Bagi sebagian lelaki, Perkawinan laksana rumah hantu di pasar malam; yang berada di luar ingin cepat-cepat masuk ke dalam, sedangkan yang di dalam berebutan ingin cepat-cepat keluar. 

Kalimat di atas tentu saja hanya lelucon, karena saya menemukan kalimat tersebut pun dari sebuah sinetron sitkom. Tapi dengan membaca tulisan ini sampai habis, mungkin kita bisa sampai pada kesimpulan, “Jangan-jangan semua itu benar!”

Alkisah ada sepasang suami istri yang tergolong orang sukses. Sang istri adalah seorang perfeksionis yang selalu menempatkan sang suami di bawah ketiaknya. 

Agaknya dia bukan hanya ratu dalam sebuah ‘negara’, melainkan kepala pemerintahan yang mengatur semua urusan rumah tangga. Mulai dari keuangan yang masuk, pengeluaran, dan lain-lain (dan lain lain itu boleh diartikan urusan ranjang he he he). Semuanya berada di bawah telunjuknya.

Tampaknya tak ada yang aneh mengingat pemandangan ini banyak terjadi di sekitar kita; di mana kaum isteri memainkan peran dominan dalam kehidupan rumah tangga. Namun, yang nampak janggal adalah ketika mereka memiliki tempat tidur bahkan kamar terpisah! (Cerita ini valid karena saya dengar langsung dari penyaksi!).

Saya juga mengenal beberapa istri sejenis yang dominasinya terhadap suami sungguh amat kelewatan. Biasanya dominasi itu dia wujudkan dalam bentuk protektivitas atau kecerewetan yang sudah di ambang batas. 

Begini salah, begitu salah (mirip judul lagu). Dan sikap sang suami sejauh yang saya amati adalah ‘diam tak melawan’, seakan-akan hal itu memang layak diterimanya. Namun benarkah demikian? He he he......

Para suami adalah manusia juga yang terdiri dari otak dan hati yang terwujud dalam perasaan yang tentunya akan berontak bilamana terus tersudut, dikatakan atau tidak!

Bila dikatakan, ya syukur. Tipe lelaki seperti ini biasanya menganggap impas kecerewatan sang istri dengan mengcounternya

Namun, untuk tipe lelaki nrimo, justru ini yang harus diwaspadai. Biasanya lelaki semacam ini melampiaskan dendamnya dengan cara SELINGKUH! Semakin sang istri ‘menzaliminya’, semakin ia merasa mendapatkan pembenaran untuk perselingkuhannya.

Selingkuh dianggapnya sebagai atau cara yang sangat tepat ketimbang ia harus mengeluarkan energi untuk mengcounter kediktatoran sang istri, baik dengan menyakitinya secara lisan ataupun kekerasan fisik. Selingkuh menjadi ajang balas dendam yang ‘menyenangkan’ yang sangat ampuh menjadi antibodi dalam menangkal kecerewetan sang istri.

Laki laki adalah jenis makhluk yang mudah tertarik secara visual. Hal ini bisa jadi adalah kelemahannya.

Saat memutuskan untuk memilih wanita menjadi pasangan, kebanyakan lelaki melibatkan emosi visualnya. Keindahan fisik menjadi prasyarat utama bagi laki laki tipe kebanyakan ini.

Kecerewetan dan kediktatoran seolah tertutupi oleh kecantikan sang istri. Sebagian lelaki malah sangat senang dengan protektivitas dan kediktatoran yang diterjemahkannya sebagai kemanjaan.

Namun, seiring berjalannya waktu, keindahan fisik seorang wanita akan mengalami penyusutan. Sementara sang istri tetap mempertahankan sifat negatifnya tersebut tanpa disadarinya bahwa bargaining powernya sudah tak ada lagi.

Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya satu perselingkuhan. Seperti suami-suami yang saya ceritakan di awal tadi yang semuanya akhirnya melakukan perselingkuhan dengan bermacam versi!

Untuk perselingkuhan sendiri batasannya masih sumir. Saya pernah bertanya pada satu dua wanita yang sudah berkeluarga, mana yang lebih bisa dikatakan perselingkuhan; suami yang sesekali pernah mengunjungi lokalisasi atau suami yang dekat dengan seorang wanita tanpa melakukan hubungan intim? Hmmmmmmmm jawabannya bisa beragam.

Sebelum membias terlalu jauh, kita kembali ke persoalan awal, bagaimana menyiasatinya?

Membina rumah tangga bukanlah proses menyamakan kebiasaan, kegemaran, dan sikap yang jelas berbeda. Namun, mempertemukan perbedaan-perbedaan tadi pada titik tengah kesepahaman.

Kalau bisa diibaratkan, pasangan suami istri bagaikan penjual dan pembeli. Sang penjual diharuskan menurunkan sedikit harga dagangannya, sementara sang pembeli setidaknya harus menaikkan sedikit harga tawarannya.

Sang istri jangan terlalu cerewet dengan kebiasaan-kebiasaan suami yang dibawanya ketika masih berstatus bujangan. Jangan karena kebiasaannya meletakkan baju sembarangan sudah distempel , “dasar jorok!” apalagi sampai membawa-bawa keturunan. Ambillah baju tersebut dan letakkan di tempat semestinya tanpa harus melontarkan kata-kata yang melukai perasaan suami.

Untuk suami, sebelum memutuskan untuk membina rumah tangga, kita tentu saja harus memahami apa kelebihan dan kekurangan calon istri. Sang suami harus menerima semua itu sebagai satu paket tak terpisahkan.

Istri bukanlah bidadari surga yang sama sekali tidak memiliki cacat cela. Ketika di tengah jalan telinga suami menjadi pekak tidak karuan kerana kecerewetannya, hal itu harus diterima sebagai risiko pilihan yang telah melalui bermacam fit and proper test.

Intinya adalah istiqomah, menjalani pernikahan dan menerima jodoh yang diberikan dengan ikhlas tanpa berpikir untuk mengkhianatinya dengan mencari pembenaran. Janganlah menjadi suami ISTIKOMAH*, yang seperti kucing nan suka nyolong ikan bila ditinggal majikannya.