Mahasiswa
1 tahun lalu · 873 view · 4 min baca · Perempuan 13848_50752.jpg
Ilustrasi: victorianweb.org

Pelacur, Ketimpangan Sosial, dan Tuhan yang Tak Main Dadu

Beberapa bulan yang lalu, teman saya sempat bercerita tentang dunia esek-esek, dunia uji coba iman. Tempat pelacuran ia kunjungi bukan untuk menikmati surga dunia tersebut, tapi untuk menguji nyali kekuatan imannya.

Ia sendiri bercerita bagaimana rasanya berkunjung ke tempat yang oleh orang-orang yang tak turun dari masjid dianggap sebagai tempat calon-calon ahli neraka. Dari caranya bercerita tentang seluk-beluk dunia hitam ini, teman saya itu rupanya cukup paham. 

Dalam perbincangan kami di kedai kopi, ia bercerita bagaimana nikmat iman yang ia rasakan begitu nampak ketika berada di tempat yang kotor. Saya pikir memang betul. Intan begitu kelihatan ketika berada di antara lumpur. Dan ia akan tenggelam di antara keserupaan ketika berada di tempat yang semuanya intan.

Sambil lalu menikmati kopi yang sudah dipesan, teman saya cukup piawai bercerita tentang keseruannya bertanya tentang latar belakang wanita-wanita yang ia temui. 

Menurutnya, ada yang begitu menarik ketika mewawancarai mereka. Wanita-wanita yang sudah terjerumus ke dunia kotor itu sangat jujur tentang dirinya. Penyebabnya memutuskan terjun ke dunia esek-esek itu. Tak ada yang ditutup-tutupi. Tidak seperti kebanyakan orang yang mengaku bermoral, tapi kenyataannya tak ada bedanya dengan binatang.

Demi menuntaskan rasa penasaran itu, saya cari buku tentang penelitian dunia pelacuran. Pencarian saya membuahkan hasil. Saya menemukan buku berjudul Agama Pelacur hasil dari penelitian Prof. Dr. Nur syam. Pembahasan tentang dunia pelacuran serta alasan-alasan mereka menjadi pelacur, saya kira begitu jelas pembahasannya di dalam bukunya tersebut.


Berbekal teori dramaturginya Erving Goffman, mantan rektor UIN Sunan Ampel Surabaya ini menganalisis latar belakang dunia pelacuran serta para pelacur itu sendiri. Ada banyak penjelasan di bukunya tersebut. Yang paling menarik bagi saya adalah pembahasan mengenai agama para pelacur itu sendiri.

Setelah tuntas membaca hasil penelitiannya, saya rasa ada yang luput dipotret oleh kaum agamawan itu sendiri atau kita yang menganggap lebih dekat dengan Tuhan, meskipun asing di tengah masyarakat dan permasalahannya. Keinginan mereka untuk kembali pada Tuhan dengan jalan yang benar lebih besar harapannya daripada kita yang sudah terbiasa di lingkungan religius.

Namun, apa mau dikata, maksud hati ingin memeluk gunung, tapi tangan tak sampai. Mereka, lebih tepatnya, dihantui berbagai kebutuhan yang harus dituntaskan. Ketimpangan sosial adalah alasan yang paling menonjol dari berbagai alasan mereka. Mereka terjepit struktur yang tak memihak. Keinginan berlepas diri jepitan itu sudah menjadi keinginan yang didambakan. 

Saya rasa, manusia mana yang tidak ingin hidupnya bahagia? Mereka ingin menjadi manusia bukan setengah manusia, setengahnya robot atau mainan bagi hasrat paling purba yang tak terbendung.

Salah satu hasil wawancara yang dilakukan tim penelitian-mahasiswanya Prof. Dr. Nur Syam, ada seorang pelacur, sebut saja Wiwit, selama bulan Ramadhan, ia menabung amal ibadah. Dia dan teman-temannya yang lain sudah biasa melaksanakan salat tarawih. 

