Bali adalah Indonesia!

Indonesia bukanlah Indonesia jika tidak ada Bali. Bali adalah sebuah tempat yang benar-benar menjadi objek wisata yang paling baik; bukan karena alam yang ada, tapi karena kebudayaan penduduknya yang menerima perbedaan dan keragaman, yang sesuai dengan norma-norma yang ada.

Beberapa kali penulis pernah pergi ke Bali, memang di sana merupakan tempat melting pot alias tempat yang begitu ramai dan begitu beragam. Keragaman di Bali menjadi sebuah identitas khas yang dimiliki tempat tersebut, sebagai salah satu archipelago of Indonesia.

Bali adalah sebuah tempat yang disebut-sebut bahkan sebagai tempat tinggal para dewa. Maka Bali memiliki nama lain, Pulau Dewata.

Di sana kita memiliki banyak sekali kekayaan alam. Ada pantai yang begitu eksotis dan indah, ada juga pegunungan lengkap dengan air terjun yang tersembunyi di balik surga kecil yang kita sebut Bali. 

Kebudayaan kuno di Bali yang dilestarikan sampai saat ini juga menjadi sebuah hal yang sangat indah dipandang mata. Tari-tarian yang ada, baik tari kecak yang dimainkan beramai-ramai, sampai dengan tari yang dikerjakan oleh perempuan, yang membuat kita terkagum-kagum melihat mata mereka yang melotot dan bisa begitu indah mengekspresikan budaya Indonesia.

Bali yang indah dengan segala khazanah keindonesiaan yang kaya adalah Bali yang saya kenal. Bukan Bali seperti yang Mbak Lisa katakan! Bali yang katanya tempat ditemukan pelacur dalam jarak satu jengkal pun. Ini adalah sebuah penghinaan bagi Bali. Penghinaan bagi saya, sebagai Indonesia!

Bukan kebetulan Mbak Lisa juga pernah berswafoto bersama Sandiaga Uno. Artinya, Mbak Lisa ini pendukung Prabowo-Sandi dan berbagai rekannya, yakni Anies Baswedan juga, bukan? 

Mbak Lisa, mengapa bisa mengatakan hal yang begitu menyakitkan kami, orang Bali? Orang Indonesia?

Sekarang ini kita melihat bagaimana pilpres sudah memecah belah bangsa ini, dengan ketidakdewasaan salah satu pasangan yang kalah. Sudahlah, tolong jangan kebencianmu terus ada di Indonesia. Kalau memang kalian tidak suka di Indonesia, tolong pindah. Jangan membuat Indonesia makin berbahaya.

Mbak Lisa, kami memberikan apresiasi kepada Anda ketika Anda sudah melakukan japri kepada Mbak Niluh Djelantik, yang sudah melaporkan Anda ke kepolisian. Tapi begini, semua orang, jika diberikan permintaan maaf dan kata damai, ketika the damage has been done, di sana timbul kekacauan alias chaos.

Enak sekali kalau setelah merusak harga diri bangsa ini kemudian minta maaf, dan laporan dicabut? Ini bukan pendidikan yang baik. Seharusnya, kalau memang Mbak Niluh ingin memberikan pelajaran kepada Mbak Lisa yang sudah menghina Bali, laporan biarkan tetap dilakukan.

Jangan berikan kata maaf. Karena kata maaf sudah tidak bisa digunakan lagi untuk orang-orang yang menghina Indonesia. Indonesia adalah sebuah bangsa, yang secara geografi, ada dari Sabang sampai Merauke, termasuk Bali.

Bali adalah Indonesia kecil. Jadi jikalau Mbak Niluh merasa tersinggung, itu adalah hal yang sangat wajar. Jadi, seharusnya keterangan dan permintaan maaf, silakan dilaporkan dan diberikan di kantor polisi. Kantor polisi adalah sebuah tempat yang paling tepat untuk mengklarifikasi.

Ceritalah kepada orang-orang yang bekerja sebagai penyidik kepolisian di polda setempat. Karena jarimu adalah harimaumu. 

Dulu, Adian Napitupulu juga melaporkan dua ibu-ibu pendukung Prabowo karena sudah menyebarkan berita yang merugikan politisi PDI-P ini. Tapi akhirnya, kebaikan hati Adian membuat dirinya mencabut laporan itu. 

Demi apa? Demi efek jera saja. Tapi apakah efek jera itu berhasil membuat pendukung lainnya mereda? Tidak. 

Buktinya adalah Mbak Lisa. Dia sudah menghina orang Bali karena menyebutkan hal yang paling tidak pantas. Sejengkal di Bali langsung menemukan pelacur. Ini adalah penghinaan. Pelacur pun bahkan tidak terima kalau disebut seperti itu.

Saya merasa bahwa ini adalah hal yang harus diteruskan di pihak kepolisian. Agar apa? Agar setidaknya berkurang satu lagi orang-orang yang tidak melakukan saring sebelum sharing di media sosial.

Media sosial adalah tempat apa pun bisa keluar dari pemikiran. Bahkan termasuk tulisan ini. Tulisan ini adalah sebuah refleksi dari kesedihan penulis terhadap makian yang penulis dapatkan, sebagai orang Indonesia, ketika Bali dihina.

Menghina Bali artinya menghina Indonesia. Penulis tidak akan tenang sebelum orang-orang seperti Mbak Lisa ini dididik di dalam kebenaran, sepahit apa pun pil yang harus dia makan.

Yang pasti begini, penulis tidak rela ketika ada orang yang mencoba merongrong NKRI dengan cara menghilangkan dan mencoba untuk merusak identitas. Negara mulai hancur bukan karena dibombardir oleh senjata tempur. Negara mulai hancur karena identitas mereka digerus.

Kita seharusnya belajar dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Identitas mereka tidak pernah luntur ketika ada semangat Pancasila yang dikobarkan. Mbak Niluh, sang pelapor, harus terus mengawal kasus ini. Kami pun tetap mengawal kasus ini.