Ada apa dengan Cinta? Ah, itu sudah terlalu maintstream. Baiknya kita pindah ke sosok yang menyimpan segenap misteri atas aksi yang telah dilakukan mahasiswa ini. Ya, inisialnya RS, umur 20 tahun. Senin (2/5) lalu, tepat pada peringatan Hardiknas ia membunuh seorang Dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Lalu apa motif RS sehingga lelaki muda ini tega membunuh dosennya? Apakah memang untuk balas dendam atau ingin ‘bersuara’?

Memang, jika dilihat dari kacamata nurani, tindakan RS pantas untuk dikecam. Ini perkara berat. Apakah semudah itu saja ia melupakan jasa guru dan dengan kejamnya menusuk leher si dosen untuk menuntaskan dendam kesumat?

Ada apa dengan RS?

Dari hasil pemeriksaan intensif terhadap tersangka sejak Senin lalu, Kapolresta Medan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto mengatakan, dari keterangan pelaku kepada penyidik, motif dari pembunuhan ini adalah rasa dendam.

Ada beberapa faktor. Pertama, pelaku kerap ditegur oleh korban karena tidak membawa buku pada saat belajar di kelas. Kemudian, korban sering menyuruh tersangka ke luar kelas karena mengenakan kaos oblong saat kuliah, dan korban pun juga mengancam akan memberi nilai jelek agar tak lulus untuk Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Ada apa dengan RS?

Apakah tiga alasan itu sudah sangat membakar dendam di hatinya sehingga dengan teganya menghujam pisau di leher, tiga sayatan di tangan kiri, luka di dahinya, serta luka di jari telunjuk kiri dan kelingking kiri si dosen?

Wahai RS, kita itu sama. Saya juga pernah kuliah di kampus keguruan. Malahan semasa kuliah saya teramat sering ditegur dan dimarahi dosen. Sudahlah sering ditegur karena tak membawa buku dan berkaos oblong, saya juga sering dimarahi karena tak mengerjakan tugas, berambut gondrong, celana jeans bolong, pake anting, kadang-kadang bersendal jepit, dan yang paling membuat saya rapuh adalah ketika dosen tak memberikan kesempatan pada saya untuk melaksanakan PPL. Oh ya, saya lupa, yang membuat nasib saya kian memprihatinkan adalah saat saya terpaksa men-DO-kan diri setelah tujuh tahun kuliah. Bayangkan! Tujuh tahun.

Mungkin kita sama, wahai RS. Ada yang memberontak di dada ini melihat sistem pendidikan yang semakin lama seringkali memberikan tekanan pada jiwa. Belum lagi orangtua yang mendesak dengan pertanyaan kapan wisuda?, calon istri yang sudah gelisah menanti, masyarakat di kampung yang mengira saya sudah sukses di rantau, hingga tekanan itu kian menjadi-jadi ketika saya melihat teman-teman seangkatan sudah wisuda semua.

Cuma saya masih mencoba mencari tahu apa motif di balik tindakanmu itu, RS. Apakah yang ada dalam benakmu? Apa yang sedang menggelegak di jiwamu? Kenapa kau memperingati Hardiknas dengan tindakan keji ini? Kebetulan atau ini bentuk dari kemuakanmu terhadap pendidikan?

Saya pun kadang juga merasa aneh, ketika ada dosen yang memarahi mahasiswanya yang tidak membawa buku. Memangnya kenapa? Harusnya dosen memarahi mahasiswanya yang tidak membawa otak ke dalam kelas kan?

Kemudian, kaos oblong. Hal ini pun membuat saya semakin tidak mengerti tentang pendidikan. Apakah penampilan mampu untuk memacu pemikiran? Apakah dengan memakai kaos oblong maka akan terjadi gangguan otak sehingga menjadi tak lancar dalam menerima pelajaran?

Ketiga, ancaman tidak meluluskan dalam mata kuliah PPL. Memang hal ini terasa tak terlalu berpengaruh bagi mereka yang berusaha kuat dan mau menerima keadaan. Tapi bagaimana jika psikologis mahasiswanya acap mengalami gangguan? Gampang depresi dan stres? Atau telah terlalu banyak tekanan yang datang dari orangtua, kekasih, orang kampung dan peradaban yang kian memaksa manusianya untuk bergerak cepat?

Ngomong-ngomong soal tekanan, mungkin beberapa kampus di negeri ini memang demikian adanya. Sistem yang secara tidak langsung telah membentuk paradigma mahasiswa bahwa kuliah adalah tentang ijazah. Semakin lama di kampus, semakin tertekan karena belum juga mendapatkan ijazah. Begitu?

Saya teringat kisah pembantaian Virginia Tech, suatu pembantaian yang terjadi pada dua peristiwa penembakan terpisah yang dilakukan oleh seorang mahasiswa berumur 23 tahun, Cho Seung-Hui pada tanggal 16 April 2007 di Institut Politeknik dan Universitas Negeri Virginia, Blacksburg, Virginia, Amerika Serikat.

Ketika polisi menyelidiki kamar Cho, mereka menemukan sebuah catatan yang melukiskan betapa hidupnya sangat menderita dan rencananya untuk bunuh diri. Dalam sebuah catatan yang ditinggalkannya di pintu kamar asramanya, ia menguraikan daftar keluhannya. Di situ ia mengecam anak-anak kaya, pembual yang jahat dan penipu di kampus itu.

Hal yang sama juga dirasakan Chris Harper-Mercer, pelaku penembakan di Umpqua Community College di kota Roseburg, Negara Bagian Oregon, Amerika Serikat, yang menewaskan sembilan orang pada 1 Oktober 2015 lalu. Ia dikenal penyendiri, penuh kemuakan dalam dada dan sakit mental.

Dua sosok di atas sama halnya. Mereka tertekan dengan segala macam keadaan. Kemuakan yang telah menumpuk dan amarah yang tak pernah terlampiaskan pun akhirnya meledak. Lalu bagaimana jika memang sistem pendidikan masih saja dibiarkan menjadi salah satu pemicu tekanan pada jiwa? Atau sistem telah semakin hebat menekan jiwa, ujung-ujungnya jadi psikopat?

Menurut saya, jika kita mampu berpikir sederhana, semakin lama waktu belajar harusnya semakin membuat otak dapat terisi penuh dengan ilmu. Toh kuliah adalah untuk menggali ilmu agar nantinya bisa menciptakan sesuatu untuk kehidupan masyarakat banyak. Kenapa lulus tak lulus, PPL tak PPL, nilai bagus nilai jelek telah mampu menekan mahasiswa?? Bukankah kita butuh ilmu? Atau apakah begitu berartikah bubuhan-bubuhan nilai di kertas ijazah itu?

Di peradaban yang semakin maju, di saat itu pula sistem dan gaya hidup di masyarakat semakin rumit. Segala hal yang nyatanya sederhana, selalu dibuat rumit dan ujung-ujungnya menciptakan depresi di generasi.

Kadang kita sering gagal fokus dalam berbagai hal. Misalnya, pergi ke kolam renang bukannya untuk berenang tapi malah pelototin gadis berbikini, main ke lapangan bola malah untuk tawuran, ke pustaka hanya untuk numpang Wi-Fi gratis dan masih banyak lagi berbagai tindakan yang hanya menciptakan gagal fokus.

Begitulah. Saya mencoba memahami untuk mendapatkan pelajaran dari kejadian di Medan itu. Semoga arwah dosen yang telah meninggal dunia itu dapat diterima di sisi Tuhan, dan bagi RS, saya masih bertanya-tanya, Ada apa dengan RS?