“… but, never associate your identity only to your job. You are much more than your career or bussiness” (tetapi, jangan pernah mengaitkan identitas anda hanya dengan pekerjaan anda. Diri anda jauh lebih dari sekadar karier atau bisnis anda).

Sepenggal kalimat di atas adalah salah satu kalimat favorit saya, kutipan paragraf yang merupakan bagian dari tujuh poin yang disematkan oleh Hany Gungoro dalam tulisannya, Job is not a Carreer - Pekerjaan Bukanlah Karir, yang dijabarkan dalam websitenya, paxcis.com.

Tulisan yang menarik, dan saya mendapat kesempatan untuk mendengarkan pembahasan tentang tulisan ini yang dibawakan langsung oleh Hany Gungoro sendiri sebagai pembicaranya pada salah satu seminar daring.

Pembahasan tentang bedanya pekerjaan dan karir merupakan salah satu topik utama yang dibicarakan dalam seminar daring ini. Definisinya kurang lebih memiliki arti yang sama seperti yang sudah banyak ditulis juga pada artikel-artikel penulis lain dengan topik dan tema serupa.

Pekerjaan adalah sesuatu yang kita lakukan untuk menghasilkan uang, sebagai mata pencaharian, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan karir mempunyai makna yang lebih dalam. Karir adalah jalan yang harus anda temukan, pelihara, dan komitmenkan dengan tujuan tertentu. Karir bukanlah hanya sekedar memiliki pekerjaan yang kita sukai.

Topik tentang pekerjaan dan karir bukanlah tema favorit saya. Namun kalimat di atas, 'jangan mengaitkan identitas anda hanya dengan pekerjaan anda', menggugah minat saya untuk mendengarkan lebih lanjut penjelasan yang dipaparkan oleh seorang Hany Gungoro.

***

Kebanyakan dari kita, menganggap pekerjaan yang kita lakukan adalah bagian dari identitas kita. Dan contoh paling dekat yang terjadi dengan saya adalah ayah saya sendiri.

Bertahun-tahun lamanya ayah saya bekerja sebagai kepala gudang di sebuah pabrik. Bisa dikatakan, bekerja di gudang bukanlah menjadi pilihan pekerjaan yang disukainya. Ayah saya melakukan pekerjaan tersebut karena hanya hal itulah yang dia tahu, hanya hal itulah yang bisa dia lakukan saat itu, untuk menghidupi kami sekeluarga.

Bekerja di gudang sudah dilakukan ayah saya sejak masih usia muda. Dan karena sudah melakukannya sekian lama, maka jabatan terakhirnya adalah kepala gudang, namun tidak pernah lebih tinggi dari itu. Entah mungkin karena tingkat pengetahuannya yang terbatas atau mungkin juga karena idealismenya tinggi. Entahlah, tidak pernah diceritakannya atau dibahasnya dengan kami, keluarganya.

Lalu, ketika tiba saatnya pensiun, ayah saya menjadi bingung. Tiba-tiba saja ia seperti kehilangan pegangan. Hidupnya berubah drastis, menjadi kehilangan semangat, kehilangan kepercayaan diri karena merasa predikat yang selama ini melekat pada dirinya sudah tidak ada lagi. Statusnya bukanlah lagi sebagai seorang kepala gudang. Ia menjadi seperti kehilangan jati diri, kehilangan identitasnya. Dan kalimat “Papa sudah bukan siapa-siapa lagi….”, menjadi kalimat yang paling sering diucapkan ayah saya selama beberapa tahun terakhir masa usianya.

Ayah saya, dirinya pribadi, identitasnya sebagai 'seseorang', tidak ada kaitannya dengan pekerjaan yang dilakukannya. Jabatannya, statusnya sebagai ‘seorang’ kepala gudang, hanyalah label yang tersemat padanya karena pekerjaannya, karena sesuatu yang dilakukannya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun ayah saya terjebak dalam perannya sendiri sebagai kepala gudang, yang membuatnya tidak siap ketika status tersebut sudah tidak ada lagi padanya.

***

Hal-hal yang terjadi seperti pada ayah saya itulah yang berusaha disampaikan oleh Hany Gungoro, seorang Financial and Carreer Consulta- Konsultan Finansial dan Karir, baik dalam tulisan-tulisannya maupun dalam setiap seminar daring yang diadakannya. Ia berusaha menekankan pentingnya untuk menyadari sejak awal bahwa identitas, jati diri seseorang, jauh lebih berarti, lebih dalam, lebih bermakna, dan jauh melampaui status pekerjaan, karir maupun bisnis apapun yang akan atau sedang dilakukan. Diri pribadi seseorang adalah jauh melampaui batas angka – it is beyond number, tulisnya.

Dan sekarang ini, di masa pandemi seperti yang sedang terjadi saat ini, ketika banyak orang yang mulai kehilangan pekerjaan regulernya dikarenakan situasi dan kondisi ekonomi yang sedang bergejolak, maka kemampuan untuk menyadari tentang identitas diri yang sering terperangkap dalam peran pekerjaan, karir dan bisnis, menjadi sesuatu yang terasa penting dan sangat berarti.

Kehilangan pekerjaan, kejatuhan karir maupun bisnis secara tanpa diduga pastinya terasa sulit. Apalagi jika terjadi disaat kita baru saja memulai suatu pekerjaan ataupun saat bisnis yang kita jalani sedang dalam masa tahap pengembangan. Situasi yang tidak mudah untuk dialami, untuk dihadapi.

Namun situasi apapun atau yang bagaimanapun yang sedang terjadi pada keadaan kita saat ini, janganlah dijadikan sebagai suatu alasan untuk kehilangan juga identitas diri sendiri. Betul, memang benar jika ada yang berpendapat bahwa hal ini adalah hal yang mudah untuk dituliskan, dikatakan berulang kali, namun terasa sulit ketika dijalankan. Iya, cukup setuju pada bagian kata sulit tapi bukan berarti tidak bisa atau tidak ada jalan sama sekali.

Saya berkata demikian karena saya sendiripun sedang menghadapi hal yang sama disaat sekarang ini, kejatuhan karir dan bisnis, dan sedang berusaha untuk tidak mengulang apa yang telah terjadi pada ayah saya, kehilangan status pekerjaan, kehilangan juga identitas diri.

Karenanya, kalimat 'jangan mengaitkan identitas anda hanya dengan pekerjaan anda', menjadi begitu berarti untuk saya. Dan hingga saat inipun saya masih dalam proses untuk belajar, untuk mencerna dan menyadari lebih dalam arti dari kalimat tersebut.

Dengan saya belajar menulis, ikut kelas menulis seperti sekarang ini, merupakan bagian dari proses pembelajaran yang sedang saya lakukan. Proses untuk menumbuhkan kemampuan, untuk menyadari identitas diri saya sendiri, yang tidak melekat pada pekerjaan, karir atau bisnis apapun yang mungkin telah hilang dari saya sekarang ini, disaat ini.

Catatan sumber kutipan : Beyond Numbers by paxcis.com,reinventing your successful career and boasting your reputation. Hany  Gungoro, CFA (Linkedin)

Penulis,

Ika Lewono