” 

Ada jutaan kata motivasi berterbangan di dunia ini, tetapi kalimat itulah yang selalu membakar semangat ku untuk terus memperbaiki diri. Ternyata rasa penyesalan bermanfaat jika ditempatkan pada tempat yang benar.