Saat kita mendengar kata "api", maka yang tergambar di dalam benak kita umumnya adalah panas dan sesuatu yang bersifat membakar. Begitu juga saat kita mendengar kata teh, kopi, gula, air, dan kata lainnya yang bermakna tertentu sebuah gambaran akan hadir di benak kita. 

Pun demikian saat kita mendengar kata "pelacur", maka yang hadir dalam benak kita adalah perempuan pendosa, tidak perawan, kotor, menjijikkan, tidak takut Tuhan, serta segelintir stigma negatif lainnya. 

Hal yang demikian bisa terjadi karena antara kata dan makna diikat oleh suatu hubungan yang sangat kuat. Rincian pembahasan tersebut bisa kita dapatkan dalam pembahasan kajian Logika pada bab "lafadz". 

Kata pelacur sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) jika ditinjau dari sisi nominanya (subjek) dimaknai sebagai perempuan yang melacur; wanita tuna susila; sundal. Sementara dari segi verbanya (perbuatan), yakni melacur diartikan dengan perbuatan hubungan seksual demi imbalan uang dan hal yang lain.

Baik dari segi nomina maupun verbanya keduanya sama-sama mencitrakan hal yang negatif. Tidak salah memang, sebab dilihat dari secara kasat mata aktivitas seorang pelacur memang menggambarkan corak yang seperti itu. 

Mungkin di tempat kita tinggal aktivitas yang sudah pasti berkonotasi buruk di masyarakat itu banyak berseliweran di mana-mana. Atau barangkali kita punya sejumlah teman yang dengan terpaksa memilih untuk menjadi pelacur, maka kita pastinya dengan mudah bisa menyaksikan bagaimana aktivitas mereka setiap malamnya. 

Para pelacur itu akan keluar rumah di malam hari dengan pakaian yang sangat terbuka bersama dengan lelaki yang bahkan berbeda pada setiap malamnya, menuju ke suatu tempat yang sudah ia rencanakan bersama dengan lelaki yang ditemaninya. Tentu saja dengan satu tujuan yang pasti: untuk menyalurkan nafsu syahwat mereka.

Kira-kira demikianlah gambaran umum yang selama ini kita ketahui tentang dunia kepelacuran. Dunia yang hitam, terpinggirkan, dan sangat buruk. 

Sehingga menjadi perkiraan yang sangat bodoh jika menganggap melacur merupakan salah satu profesi yang banyak diminati kaum perempuan. 

Karena sejatinya tidak ada satupun perempuan yang ingin dengan tulus menjual kesucian dirinya. Mereka menjadi pelacur bukan dari keinginan hati mereka. Keadaan lah yang memaksa mereka untuk terjerumus ke dunia kelam itu.

Namun, ada yang perlu diperhatikan utamanya bagi kita yang selama ini menilai pelacur secara serampangan tanpa pertimbangan. Sebagaimana untuk mengetahui detail suatu perkara maka semestinya kita menelusurinya secara mendalam.

Selama ini kita hanya menilai para pelacur dari apa yang mereka lakukan sebagaimana yang kita saksikan. Apa yang kita lihat dari mereka itu pula lah yang menjadi dasar penilaian kita tentang mereka. 

Ironisnya, penilaian kita itu kita anggap sebagai suatu kebenaran yang mutlak dan menjadi baku di benak kita. Padahal sejatinya untuk menilai benar atau tidaknya sesuatu tidak segampang seperti yang kita pikirkan. "Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu." Soe Hoek Gie

Sebuah teori menarik dicetuskan oleh Erving Goffman, seorang sosiolog kelahiran Manville, Kanada 11 Juni 1922. Teorinya itu ia namai dengan Dramaturgi. 

Di dalam teorinya tersebut kita diajarkan untuk tidak seenaknya memberikan penilaian terhadap orang lain. Menurut Goffman dalam teorinya tersebut sehubungan dengan interaksi yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki dua panggung yang saling berlainan. Yang pertama Goffman menyebutnya sebagai panggung depan (front stage), dan yang kedua adalah panggung belakang (back stage). 

Front stage didefinisikan Goffman sebagai sebuah ruang yang bisa dilihat oleh orang lain. Siapapun bisa melihatnya. Namun menurut Goffman front stage tidak lebih dari sekadar panggung tempat di mana seseorang bersandiwara. Sayangnya, justru di panggung inilah yang paling sering dijadikan banyak orang sebagai tolak ukur nilai kepribadian seseorang yang sebenarnya. 

