Bunga yang indah itu dikagumi oleh kumbang-kumbang; hamparan langit itu dipuja-puji oleh gerombolan burung; gumpalan mendung disemogakan lekas turun oleh si katak.

Menyoal kekaguman, dalam hidup selalu ada hal-hal yang menjadi panutan, terutama tokoh idola. Siapa yang menjadi idola pembaca sekalian? Bapak-ibu di rumah, artis terkenal, atau siapa?

Pasti ada alasan 'kenapa mengidolakan sosok tersebut', dan itu rahasia masing-masing. Tak terkecuali aku. Aku memiliki banyak hal-hal yang kujadikan panutan dan alasan-alasan yang pasti kurahasiakan. Tapi, di sini akan kuceritakan rahasia itu kepada para pembaca terkasih.

*

Aku mengagumi tiap-tiap tulisan dan penulisnya. Bagiku, penulis adalah orang yang tidak bisa diam. Dia selalu "berbicara" melalui tulisannya dan menginspirasi banyak orang (pembaca).

Mereka membagikan apa-apa yang mereka rasakan kepada dunia melalui buah pikirnya dalam tulisan itu. Aku mengagumi tiap perspektif berbeda dari tiap orang, gaya penyampaiannya, dan segala keunikan yang membuatku terkesima kehilangan kata-kata.

Tulisan dan penulisnya itu "seksi" sekali. Kenapa? Karena seorang penulis bertanggung jawab menarik minat pembaca; menuangkan kasih (tidak menggurui); jujur tapi tidak menyakiti; tetap menjadi diri sendiri.

Aku teramat kagum kepada tiap-tiap tulisan dan penulisnya. Keberagaman dan keunikan itu nyata. Bagiku, tidak ada benar-salah. Tiap orang memiliki perspektif benar-salah sendiri yang tidak bisa diharuskan menjadi satu sudut pandang saja.

Membaca tulisan dari siapa saja sudah membuatku seperti berdua dengan "kekasih". Ya, tulisan sudah menjadi kekasihku. Kata-kata yang dirangkai dan dilahirkan oleh penulisnya terasa menyejukkan dahaga yang kehausan akan 'apa makna hidup ini'.

Menjadi penulis atau menuliskan sesuatu tidak mudah. Orang hebat itu pasti melewati rangkaian kisah hidup sedemikian rupa sehingga bisa dituliskan dengan begitu memesona. Mereka berbagi makna tentang kehidupan. Pun pembelajaran yang diperoleh sedemikian rupa dari proses membacanya.

Adalah ketidakmungkinan seorang yang tidak membaca akan bisa menulis. Kekayaan kosakata dan isi kandungannya mencerminkan proses membacanya. Sungguh, aku mengagumi tiap tulisan dan penulisnya. Dan, aku ingin bisa berbagi lewat tulisan seperti mereka.

*

Aku mengagumi alam dan budayanya. Tiada habis decak kagumku ketika melihat bintang bertaburan di angkasa. Kerlap-kerlip indah memanjakan mata.

Alam yang kuidolakan selalu ampuh berbisik, "Nikmatilah hidup ini." Selalu ada kekuatan yang diembuskan angin kepadaku; selalu ada kehangatan yang dipancarkan mentari pagi; selalu ada kelembutan dari embun yang diam-diam menetes.

Hujan dan petrichor-nya merelaksasi tegangnya pikiranku diamuk aktivitas hidup. Aroma bebatuan yang disiram air hujan itu menjadi terapi tersendiri untukku. Aku juga mengidolakan suasana tidur ditemani suara hujan. Musik yang alami sekali.

Adakah yang sepertiku? Aku bagai kumbang-kumbang, gerombolan burung, dan si katak yang mengagumi alam. Aku suka bunga-bunga yang menebarkan keindahan bagi yang memandangnya tanpa harapan apa-apa.

Aku suka langit luas yang terbentang entah di mana ujungnya. Saat gelap sekali pandanganku, cukup aku menengadahkan pandangan ke angkasa. Dan, kurasakan hidup begitu indah untuk dikutuki.

Bahkan, aku tidak tega menginjak satu semut pun. Sedih sekali rasanya. Aku merasa, tidak ada bedanya aku sama dia, sama-sama bernyawa. Tidak ada kewenanganku memperlakukan dia seenaknya, meskipun dia seekor binatang.

Dalam hal budaya, aku suka kain batik tiap-tiap daerah, kulinernya, dan adat-istiadat yang berbeda. Bagiku menarik sekali berkenalan dengan hal-hal baru. Sungguh, ini mencerminkan keragaman dan keramahan khas Indonesia.

Tiap aku datang ke budaya baru, mereka menyambut dengan keramahan dan tangan terbuka. Mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupan sehari-hari; menyelami adat-istiadat baru; disuguhi kuliner khas; bagiku luar biasa mengagumkan.

Alam dan budayanya sungguh menjadi salah satu yang kugilai.

*

Sudah tersenyum belum hari ini? Aku mengagumi tiap senyuman. Kenapa? Tidak mudah memberikan sebuah senyum yang tulus kepada orang lain. Pasti butuh olah rasa luar biasa.

Suatu ketika, ada kakek tua yang menjual kerupuk dengan sepeda. Dia tak berhenti memberikan senyuman kepada yang melihatnya. Meskipun belum tentu orang itu membeli dagangannya atau tidak. Bukankah itu olah rasa yang luar biasa?

Ada lagi, nenek penyapu di kampus yang usianya sudah senja sekali. Dia tak pernah memperlihatkan rona wajah letih atau sejenis 'pemberontakan terhadap kehidupan'. Seharusnya dia sudah duduk manis di rumah menikmati sisa hidupnya!

Aku kagum kepada mereka yang sudah berusia senja tapi masih bergelut dengan hidup. Kadang, hatiku seperti teriris-iris melihat perjuangan hidup yang memang butuh diperjuangkan. Apa yang bisa kubantu untuk mereka? Hanya sebuah sapaan dan membeli sedikit dagangannya.

Tidak ada yang bisa kuberikan dalam wujud materi. Tapi, kuberikan rapalan doa yang pasti lebih indah dari materi. Semoga saja, semangatku bertarung di kehidupan ini sekuat mereka, yang tak bisa kubayangkan 'terbuat dari apa hati mereka'.

*

Aku terpesona oleh kesederhanaan. Bagiku, mudah sekali untuk bermewah-mewah, tapi sulit menjadi sederhana.

Menyederhanakan gaya hidup dan sikap, tidak semua orang bisa. Banyak orang hidup dengan harta berlimpah; jabatan; seragam; status sosial mentereng; tapi tetap sederhana.

Kehidupan boleh menerbangkan setinggi langit, tapi kaki masih tetap menginjak bumi. Tanpa bermaksud pelit, memakai apa saja idealnya sehemat mungkin. Misalnya, membuang-buang air ketika mandi alangkah boros sekali, padahal di sudut bumi lain ada mereka yang tidak pernah mandi karena tidak punya air.

Gaya hidup dan sikap tidak hanya memikirkan "mampu"; mampu membeli misalnya. Tapi, bagaimana berpikir ada juga orang-orang yang tidak mampu di hidup ini.

Inilah sedikit rahasia dari hal-hal yang kuidolakan. Aku menyukai seluk-beluk yang lekat di lingkunganku. Bagiku, aku seperti menghirup semangat luar biasa dari kehebatan mereka berteman dengan hidup.