Dari wawancaranya, dia tidak ingin bekerja seperti itu terus-terusan. Menjadi pelacur adalah pilihan di tengah kebutuhan yang begitu banyak dipenuhi. Di Inggris, era industrialisasi, alasan wanita melacurkan diri, tidak lain karena upah yang rendah bagi kaum buruh di tengah kebutuhan yang begitu banyak serta menguras banyak uang. Dengan begitu, struktur yang menjepit adalah kejahatan mengerikan.

Memang, ia tak berdampak pada fisik secara langsung. Tapi, ia cukup ampuh memperbudak manusia. Pemilik modal mana mungkin mau tahu akan hal ini. Ia hanya ingin mendapatkan keuntungan untuk memperkaya dirinya sendiri tanpa melihat ada orang lain di sekitarnya. Akibatnya, yang terjepit secara struktural akan berusaha membebaskan dirinya dengan cara apa pun. Salah satunya menjadi budak seks atau berbisnis esek-esek.

Ketimpangan sosial dan ekonomi serta kaum pemilik modal yang begitu berhasrat mengumpulkan keuntungan tanpa melihat sisi sekitarnya adalah neraka bagi kaum-kaum terjepit seperti pelacur tersebut.


Ditambah lagi, kaum agamawan yang sebatas saleh individual tapi tak saleh secara sosial. Bertuhan tapi tak mampu menyerap sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Lengkap sudah penderitaan bagi kaum-kaum terjepit tersebut. Terlebih lagi mereka dicap sebagai sampah masyarakat, sebuah gambaran bagi kaum-kaum yang sudah berkubang di dunia kotor.

Ada penggalan cerita menarik di buku Cantik Itu Luka gubahan Eka Kurniawan. Ada seorang kiai namanya Jahro, imam masjid yang tidak sudi menyalati Dewi Ayu, karena ia seorang pelacur. Seorang yang dianggapnya sudah begitu kotor, sehingga salat janazah pun tak pantas baginya. Meskipun pada akhirnya ia mendapat teguran dari Rosinah, pembantu setia Dewi Ayu semasa hidupnya. “Sejak ia mati, ia bukan lagi pelacur,” katanya.

Ironi memang. Eka kurniawan menggambarkan masyarakat kita--meski hanya fiksi--tidak begitu manusiawi. Salat jenazah pun mengalami pengkotak-kotakan, Seolah-olah surga seperti tanah kavlingan yang sudah dijual tanpa menyisakan lagi bagi yang tak punya.

Bahkan kematian Dewi Ayu dalam novel seorang alumnus Filsafat di UGM tersebut merupakan kebahagiaan bagi sekitarnya. Kuburannya pun ditempatkan dengan kuburan kaum komunis, penjahat kota, dan lain sebagainya.

Ironis. Ternyata kuburan ada tingkatannya juga. Tingkat kaum saleh dan tak saleh. Seolah-olah Tuhan pernah bilang, sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bagus batu nisannya serta paling dekat kuburannya dengan raja-raja dan ulama.

Pada akhirnya, bincang-bincang itu berakhir dengan kesimpulan: Pelacur sebenarnya tidak hanya yang menjajakan kelaminnya, melainkan juga mereka yang menganggap dirinya paling bermoral, tetapi diam-diam melacurkan data dan kepercayaan rakyat.

Teman saya pun bercanda, “Mungkin Tuhan tak sengaja ciptakan pelacur.” Sebuah sindiran bagi orang-orang yang saleh individual tapi keropos secara saleh sosial. Adakah Tuhan ciptakan segalanya tanpa perencanaan? Tuhan tak pernah main dadu.

Bagaimanapun, pelacur lebih tepat dikatakan sebagai sebuah pembiaran kaum kapitalis terhadap penderitaan kaum yang tak punya. Kejahatan ini bisa dikatakan kejam. Sebab darinya muncul pelbagai permasalahan lainnya.

Saya rasa menjadi pelacur bukan permainan dadu. Tuhan pun tak pernah berfirman demikian. Dia tak seperti peneliti yang berkali-kali mencari kepastian dengan sebuah kepercayaan trial and error.


Artikel Terkait