Sementara mereka tidak tahu bahwa setiap orang ternyata juga punya satu panggung lagi, yakni back stage, sebuah panggung yang dimaknai Goffman sebagai ruang yang hanya bisa diketahui oleh pemiliknya sendiri. Di panggung inilah penampakan jati diri seseorang yang sesungguhnya hadir. Di mana bagi orang lain tidak ada satupun yang memiliki akses untuk memasukinya.

Tak terkecuali dengan para pelacur, dalam kaitannya dengan interaksi sosial mereka terhadap orang lain, mereka juga memiliki dua panggung Dramaturgi yang dicetuskan Goffman, yakni front stage dan back stage. Namun karena back stage mereka tidak seterbuka dengan front stage mereka---sebagaimana yang sudah disebutkan bahwa back stage setiap orang merupakan ruang privat mereka masing-masing---membuat penilaian kita terhadap mereka hanya berkutat pada sisi front stage saja, tempat di mana mereka bersandiwara. 

Akibatnya, yang kita tahu tentang pelacur tidak lebih dari sebagai perempuan pendosa, kotor, tidak suci lagi, penikmat nafsu dunia, ahli neraka dan seabrek predikat negatif lainnya yang dengan seenaknya kita sematkan padanya.

Padahal bisa saja tanpa kita duga back stage mereka justru malah berbicara sebaliknya. Di balik aktivitas seks bebas yang mereka lakukan ternyata ada kebaikan yang hadir yang selama ini tak terjangkau oleh kita. 

Bisa jadi lidah mereka tidak pernah luput dari menyebut asma-asma-Nya yang suci saat kesunyian yang hanya menjadi teman mereka. Boleh jadi hati mereka tidak pernah lalai untuk berharap kepada-Nya dengan memohon agar tetap diberikan kesempatan untuk kembali kepada jalan-Nya. Semuanya bisa terjadi tanpa kita sangka.

Sebuah buku yang menurut saya cukup menarik mendukung pernyataan saya itu. Judulnya adalah "Agama Pelacur". Ditulis oleh Prof. Dr. Nur Syam, M.Si seorang guru besar sosiologi. 

Di dalam buku tersebut diceritakan sejumlah kisah para pelacur di balik peran kontroversial mereka di mata masyarakat. Penulisnya seolah ingin meyakinkan kepada kita bahwa apa yang kita nilai selama ini tentang kepelacuran adalah keliru. 

Salah satu stigma negatif yang paling dominan tumbuh di kepala banyak orang mengenai para pelacur ialah bahwa mereka tidak takut kepada Tuhan. Mereka tidak beragama. Namun tuduhan itu pun akan seketika terbantahkan saat membaca buku yang ditulis oleh seorang yang saat ini masih menjabat di IAIN Sunan Ampel itu. 

Kisah-kisah dari beberapa pelacur itu merupakan hasil wawancara kepada mereka yang dikemas dengan menarik. Dari hasil wawancara itu dapat disimpulkan tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar lupa dengan Tuhan sebagaimana yang kebanyakan orang tuduhkan. Mereka masih menyempatkan diri untuk tetap beribadah kepada-Nya. 

Ada yang mengaku masih bisa mengaji meski kadang-kadang, masih melaksanakan shalat, masih ikut tarawih berjamaah saat bulan Ramadhan tiba, berzakat, bersedekah, bahkan ada juga yang masih ingat kisah-kisah para Nabi, serta beberapa ritual ibadah lainnya yang masih tetap mereka laksanakan. 

Maka benarlah apa yang tersebut di belakang sampul buku "Agama Pelacur" itu bahwa pelacur juga punya bahasa tersendiri dalam berdialog dengan Tuhannya.  

Di balik penampilan mereka yang penuh sensualitas ada energi spiritualitas yang tetap menggema dalam diri mereka. 

Demikianlah Tuhan yang kehadiran-Nya tak terbatasi oleh apapun. Tuhan ada di mana-mana, tak terkecuali dalam diri setiap manusia, bahkan pada diri seorang pelacur sekalipun. "Aku percaya apa yang disebut Tuhan adalah sesuatu yang ada dalam diri kita semua." John Lennon