Tadi siang Bu Dewi, memberiku pekerjaan rumah. Bu Dewi menyuruhku untuk menulis dan menceritakan pekerjaan kedua orang tuaku, tugas tersebut seharusnya sangat mudah. Apalagi, bercerita dan menulis merupakan keahlianku. Sejak balita orang tuaku selalu menceritakan banyak hal. Terkadang, kedua orang tuaku menceritakanku kisah kancil yang nakal. 

Sejak aku kecil, orang tuaku sering sekali membelikanku buku warnai-warni. Karena seringnnya, bahkan aku punya rak bukuku sendiri. Sejak kecil aku juga dibiasakan oleh orang tuaku untuk menulis diary. Makanya, aku senang sekali saat diberikan tugas oleh Bu Dewi. 

Karena Mama sedang tidak ada di rumah, maka aku minta tolong Papa untuk menemaniku dan membantuku mengerjakan tugas dari Bu Dewi. Sambil memainkan ponselnya, Papa duduk tepat disebelahku.

Pertama-tama, aku mengerjakan dari yang paling mudah dahulu. Aku akan menceritakan tentang pekerjaan Papa. Dulu aku pernah bertanya kepada Papa, katanya Papa berkerja sebagai PNS di pemerintahaan daerah. Kerjanya, aku kurang tahu ngapain saja. Tapi, kata Papa berhubungan dengan surat-surat izin.

Papa punya jadwal yang pasti. Pukul 07:30 pergi ke kantor, dan pulang sekitar pukul 17:20. Papa melakukannya setiap senin hingga jumat. Kadang-kadang, Papa pulang hingga larut malam saat aku sudah terlelap. Sesekali papa juga pergi ke luar kota. Jika ke luar kota, Papa sering memberiku oleh-oleh mainan baru.

Saat berkerja, Papa selalu menggunakan seragam berbentuk kemeja. Seragam yang Papa gunakan selalu tampak rapi, dan licin, seperti baru saja disetrika. Sebelum berangkat berkerja, Papa juga selalu menyisir rambut tipisnya hingga klimis. Kata Mama, saat hendak berangkat kerja, Papa selalu terlihat manis. 

Papa juga pandai memasak, makanan yang dimasak tidak kalah dengan makanan restoran. Saat Mama tidak berada di rumah, Papa yang selalu memasak dan menyiapkan makanan. 

Jika Papa yang Memasak, sudah pasti aku akan menghabiskan setiap makanan yang disajikan. Papa bilang aku tidak boleh membuang makanan, nanti nasinya bisa nangis sesegukan, kasihan.

Sekiranya cukup cerita tentang Papa. Selanjutnya, aku akan menceritakan tentang pekerjaan Mama. Tapi, aku sedikit bingung akan harus memulainya darimana. 

“Ada apa, Nak? Kok bengong?” Papa yang tiba-tiba bertanya.

“Ah, tidak ada apa-apa, Pa. Aku lagi mikir aja.”

Sulit sekali rasanya menceritakan pekerjaan yang dilakukan Mama. Terkadang, Mama bisa di rumah dalam waktu yang cukup lama. Tapi terkadang, Mama juga bisa pergi jauh dalam waktu yang lama. Setelah kembali, wajah Mama biasanya terdapat luka, dan lebam.

“Pa, pekerjaan Mama itu sebenarnya apa?” 

“Lho, kamu kan tahu pekerjaan Mama.”

“Iya, aku cuma bingung cara menceritakannya saja.”

Papa bercerita panjang lebar tentang pekerjaan yang dilakukan oleh Mama. Sekarang, aku tahu, apa yang harus aku ceritakan.

Sejak Mama kecil, ia sudah terbiasa berlatih ilmu bela diri. Dahulu di kampung, Mama berlatih ilmu silat. Latihan tersebut rutin dilaksanakan seminggu tiga kali, dan Mama dilatih langsung oleh Paman. 

Saat SMP, Mama harus pindah ke Bekasi. Di sekolah, Mama ikut ekstrakulikuler taekwondo. Hingga ketika SMA, Mama diperkenalkan MMA (bela diri campuran) oleh teman sekolahnya. Saat itu, memang MMA sedang menanjak kepopulerannya. Seketika, Mama jadi rutin berlatih MMA.

Awalnya sebagai hobi, lama kelamaan keterusan. Hingga akhirnya Mama mulai rutin ikut kompetisi MMA. Awalnya, memang hanya kompetisi regional kecil-kecilan. Tapi,  karena Mama sering menang, Mama jadi mendapatkan tawaran untuk berkompetisi di Singapura.

Di rumah, sabuk yang didapatkan oleh Mama dipajang pada ruang keluarga. Semua anggota keluarga, bangga akan prestasi Mama. Aku juga berharap agar Mama dapat berkompetisi di UFC. Ituloh, promotor MMA terbesar, dan sudah pasti paling bergengsi. 

Ketika Mama pulang selepas pergi berkerja, terkadang aku senang sekaligus sedih. Senang, karena bisa kembali bertemu Mama setelah sekian lama. Sedih, karena biasanya Mama pulang dengan luka, dan lebam pada wajahnya. Mama, juga harus pergi mengunjungi dokter untuk mengobati wajahnya itu.

Ketika di rumah, Mama melakukan berbagai hal. Mulai dari membersihkan rumah, hingga rutin berlatih. Mama, biasa berlatih di sasana setiap hari. Aku, terkadang ikut berlatih bersama Mama. 

Hingga saat ini, aku mahir dalam melancarkan serangan jab, uppercut, dan hook. Mama bilang, serangan tersebut hanya boleh dilakukan untuk melawan orang jahat.

Untuk melatih otot-ototnya, terkadang Mama mengangkat beban yang sangat berat. Aku dilarang oleh Mama untuk melakukannya. Mama takut kalau mengangkat beban berat, aku malah tidak bisa bertambah tinggi. Sekarang, aku jadi penasaran, jika berkelahi siapa yang lebih hebat, antara Mama atau Papa.

“Kalau misalkan Papa dan Mama berkelahi, siapa yang menang?” Tanyaku kepada Papa.

“Mama. Karena Mama itu orang yang hebat, kalau ada apa-apa dia yang akan menjaga kamu,” jawab Bapak.

“Kalau Mama lagi tidak berada di rumah, siapa yang jaga?"

“Bapak yang jaga, tapi Mama kamu tetap lebih hebat.”

Nanti malam Mama akan bertarung. Mama akan memperebutkan gelar juara interim. Aku tidak bisa menonton Mama, karena pertarungannya dilaksanakan terlalu malam. Selamat berkerja, Mama.